mendidik anak

​*CARA CERDAS MENGHUKUM ANAK*
*Oleh: Dr. Jasim Muhammad Al-Muthawwa’ (Pakar Parenting dari Kuwait)*
Cara cerdas menghukum anak?
Seorang ibu berkata: “Saya memiliki dua orang anak, pertama berusia 6 tahun dan yang kedua 9 tahun, saya bosan terlalu sering menghukum mereka karena hukuman _(iqob)_ tidak ada manfaatnya, kira-kira apa yg harus aku lakukan?”.
Saya berkata: “Apakah anda sudah mencoba metode memilih hukuman?

Ibu tersebut menjawab: “Saya tidak  paham, bagaimana itu?”
Saya jawab: “Sebelum saya jelaskan metode ini, ada sebuah kaidah penting dalam meluruskan perilaku anak yang harus kita sepakati, bahwa setiap jenjang usia anak memiliki metode pendidikan tertentu. Semakin besar anak akan membutuhkan  berbagai metode dalam berinteraksi dengannya. Namun, anda akan mendapati bahwa metode memilih hukuman cocok untuk semua usia dan memberikan hasil yang positif”. 
Sebelum menerapkan metode ini kita harus memastikan, apakah anak melakukan kesalahan karena tidak tahu (tanpa sengaja), jika kondisinya seperti ini tidak perlu dihukum namun cukup diingatkan kesalahannya.
Tetapi jika kesalahannya diulangi atau melakukannya dengan sengaja, kita bisa menghukumnya dengan banyak cara diantaranya tidak memberinya hak-hak istimewa, memarahinya dengan syarat bukan sebagai pelampiasan( balas dendam) dan jangan memukul. 
Kita juga bisa menggunakan *Metode Memilih Hukuman*.
Idenya begini, kita meminta anak duduk merenung, dan  memikirkan tiga jenis hukuman yang diusulkan kepada kita seperti: tidak diberi uang jajan, tidak boleh bermain ke rumah temannya selama seminggu, atau tidak boleh menggunakan handphone selama sehari. 

Kemudian kita pilih salah satu untuk kita jatuhkan padanya.
Ketika tiga hukuman tidak sesuai dengan keinginan orang tua, contohnya: tidur, atau diam selama satu jam atau merapikan kamar, maka kita minta dia untuk mencari lagi tiga hukuman lain.
Ibu ini menyela: “Tapi kadang hukuman-hukuman yang diusulkan tersebut tidak memberi efek/tidak membuat anak sadar juga!”
Saya katakan: “Kita harus membedakan antara _ta’dib_ (mendidik) dengan _ta’dzib_ (menyiksa)!”.
Tujuan _ta’dib_ adalah meluruskan perilaku yang salah pada anak dan ini butuh kesabaran,  pengawasan _(mutaba’ah)_, dialog dan nasehat yang terus-menerus.
Sedangkan berteriak didepan anak atau memukulnya dengan keras, ini _ta’dzib_ bukan _ta’dib_; karena kita menghukum anak tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan tapi berlebihan, sebab disertai dengan marah. Disebabkan kita banyak tekanan hidup lalu kita lampiaskan kepada anak dan anak jadi korban. Kemudian kita menyesal setelah menghukum mereka atas ketergesaan kita.
Kemudian saya berkata: Saya tambahkan hal penting, ketika anda berkata kepada anak anda: Masuk kamar, merenung dan dan pikirlah tiga jenis hukuman dan saya pilihkan satu untukmu.  sikap seperti ini adalah merupakan pendidikan _(ta’dib)_ untuk sendirinya karena ada dialog batin dengan dirinya, antara anak yang melakukan kesalahan dengan dirinya. Ini merupakan tindakan yang baik untuk meluruskan perilaku anak dan memperbaiki kesalahan yg telah diperbuat.
Si Ibu berkata: “Demi Allah, ide yang bagus, saya akan coba”.
Saya bilang: “Saya sendiri telah mencobanya, bermanfaat dan berhasil. Banyak juga keluarga yang mencoba menerapkannya dan ampuh juga hasilnya”.
Karena ketika anak memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Maka sesungguhnya kita telah menjadikannya berperang dengan kesalahannya, bukan ketegangan dengan orang tuanya, disamping kita bisa menjaga  ikatan cinta orang tua dengan anak.
Selain itu kita telah menghormati pribadi anak dan menjaga kemanusiaannya tanpa menghina ataupun merendahkannya.
Siapa yang merenungkan metode _ta’dib_ Rasululllah _shallahu ‘alaihi wa sallam_ terhadap orang yang melakukan kesalahan maka akan didapati bahwa beliau menta’dib dengan menghormati, menghargai dan tidak merendahkannya.
Kita menemukannya dalam kisah wanita Ghamidiyah yang berzina dan minta di rajam, salah seorang sahabat mencelanya lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh dia telah bertaubat, andai (taubatnya) dibagikan dengan penduduk madinah, niscaya mencukupi”.

Sikap menghormati pelaku kesalahan harus tetap ada selama dalam proses _ta’dib_.
Si ibu tadi pergi dan kembali lagi setelah  sebulan. Dia bertutur: ” Metode ini benar-benar ampuh diterapkan pada anak-anak saya, sekarang saya jarang emosi, dan mereka memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Saya berterima kasih atas ide ini, tapi saya mau bertanya dari mana anda mendapatkan metode cemerlang ini?”
Saya jawab: “Saya ambil dari metode Al-Qur’an dalam mendidik _(ta’dib)_.
 Allah _subhanahu wata’ala_memberikan tiga pilihan hukuman kepada orang yang melakukan dosa dan kesalahan, seperti kafarat bagi orang yang menggauli istrinya disiang hari bulan Ramadhan, kafarat sumpah dan kafarat lainnya, yaitu: memerdekakan budak, atau puasa atau memberikan sedekah. Syariat Islam memberikan tiga pilihan bagi pelaku kesalahan ini. Metode mendidik yang sangat indah”.
Ibu berkata: “Jadi ini metode pendidikan Al-Qur’an?”
Saya jawab: “Betul, sesungguhnya Al-Qur’an dan As-Sunnah memiliki banyak metode pendidikan yang luar biasa dalam meluruskan perilaku manusia, baik anak kecil maupun orang dewasa; karena Allah yang menciptakan jiwa-jiwa dan Dia lebih tahu apa yang pantas dan metode apa yg cocok bagi jiwa-jiwa tersebut. Metode mendidik sangat banyak diantaranya ‘metode memilih hukuman’ yang telah dijelaskan”.
Lalu si ibu tadi pergi dalam keadaan bahagia memperbaiki anak-anaknya dan bertambah cinta pada rumahnya.
*#KAF Surabaya#*

| Meninggalkan komentar

zaman midern

​_Inilah gambaran masa depan kita jika e-KTP , BPJS, Kepolisian, Perbankan Sudah Berjalan Efektif dan seluruh data sudah terintegrasi Dalam satu Data Base._
Contoh kejadian jika kita memesan pizza.
_Rekaman percakapan telepon pemesanan pizza_
_*Operator:*_ 

_”Terima kasih anda telah menghubungi Pizza Hut. Ada yang bisa saya bantu?”_
_*Konsumen:*_ 

_”Saya mau pesan pizza, Mbak.”_
_*Operator:*_ 

_”Boleh minta Nomor KTP anda?”_
_*Konsumen:*_

_”6102049998-45-54610″_
_*Operator :*_

_”Oke Pak Ujang, dari database kami, Bpk tinggal di Jl. Merpati No 6, Tlp Rumah 021829256378, Tlp Kantor 021666535872673, dan nomor HP 0818763784022.”_
_*Konsumen:*_ 

_”Betul Mbak…Apa saya bisa pesan Seafood Pizza?”_
_*Operator:*_ 

_”Menurut kami, itu bukan ide yang bagus Pak. Dari medical record Bpk, Bpk punya tekanan darah tinggi dan kolestrol yang berlebihan. Mungkin saat ini Bpk bisa memesan Low Fat Hokkien Mee Pizza.”_
_*Konsumen:*_ 

_”Dari mana anda tahu kalo saya bakal suka itu?”_
_*Operator:*_

_”Hm…minggu lalu Bpk baru pinjam buku dengan judul “Popular Hokkien Dishes” di Perpustakaan Nasional.”_
_*Konsumen:*_ 

_”Oke terserah… sekalian saya pesan paket keluarga, jadi berapa semuanya?”_
_*Operator:*_ 

_”Total semua Rp. 290.000,-“_
_*Konsumen:*_

_”Boleh saya bayar dengan Credit Card?”_
_*Operator:*_ 

_”Bpk harus bayar cash, kartu kredit Bpk tampaknya sudah over limit dan Bpk masih punya utang di bank sebesar Rp. 5.350.000,- sejak bulan Juni tahun lalu, itu belum termasuk denda tunggakan kredit mobil Bpk.”_
_*Konsumen:*_

_”Ya sudah kalo begitu, saya ke ATM dulu ambil uang sebelum tukang antar pizza datang.”_
_*Operator:*_ 

_”Dari data Bpk, sepertinya itu juga nggak bisa Pak. Record Bpk menunjukkan bahwa batas penarikan uang di ATM Bpk sudah habis untuk hari ini.”_
_*Konsumen:*_ 

_”Busyet…! Sudahlah anterin aja pizzanya kesini, saya akan bayar cash disini, dan berapa lama pizza diantar sampai ke rumah?”_
_*Operator:*_ 

_”Sekitar 45 menit Pak karena jalanan tampaknya sedang padat. Tapi kalo Bpk tidak mau menunggu, Bpk bisa mengambilnya sendiri dengan motor bebek butut Bpk.”_
_*Konsumen:*_

_”Waduuuuuh kurang ajar si Mbak menghina!”_
_*Operator:*_ 

_”Di data terlihat Bpk memiliki motor bebek thn 1995 dengan Nomor Polisi B-217-AN. Betul kan, Pak?”_
_*Konsumen:*_ 

_”Sialan…nggak sopan loe buka2 record gue, kamu blom pernah ngerasain ditonjok ya?”_
_*Operator:*_ 

_”Oh hati2 dan jaga ucapan Bpk. Apa Bpk lupa pada 15 Mei 2010 Bpk pernah di bui 3 bulan karena mengucapkan kata2 kotor pada polisi?”_
_*Konsumen:*_

_”Bujug buneng nih manusia satu!”_
_*Operator:*

_” Ada yang lain Pak?”, oh ya pak.bpk kemaren di luar kota ada urusan dgn KUA ya, karena didata bpk sdh tercatat di 3 KUA, apakah ibu dirumah sdh tau ?_
_*Konsumen:*_

_”Kaga ada. Batalin aja pesanan gue…!!!” Dan awassss jangan bilang istri gua yg terakhir ya…_
Begitulah jika eKTP sdh diberlakukan seluruh negeri n terintegrasi dengan semua pusat data._ 

 

 Memang gampang hidup di jaman modern ?_

??😂😂😂😂😂😂😂😂😩 _

| Meninggalkan komentar

hijab indines7a

​”Hijab itu budaya Arab! Bukan budaya Nusantara!” | wets, ternyata yang ngomong begini belum memahami budaya asli Nusantara dengan baik dan menyeluruh 😁
Perkenalkan, ini adalah Rimpu, pakaian tradisional wanita Bima, Nusa Tenggara Barat. Rimpu ini ada dua, yaitu Rimpu Mpida dan Rimpu Colo.
Rimpu Mpida adalah Rimpu yang ada cadarnya, menutupi wajah si wanita. Biasanya wanita yang memakai Rimpu Mpida ini masih belum menikah.
Sedangkan Rimpu Colo adalah Rimpu yang tiada cadar. Biasanya dipakai oleh ibu-ibu atau mereka yang sudah menikah.
Yang membuat hijab syar’i ini begitu khas ialah bahannya, karena kain yang dipakai sebagai khimar (kerudung) dan jilbab (gamis) ialah kain sarung khas Bima, namanya sarung Nggoli.
Begitulah, bisa kita rasakan pengaruh Islam sangatlah kuat terhujam dalam budaya Nusantara. Jadi yang mengatakan bahwa “hijab budaya Arab” ialah mereka yg liberal dan terkotakan dalam pemikiran sempit warisan penjajah.
Fyi, bahkan dulu para wanita keraton Kesultanan Yogyakarta pada berhijab. Adapun pakaian kebaya dan kemben, dulu adalah pakaian yang dipakai oleh budak-budak yang dikirim oleh Raja Bali untuk sultan-sultan di Yogya sebagai hadiah.
Namun setelah kekalahan pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1830), budaya barat yang dibawa penjajah kafir Belanda sangatlah kuat merasuki kehidupan di keraton, sehingga bisa kita lihat, hari ini ‘sebagian’ budaya kita jauh dari kata syar’i.
Namun, orang-orang kafir itu tidak sanggup menghancurkan syari’at dan budaya kita secara sempurna. Buktinya, budaya syar’i peninggalan Kesultanan Bima masih berbekas hingga zaman sekarang.
Lah kok sepi pengedukasian tentang budaya kita yang satu ini yah? Jujur saya juga baru tahu belum lama ini. Malah yang lebih ditonjolkan adalah budaya-budaya kita yang jauh dari syari’at.
Yah, begitulah tantangan zaman🙂 yg pasti bisa kita simpulkan, bahwa:
#hijabsyari, tren sepanjang masa. Dulu, kini, dan nanti. Kapanpun, dimanapun.Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

.

| Meninggalkan komentar

mengkapling ustad

​[14/8 6.07 AM] Ibnu Suroso: Majelis Ilmu Farid Nu’man:

🍃🌺Maaf .. Dia Bukan Ustadz Sunnah🌺🍃
💦💥💦💥💦💥💦💥
Sangat menarik melihat perkembangan da’wah Islam di Indonesia. Semarak dan sangat massif. Banyak sekali perkembangan termasuk perkembangan media da’wahnya. Di antaranya penggunaaan medsos. Tapi, ada yang unik jika kita perhatikan, yaitu polarisasi dan kubu-kubuan antar harakah, jamaah, dan majelis ta’lim semakin terasa. Sehingga tipis perbedaan antara aset positif ataukah bahaya laten. Barang kali ini sisi lain dari maraknya da’wah medsos tersebut. Sangat nampak jelas dan telanjang.
Termasuk di antaranya, penggunaan istilah-istilah untuk menunjukkan identifikasi, misalnya sebutan “ustadz sunnah, pengajian sunnah, radio sunnah,” dan semisalnya. Ini identifikasi yang bagus jika untuk menyemangati para penuntut ilmu agar mencintai, mempelajari, dan menjalankan sunnah Nabi ﷺ dan tidak salah dalam mengambil ilmu agama. Tapi, kenyataan yang berkembang istilah ini menjadi sebuah sandi atau kode hizbiyyah (fanatisme) segolongan umat Islam atas kelompoknya, dan peremehan atas yang lainnya. Ustadz mana pun yang sudah masuk lingkup “Ustadz Sunnah”  -entah apa baromaternya istilah ini- maka posisinya aman; nasihatnya akan didengar, kajiannya akan dihadiri, faidah darinya akan diapresiasi, walau kapasitas ilmiyahnya biasa saja.
Ada pun yang tidak masuk dalam lingkup “Ustadz Sunnah” dalam ukuran mereka, maka dia tereliminasi, dipandang sebelah mata, ditinggalkan, padahal dulunya bisa jadi dia begitu diminati, walau dia termasuk seorang ustadz yang memiliki kafa’ah syar’iyah yang luar biasa. Kenapa bisa begitu? Ya itu tadi, dia bukan (lagi) “Ustadz Sunnah,” barang kali dia  ustadz mubah, bahkan ustadz makruh …
Semoga Allah ﷻ lindungi kita dari fanatisme tercela ini .., dan mampu memandang sesama muslim, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagai saudara dan teman seperjuangan.
Wallahu A’lam
🍃🌾🌸🌴🌺🌷☘🌻
✏ Farid Nu’man Hasan

📡 Join:  bit.ly/1Tu7OaC

[14/8 7.33 AM] Yudi Smada: Meskipun sudah puluhan kali membaca ini, saya ndak bosen bacanya … 
*WAKTU KITA*
*🕯Waktu sedang  “Jaya*”,  kita merasa banyak teman di sekeliling kita
*🕯Waktu sedang  “Berkuasa*”,  kita percaya diri melakukan apa saja
*🕯Waktu sedang  “Tak Berdaya*”,  barulah kita sadar siapa saja sahabat sejati yang ada
*🕯Waktu sedang  “Jatuh*”,  kita baru sadar selama ini siapa saja teman yang memperalat dan memanfaatkan kita
*🕯Waktu sedang  “Sakit*”,  kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting,  jauh melebihi harta
*🕯Manakala  “Miskin*”,  kita baru tahu jadi orang harus banyak memberi/menderma dan saling membantu
*🕯Masuk  “Usia Tua*”,  kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan
*🕯Saat  “di Ambang Ajal*”,  kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia sia
*🕯Hidup tidaklah lama*.

Sudah saatnya kita bersama sama membuat

*HIDUP LEBIH BERHARGA* : 

Saling menghargai, 

Saling membantu,

Saling memberi,

Saling mendukung, dan

Saling mencintai
*🕯Jadilah teman setia tanpa syarat*

Tunjukkanlah bahwa kita masih mempunyai Hati Nurani yang tulus 

Apa yang ditabur itulah yang akan dituai
*🕯Allah tidak pernah menjanjikan*

bahwa : langit itu selalu biru,  bunga selalu mekar,  dan mentari selalu bersinar
*🕯Tapi ketahuilah bahwa Allah* : 

Selalu memberi pelangi di setiap badai. 

Memberi senyum di setiap air mata.

Memberi kasih sayang dan berkah di setiap cobaan,  dan

 Jawaban di setiap doa.
*🕯Jangan pernah menyerah*, 

Terus berjuanglah,  Life is so beautiful and colourful.
*🕯Hidup*

Bukanlah suatu tujuan,  melainkan sebuah perjalanan
*🕯Saudaraku*

Indahnya hidup bukan karena banyak orang mengenal kita,  namun berapa banyak orang yang bahagia karena kita.
Semoga bermanfaat..

| Meninggalkan komentar

waktu

​Meskipun sudah puluhan kali membaca ini, saya ndak bosen bacanya … 
*WAKTU KITA*
*🕯Waktu sedang  “Jaya*”,  kita merasa banyak teman di sekeliling kita
*🕯Waktu sedang  “Berkuasa*”,  kita percaya diri melakukan apa saja
*🕯Waktu sedang  “Tak Berdaya*”,  barulah kita sadar siapa saja sahabat sejati yang ada
*🕯Waktu sedang  “Jatuh*”,  kita baru sadar selama ini siapa saja teman yang memperalat dan memanfaatkan kita
*🕯Waktu sedang  “Sakit*”,  kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting,  jauh melebihi harta
*🕯Manakala  “Miskin*”,  kita baru tahu jadi orang harus banyak memberi/menderma dan saling membantu
*🕯Masuk  “Usia Tua*”,  kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan
*🕯Saat  “di Ambang Ajal*”,  kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia sia
*🕯Hidup tidaklah lama*.

Sudah saatnya kita bersama sama membuat

*HIDUP LEBIH BERHARGA* : 

Saling menghargai, 

Saling membantu,

Saling memberi,

Saling mendukung, dan

Saling mencintai
*🕯Jadilah teman setia tanpa syarat*

Tunjukkanlah bahwa kita masih mempunyai Hati Nurani yang tulus 

Apa yang ditabur itulah yang akan dituai
*🕯Allah tidak pernah menjanjikan*

bahwa : langit itu selalu biru,  bunga selalu mekar,  dan mentari selalu bersinar
*🕯Tapi ketahuilah bahwa Allah* : 

Selalu memberi pelangi di setiap badai. 

Memberi senyum di setiap air mata.

Memberi kasih sayang dan berkah di setiap cobaan,  dan

 Jawaban di setiap doa.
*🕯Jangan pernah menyerah*, 

Terus berjuanglah,  Life is so beautiful and colourful.
*🕯Hidup*

Bukanlah suatu tujuan,  melainkan sebuah perjalanan
*🕯Saudaraku*

Indahnya hidup bukan karena banyak orang mengenal kita,  namun berapa banyak orang yang bahagia karena kita.
Semoga bermanfaat..

| Meninggalkan komentar

renungan kemerdekaan

​*Renungan Kemerdekaan*

*Ustadz Abdullah Haidir Lc.*
Kira-kira…

Saat dahulu mujahidin Indonesia berjuang mengusir penjajah, apakah teriakan takbir yang kerap mereka lantangkan ataukah teriakan merdeka..?
Kira-kira…

Nilai-nilai apakah yang paling ampuh menggelorakan semangat juang para mujahid saat mengusir pemjajah? Nilai agama atau nasionalisme..?
Kira-kira… 

Tokoh-tokoh inspirator perjuangan mengusir penjajah di berbagai pelosok tanah air, ulama atau artis..?
Kira-kira…

Negara-negara mana yang sangat tulus menginginkan kemerdekaan bangsa kita saat itu…

Negeri-negeri Islam atau negeri-negeri  imperialis salibis?
Kira-kira…

Jargon para mujahid kita saat mengusir penjajah dahulu… “merdeka ataoe mati” atau *“hidup mulia atau mati syahid”…?*
Kira-kira…

Inpirasi perjuangan para mujahid kita mengusir penjajah didapat sepulang mereka dari Mekkah atau dari Washington dan London?
Kira-Kira…. 

Basis-basis perjuangan para mujahid kita saat mengusir penjajah, masjid atau night club? Pesantren atau bioskop? Surau atau discotic?
Kira-kira… 

Yang paling cepat merespon seruan jihad mengusir penjajah saat itu santri apa anak band?
Kira-kira… 

Yang kini paling diharapkan arwah para mujahid pengusir penjajah, lantunan doa tulus atau nyanyian dan joget di panggung dangdut…?
Tulisan ini bukan untuk mengungkit masalah SARA… hanya agar diketahui bahwa *tanpa Islam dan kaum muslimin…negeri ini bukan apa-apa* 
_Maka.._

_Menjadi ironis dan ahistoris, jika setelah merdeka, teriakan takbir menjadi asing dan ditakuti sedangkan nilai-nilai agama justru dicurigai.._
_Maka..,_

_Menjadi ironis dan ahistoris, jika setelah merdeka bukannya membesarkan Allah, tapi justru mengagungkan materi dan jadi kacung imperialis…_
_Maka…,_

_Adalah ironis & ahistoris jika setelah merdeka para ulama yang menjadi inspirator jihad melawan penjajah diabaikan bahkan dilecehkan…_
Catatan kelam Bani Israel, ingin merdeka dari Fir’aun, minta pertolongan Allah dan taat terhadap Nabi Musa, namun setelah merdeka, Allah diingkari, Nabinya pun dimusuhi…
*_Selamat merdeka negeriku, moga kau makin sadar, darimana, apa, bagaimana dan untuk apa kemerdekaan itu….!!_*

Dipersembahkan oleh:

http://www.iman-islam.com

| Meninggalkan komentar

pendendam

​Pelajaran yg sangat berharga di Hari Kemerdekaan RI ke 71 Thn

▶Komarudin Hidayat*

“‘*”BANGSA INI DIBANGUN OLEH BAPAK-BAPAK BANGSA YANG TIDAK  PENDENDAM”.*
_Perhatikan komentar Buya Hamka atas pemenjaraan dirinya oleh Bung Karno, *”Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”*_
_Meskipun secara politik berseberangan, Soekarno tetap menghormati keulamaan Hamka. Menjelang wafatnya, Soekarno berpesan, *“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku…”*_
_Meskipun banyak yang tak setuju, Buya Hamka dengan ikhlas memenuhi wasiat Soekarno memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu._
*Bangsa ini dibangun oleh para negarawan yang tegas tapi santun …*
_Karena kritiknya yang tegas pada Orde Baru, Mohammad Natsir bersama kelompok petisi 50 dicekal. Natsir dilarang untuk melakukan kunjungan luar negeri seperti mengikuti Konferensi Rabithah Alam Islami. Bahkan Natsir tidak mendapat izin untuk ke Malaysia menerima gelar doktor kehormatan dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Pulau Pinang._
_Di balik kritik yang ia lancarkan, ia tetap bersikap santun. Misalnya pada beberapa kali perayaan Idul Fitri, ia selalu saja hadir dalam acara silaturahmi di kediaman Soeharto di Cendana, meskipun keberadaannya seringkali tidak ditanggapi oleh Soeharto saat itu._
_Bahkan bukan hanya bersikap santun, ia secara sadar juga turut membantu pemerintahan Orde Baru untuk kepentingan pemerintah sendiri. Misalnya, ia membantu mengontak pemerintah Kuwait agar dapat menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi._
*Bangsa ini berdiri karena para founding fathers yang toleran dan penuh empati …*
_Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum Masyumi setelah Mohammad Natsir, hidup sangat sederhana bahkan tak punya rumah. Ketua Umum Partai Katolik Indonesia, IJ Kasimo berinisiatif menginisiasi urunan untuk membelikan rumah bagi Prawoto._
*Bangsa ini besar karena kesederhanaan pemimpinnya.*
_Bung Hatta pernah punya mimpi untuk membeli sepatu Bally. Dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Ia kemudian menabung, mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepatu idaman tersebut._
*Namun, apa yang terjadi ?* 

_Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Uang tabungannya terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik._
*Bangsa ini kokoh karena pemimpinnya menjunjung fairness …*
_Ketika hubungan Soekarno dan Hatta merenggang, beberapa orang yang pro Soekarno tidak mencantumkan nama Hatta pada teks proklamasi. Soekarno dengan marah menegur, *“Orang boleh benci pada seseorang ! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta !! Tapi menghilangkan Hatta dari teks proooklaamaasii, itu perbuatan pengecut !!!”.*_
*Hari ini kita menentukan apakah bangsa ini jadi pemenang atau pengecut.*
*Jadi besar atau kerdil.*
*Jadi pemaaf atau pendendam.*
*Jadi penuh empati atau suka menghakimi.*
*Jadi penyebar damai atau penebar fitnah.*
_Yang akan menentukan masa depan bangsa ini bukan hanya siapa yang terpilih, tapi juga bagaimana sikap pendukungnya._
_*Bukan hanya menghargai siapa yang menang, tapi juga mengapresiasi mereka yang berjiwa besar menyikapi kekalahannya.*_
*SELAMAT HARI ULANG TAHUN KEMERDEKAAN INDONESIA KE 71… MERDEKA*

*Tokoh.

| Meninggalkan komentar