Imam ahmad

📖 Kisah Singkat Tentang Imam Ahmad yang Penuh Ibrah

Imam Ahmad rahimahullah  bepergian dari Makkah pada tahun 199 H ke Yaman dan beliau ditemani dalam safarnya tersebut Yahya bin Ma’in, dan Ishaq bin Rahawaih rahimahumallah, di mana mereka bermaksud menemui seorang  hafidz San’aa yaitu Abdurrazaq bin Hammam.

Imam Ahmad telah merasakan kelelahan yang sangat dalam perjalanannya tersebut hingga bekal telah habis sehingga beliau tertahan selama tiga hari tidak makan, dan bekerja bersama para (penggembala) onta karena kebutuhannya yang sangat mendesak disamping beliau berkeinginan untuk berbuat iffah (menjaga kehornatannya dengan tidak meminta-minta)

Akan tetapi setelah merasakan semua kelelahan tersebut beliau berkata:

(ما أهون المشقة فيما استفدنا من عبد الرزاق)

“Sungguh terasa sangat ringan kesusahan (tersebut) setelah mendapatkan faidah-faidah (ilmu) dari Abdurrazaq”.

Saudaraku para penuntut ilmu, lihat dan perhatikan ungkapan (imam Ahmad) tersebut dengan baik, lalu ulangi kembali untuk merasakan (makna yg tersirat di dalamnya)…

Sungguh mereka para imam mendapatkan apa yang telah mereka dapatkan dari ilmu dan kebaikan adalah dengan penuh kesabaran, bertahan dan siap menanggung segala beban berat dan aral rintangan serta tidak cenderung untuk segera istirahat dan berhenti (dari menuntut ilmu). Semoga Allah ta’ala merahmati mereka, mengangkat derajat mereka, dan mengumpulkan kita bersama bersama mereka di surgaNya.. amiin.

📚 Diterjemahkan dari tulisan Syaikh DR. Ahmad Al-Khalil حفظه الله تعالى
✒ Oleh: Andri Abdul Halim Al_Khalil, Lc.

●┈»̶•̵̌✽ஜ۩۞۩ஜ✽•̵̌«̶┈●
📮Join Channel @MuliaDenganSunnah di Telegram : https://goo.gl/X2h0P7
FB : https://www.facebook.com/mulia.dengan.sunnah
📚 WA MULIA DENGAN SUNNAH
081381173870 Admin

| Meninggalkan komentar

Langka

Motivasi sore
LANGKA

Yang langka itu…
Istri yg tunduk patuh pada suami.
Yg senantiasa berseri2 saat dipandang.
Yg ridha terdiam saat suami marah.
Tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara.
Tercantik di hadapan suami.
Terharum saat menemani suami beristirahat.
Tak menuntut keduniaan yg tidak mampu diberikan suaminya.
Yang sadar bahwa ridhaNya ada pd ridha suaminya.
.
Yang langka itu…
Suami yg mengerti bahwa istrinya bukan pembantu.
Sadar tak melulu ingin dilayani.
Malu jika menyuruh ini itu krn tau istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah.
Yg tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang krn sadar itulah resiko hadirnya amanah2 yg masi kecil.
Yg sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya.
Yg rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga krn rasa sayangnya thd istrinya yg kelelahan.
.
Yang langka itu…
Anak lelaki yg sadar bahwa ibunya yg paling berhak atas dirinya.
Yg mengutamakan memperhatikan urusan ibunya.
Yg lebih mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anak2nya.
Yg sadar bahwa surganya ada pd keridhaan ibunya.
.
Yang langka itu…
Orang tua yg sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya.
Yg selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tdk menyuruhnya kpd perkara munkar.
Yg sadar bahwa keridhaan Allah bagi anaknya telah berpindah pd ridha suaminya.
.
Yang langka itu…
Seorang ibu yg meskipun tau surga berada di bawah telapak kakinya.
Tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tsb saat anaknya ada kelalaian thdnya.
Yg selalu sadar bahwa mgkn segala kekurangan pd anak2nya adalah hasil didikannya yg salah selama ini.
Yg sadar bahwa jika dirinya salah berucap atau doa keburukan maka malaikat akan mengijabah doanya.
.
Yang langka itu…
Anak yg senantiasa mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dlm keheningan sepertiga malam terakhir.
Meskipun sehari hari dlm kesibukan rumah tangganya.
Dalam kesibukan usahanya.
Dalam kesibukan pekerjaannya.
.
Yang langka itu…
Orang orang yg saling memberikan uzur.
Yg saling memaklumi jika hal2 di atas lupa atau lalai dilakukan.
Sehingga saling memaafkan diantara mereka.
Maka rahmat Allah berada diantara mereka.
Dan Allah dgn kemurahanNya memaafkan kesalahan2 mereka.
.
Barakallaahu fiikum

| Meninggalkan komentar

Merlari atau jalan

Berlari atau Berjalan?

Dua bulan ini, hampir setiap hari saya memberikan training di berbagai perusahaan dan di berbagai kota. Saat lelah mendera, tiba-tiba saya mendapat kiriman nasihat via Whatsapp dari guru spiritual saya. Isinya tentang kapan saatnya kita berjalan, berlari, berlomba dan bersegera. Isi pesannya saya sampaikan dibawah ini.

Jamil anakku, kitab sucimu Al Qur’an sudah mengajarkan kepadamu, kapan saatnya kamu berlari dan kapan saatnya kamu berjalan. Untuk urusan kebaikan, kamu harus banyak BERLOMBA sebagaimana ada dalam surat Al Baqarah ayat 148 yang artinya, “Maka BERLOMBA-LOMBALAH dalam berbuat kebaikan.”

Adapun untuk memohon ampunan, perintah-Nya adalah BERSEGERALAH. Lihatlah surat Al Imron ayat 133 yang artinya, “Dan BERSEGERALAH kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju Surga. Maka bersegeralah bertaubat wahai anakku karena dalam ribuan langkahmu pasti ada satu atau dua langkah yang salah.”

Untuk urusan taat kepada Allah perintahnya adalah BERLARILAH DENGAN CEPAT. Coba segera simak perintah Allah swt di dalam Al Qur’an surat Adz-Dzaariyat ayat 50. Pesan disitu berbumyi, “Maka BERLARILAH kembali ta’at kepada Allah.”

Sedangkan urusan menjemput rezeki perintahnya adalah BERJALANLAH. Cobalah hayati makna surat Al Mulk ayat 15 lalu pahami. Bunyinya, “Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka BERJALANLAH di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizkinya.”

Jamil anakku, kesibukanmu memberikan training itu termasuk mencari rezeki, urusan kebaiakan atau urusan taat kepada Allah? Apabila hanya urusan mencari rezeki maka kamu sangat rugi karena seharusnya kamu berjalan tetapi kamu justru berlari dan berlomba. Hidupmu akan sangat lelah anakku.

Berusahalah dan pastikanlah dengan mata batin dan nuranimu bahwa kesibukanmu setiap hari berbagi inspirasi dalam rangka kebaikan dan mendekat kepada Sang Maha agar kamu menjalani kehidupan dengan penuh kenikmatan.”

Ya, pesan itu telah menghilangkan lelah dalam diri saya dan memaksa diri ini segera introspeksi atas semua jejak kaki yang saya telah jalani di atas muka bumi ini.

| Meninggalkan komentar

Penomena funia

Fenomena Dunia

Jika seorang MUSLIM yang tertimpa: “keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana” Maka dengannya ia akan mendapatkan ampunan dosa, dan mendulang pahala?

Mengapa? Karena ia MENGHADAPINYA DENGAN SABAR…

Rasuulullaah saw bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Segala perkara yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila kebaikan dialaminya, maka ia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila keburukan menimpanya, DIA BERSABAR dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” [HR. Muslim (2999)

Oleh karenanya Rasuulullaah saw bersabda: “Tidaklah suatu musibah menimpa seorang MUSLIM kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.” (HR. Al-Bukhariy no.5640 dan Muslim no.2572 dari ‘Aa-isyah)

Juga sabda beliau saw : “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhariy no.5641, 5642 dari Abu Sa’id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)

Adapun bila kita menghadapi musibah dengan KELUH KESAH, TIDAK SABAR, APALAGI RATAPAN, juga MARAH terhadap apa yang menimpanya.. Maka mereka ini LALAI dan TIDAK MENDAPATKAN keutamaan-keutamaan itu…

Bahkan mereka, apabila marah dan tidak ridha dengan apa yang menimpa mereka, maka baginya kemurkaan Allah!!

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).” (HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik)

Na’uudzubillaah..

Maka janganlah kita berkeluhkesah, tidak sabaran, apalagi marah terhadap musibah yang menimpanya… Dan BERANGAN-ANGAN termasuk orang-orang yang disebutkan diatas…

Semoga bermanfaat Semoga ALLAH TA’ALA mudahkan segala urusan kita.

Hanya kepadaNya kita memohon taufiq…

Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin…

| Meninggalkan komentar

Mengalakan bidha

MENGGALAKKAN BID’AH

M. Kholid Syeirazi*)

Ada sebuah hadis terkenal, sahih, diriwayatkan oleh imam-imam hadis terpercaya. Bunyinya:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ…»

”… Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah al-Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru dan semua bid’ah itu sesat (HR. Muslim, Kitâbul Jum’at No. 2042). Dalam riwayat Nasa’i dan Baihaqi ada tambahan redaksi   وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار (dan setiap kesesatan tempatnya di neraka).  Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan hadis serupa: “Jauhilah perkara-perkara baru, sebab sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat (HR. Abu Dawud No. 4607 Bâb luzûmis sunnah dan HR. Tirmidzi No. 2678 Bâb mâ jâ’a fil akhdzi bis sunnah wa-jtinâbil bida’i). Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis: “Man ahdatsa fi amrina hâdza mâ laysa minhu fa huwa raddun”  (Siapa saja yang mengadakan perkara baru yang tidak ada dasarnya, maka dia tertolak).

Oleh sebagian kalangan, rangkaian hadis ini dijadikan dalil untuk menyebut setiap perkara yang tidak dilakukan Rasulullah sebagai bid’ah. Khitab-nya bersifat ‘am, mutlak tanpa pengecualian. Artinya, setiap perkara baru itu bid’ah, tanpa kecuali. Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. Dasarnya adalah redaksi yang digunakan Nabi, “kullu” artinya setiap sesuatu, semuanya, tanpa kecuali. Hal-hal yang bersifat agama dan ritual yang dilakukan tanpa contoh Nabi berarti bid’ah. Deretan amaliah seperti muludan, tahlilan, barzanjian, majelis salawatan, haul, dll adalah munkar karena termasuk perkara baru tanpa preseden syar’i.  Benarkah demikian? Mari kita tinjau dari beberapa aspek.

Pertama, secara etimologis, kata kullu di dalam bahasa Arab tidak selalu berarti ‘am muthlaq (semua, tanpa kecuali). Kata kullu terkadang berarti ‘am makhsûs (semua terkecuali). Di dalam al-Qur’an, kata kullu sebagai ‘am muthlaq, misalnya, disebutkan dalam ayat-ayat “Allâhu khâliqu kulli sya’in wa huwa ‘alâ kulli sya’in wakîl” (QS. al-Zumar/24: 62); “Kullu sya’in hâlikun illâ wajhah” (QS. Al-Qasas/28: 88); “Kullu nafsin dzâiqatul maut” (QS. Alu Imran/3:185). Di sini, kullu berarti semua. Sebaliknya, di dalam al-Qur’an, terdapat kata kullu, tetapi berarti sebagian (sebagian besar atau sebagian kecil) seperti dalam ayat “Wa ja’alnâ minal mâ’i kulla syain hay (QS. al-Anbiyâ’/17: 30): “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” Faktanya, kita tahu, tidak semua makhluk Tuhan tercipta dan hidup dari air. Contohnya malaikat dan iblis, tercipta dari cahaya dan api.  Ada juga ayat “Innî wajadtum ra’atan tamlikuhum wa ûtiyat min kulli syai’in wa lahâ ‘arsyun adzîm (an-Naml/27: 23): “Sungguh kudapati seorang perempuan yang merajai mereka, dianugerahi segala sesuatu, dan baginya singgasana yang agung.” Faktanya, Ratu Balqis tidak dianugerahi kekuasaan terhadap kerajaan Sulaiman. Kesimpulan, kata “kullu” tidak selalu berarti semua tanpa kecuali (‘am muthlaq), tetapi juga berarti sebagian (’am makhsûs).

Salah satu uslûb (gaya bahasa) al-Qur’an adalah menyebut keseluruhan, tetapi yang dimaksud sebagian, seperti dalam ayat “Yas’alûnaka fil mahidzi qul huwa adzan fa’tazilun nisâ’a fil mahîdz” (al-Baqarah/2: 222): “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah haid itu sesuatu yang kotor, maka jauhilah wanita (isteri) pada saat haid.” Jelas maksud ayat ini bukanlah larangan total menjauhi isteri ketika menstruasi, tetapi hanya sebagian kecilnya saja, yaitu kemaluannya. Inilah yang dicontohkan Rasulullah. Dalam hadis Sahih, Rasulullah menyatakan: “Jami’ûhunna fil buyût, washna’û kulla sya’in illan nikâh (HR. Muslim, Ahmad & Abu Dawud): “Kumpuli isteri-isteri kalian di rumah, lakukan semuanya, kecuali seks! Uslûb lain dari al-Qur’an adalah menyebut sebagian padahal yang dimaksud keseluruhan, seperti ayat “fa wallû wujûhakum syathrah (QS. Al-Baqarah/2: 144): “Maka hadapkanlah wajahmu ke sisinya (masjidil haram).” Yang disebut hanya wajah, padahal maksudnya seluruh anggota badan. 
Kembali kepada teks hadis awal, “kullu bid’atin dlalâlah wa kullu dlalâlatin fin nâr” berarti tidak semua bid’ah sesat. Hanya yang sesat yang masuk neraka. Inilah mafhûm yang dinyatakan Imam Nawawi bahwa kullu dalam hadis kullu bid’atin dlalâlah bukanlah ‘am muthlaq (semua tanpa kecuali), tetapi ‘am makhsus (semua terkecuali) (lihat Sahîh Muslim bi Syarh an-Nawâwî, Beirut: Dâr al-Tsaqâfah al-Islâmiyyah, 1930, Juz 6, hal. 154).

Kedua, secara subtansial, perkara apakah di dalam teks hadis “Man ahdatsa fi amrina hâdza” yang dilarang untuk di-bid’ahi? Apakah semua perkara, semua hal yang tidak dilakukan Rasulullah atau tidak ada pada zamannya dihukumi bid’ah? Secara logika, pasti tidak mungkin. Rasulullah hidup dalam ruang dan waktu, yang berbeda kurun dan budayanya dengan kita. Jika semua yang tidak dilakukan Rasulullah disebut bid’ah, sebagian besar aktivitas manusia modern adalah bid’ah. Hal-hal baik, seperti dakwah melalui TV, radio, internet, aplikasi ponsel, alat pengeras suara imam shalat, semua adalah bid’ah. Perkara (amr, jamak umûr) di situ, menurut Ibn Hajar al-Asqalani, maksudnya adalah perkara agama (amrud dîn), berupa pokok-pokok hukum syara’, mencakup perintah dan larangan (Ibn Hajar al-Asqalani, Fathul Bâri, Beirut: Dâr Ihyâ’it Turâts al-Araby, 1977, Juz 7, hal. 231).

Perkara pokok agama (ushûlud dîn) mencakup ushûlul aqîdah dan usuhûlus syarîah. ushûlul aqîdah adalah rukun iman, usuhûlus syarîah adalah rukun Islam. Rukun iman, berdasarkan ijma’ ulama dari hadis Nabi, ada 6 (enam), yaitu iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab yang diturunkan, percaya kepada para rasul, hari kiamat, dan qadha-qadar. Sementara rukun Islam ada 5 (lima) yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu. Menambah atau mengurangi, termasuk berimprovisasi dalam perkara pokok ini, berarti bid’ah. Mengimani, mematuhi, dan melaksanakan perkara pokok agama, pada prinsipnya, bersifat ta’abbudi. Tidak perlu bertanya kenapa shalat dhuhur empat raka’at, shalat subuh dua raka’at. Ikuti saja! Tidak usah menambah dua syahadat dengan embel-embel lain. Tidak perlu ‘ngeyel’ kenapa haji harus di kota Mekkah. Tidak perlu kritis kenapa puasa mulai fajar sampai maghrib, bukan sebaliknya.  Improvisasi dalam perkara ushul terlarang, karena sifatnya ibadah mahdhah. Menyelisihi ushul (baik ushûlul aqîdah maupun usuhûlus syarîah) akan berdampak langsung terhadap status keimanan dan keislaman seseorang. Mengingkari keberadaan malaikat, rasul, dan kitab-kitab akan menentukan utuh atau tanggalnya iman seseorang. Mengingkari kewajiban shalat, zakat, puasa, dan haji akan menentukan utuh atau tanggalnya Islam seseorang. Namun, dalam furû’ul aqîdah (cabang-cabang aqidah) dan furû’us syarîah (cabang-cabang syariah), terbuka kemungkinan ijtihad tanpa merombak status keimanan dan keislamanan seseorang.

Contoh furû’ul aqîdah adalah menetapkan sifat-sifat Allah seperti dibahas dalam ilmu kalam. Saya pengikut imam Asy’ari dan Maturidi seperti diajarkan para masyâyikh di pesantren, tetapi terlarang bagi kami mengkafirkan mu’min penganut madzhab Mu’tazilah atau Jabbariyyah. Abu Hasan al-Asy’ari, salah seorang pendiri mahdzhab sunni dalam aqidah, adalah bekas pengikut Wâshil ibn Atha’, pendiri madzhab Mu’tazilah. Contoh furû’us syarîah adalah haiatus shalât yang mukhtalaf di kalangan para ulama, seperti bacaan Fâtihah dengan bismillah jahr (keras) atau sirr (lirih), subuh dengan qunut atau tidak, posisi tangan sedekap atau tidak, mata kaki harus mepet dalam shaf atau tidak, bilangan salat tarawih, dlsb. Begitu juga manasik haji. Itu semua adalah perkara furu’. Dalam perkara furû’us syarîah, ruang ijtihadnya jauh lebih terbuka, karena itu ambang toleransinya harus lebih tinggi. Imam al-Haramain al-Juwaini, guru Imam Ghazali, menyatakan sebagian besar hukum agama (syariah) lahir dari ijtihad (inna mu’dzamas syarîah shâdara minal ijtihâd). Mengapa? Karena usuhûlus syarîah itu sedikit, selebihnya adalah perkara-perkara furu’ yang bersifat ijtihâdiyyah. Dalam perkara furu’ inilah lahir madzhab-madzhab fikih, ribuan, tetapi kemudian terseleksi oleh

| Meninggalkan komentar

Jg remehkan kebaikan

[29/12/2015 6.32 AM] Ibnu Suroso: Jangan Pernah Remehkan Sekecil Apapun Kebaikan

JIKA engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah ia…barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akhirat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah ia, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia… Barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba’ ta’ kepada anak-anakmu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan sama sekali, maka tahanlah tangan dan lisanmu dari menyakiti… Setidaknya itu menjadi sedekah untuk dirimu.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata, “Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya.”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” (HR. Muslim). []
[30/12/2015 6.35 AM] Yudi Smada: Assalamu’alaykum,
 
Mengenai Shalat Istikharoh.
 
Jabir bin ‘Abdillah ra, berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

Rasulullah SAW, mengajari kami shalat istikharah dalam SETIAP PERKARA yang kami hadapi, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata, “Jika salah seorang di antara kalian BERNIAT dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah”. (HR. Al-Bukhari)

RasulULLAH mengajarkan kepada kita apabila menemui suatu perkara/ urusan, maka hendaknya melakukan shalat istikharoh.

Ada dua hal yang menjadi bahasan.

Yang pertama, Nabi mengajarkan shalat istikharah dalam setiap perkara/ urusan, shg tidak tepat apabila ada anggapan bahwa shalat istikharah hanya dilakukan terbatas untuk urusan yang meragukan, karena dalam bahasa Arab kata كل memiliki arti setiap / semua.

Kedua, sebagian orang melakukan shalat istikharah ketika dihadapkan kepada pilihan yang sulit atau meragukannya. Apakah benar demikian?

Kata هَمَّ (sebagaimana terdapat dalam kamus Arab-Indonesia karya Mahmud Yunus) memiliki arti berniat, sehingga shalat Istikharoh dilakukan manakala seseorang telah berniat dengan keputusan yang ia ambil untuk melaksanakannya.

Darimana niat dengan kemantapan hati tsb diperoleh? Melalui petunjuk AlQur’an dan Sunnah Rasul-Nya.
 
Misalkan, seseorang bekerja sebagai petugas penyalur kredit ribawi, melalui pembelajaran ia akhirnya paham, bahwa pekerjaannya adalah berdosa karena langsung terlibat dalam riba (bunga bank), maka ia berniat untuk meninggalkannya dan mencari usaha yg lain, disinilah ia ber-istikharoh untuk kemantapan.
 
Niat yang telah mantap akan menjadi azzam (tekad).

Apa hikmah shalat istikharah dilakukan setelah ada niat?

Jika perkara tsb baik baginya, maka ALLAH akan mempermudah jalan untuk mendapatkan hal yg telah diniatkan tsb.
 
Namun jika perkara tersebut tidak baik baginya, ALLAH akan mendatangkan penghalang dalam melaksanakan apa yg telah diniatkannya.
 
Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Salah satu kesempurnaan iman adalah, manakala seseorang menyerahkan suka atau tidaknya sesuatu kepada ALLAH, kalau ALLAH suka, maka ia pun suka, kalau ALLAH tidak suka, maka ia-pun tidak suka, dan akan meninggalkannya.
 
#abim dari mengambil berbagai sumber, mhn ditinggalkan apabila ada pendapat yang lebih kuat dalilnya.

| Meninggalkan komentar

Ucapan natal

Assalamu’alaykum…

“…SILAKAN YANG MAU UCAPKAN SELAMAT NATAL…”

Bertahun-tahun biasanya kujawab secara offline tentang 25 Desember dan 1 Januari…
Karena menghargai beberapa relasiku yang berprofesi sebagai misionaris…
Mereka tahu dakwahku tapi kami saling menghargai…
Mohon maaf setulusnya, bila tulisan ini akan tidak disukai sebagian dari sahabat-sahabat muslim…tapi sudah saatnya harus dijelaskan terbuka secara ilmu ke-TAWHIID-an..

Membaca berita seorang muslim modern menantang Ustadz  Yusuf Mansur (Official) untuk menunjukan dalil pelarangan mengucapkan SELAMAT NATAL…
Berharap tulisan ini bukan hanya menjawab tantangannya, tetapi untuk diketahui saudaraku muslimin dan muslimat yang tidak ingin syahadatnya gugur..

Kupasan berdasarkan ilmu TAWHIID…

Bila kita mengucapkan…
… kalimat SELAMAT ULANG TAHUN kepada seseorang, berarti kita mengakui  bahwa dia lahir di tanggal itu..

Bila kita mengucapkan…
…kalimat SELAMAT ATAS PELANTIKAN JABATAN, berarti kita mengakui dirinya sebagai pejabat baru…

Bila kita mengucapkan…
…kalimat SELAMAT ATAS KEMENANGAN PERTANDINGAN, berarti kita mengakui lawan sebagai pemenang…

Ternyata kata SELAMAT bermakna PENGAKUAN…

Kalau banyak pertanyaan, bukankah mengucapkan SELAMAT NATAL hanya merupakan sebuah ucapan saja…

Wahai saudaraku,
…Seorang muslim dinilai dari ucapannya…

Bukankah SYAHADAT juga hanya UCAPAN..?
..tapi mengapa setelah berucap SYAHADAT…seseorang menjadi muslim…?

Bukankah BISMILLAH juga hanya UCAPAN..?
..tapi mengapa hewan yang disembelih tanpa mengucap BISMILLAAH, dagingnya haram dimakan…?

Bukankah AQAD NIKAH juga hanya UCAPAN..?
..tapi mengapa setelah diucapkan, suami halal menggauli istri…

Bukankah kata CERAI juga hanya UCAPAN..?
..tapi mengapa bila suami mengucapkan kata ini terhadap istrinya baik secara bercanda maupun tidak, maka akan jatuh hukum CERAI bagi istrinya…

Saat kita mengucapkan SELAMAT NATAL dan TAHUN BARU, atau hari raya agama lain, disitulah awal kita MENGAKUI keberadan Tuhan lain yang berarti kita mengakui adanya beberapa Tuhan.
Berarti sudah tidak sesuai dengan SYAHADAT yang diucapkan dan Surat Al Ikhlas ayat 1 serta beberapa ayat lainnya.
Padahal meng-ingkari 1 AYAT QUR’AN saja…sudah dikategorikan sebagai orang kafir yang sebenar-benarnya…

“Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya…”
[ Qur’an Surat An Nisa (4) ayat 151 ]

Inilah ayat-ayat yang menegaskan TERHAPUSNYA SYAHADAT yang pernah diucapkan dikarenakan ucapan selamat hari raya umat lain…

Sesungguhnya telah KAFIR lah orang-orang yang berkata/mengakui, “Sesungguhnya ALLAH ialah Al Masih putra Maryam, padahal Al Masih sendiri berkata ” Hai Bani Israil, sembahlah ALLAH Tuhan-ku dan Tuhan-mu…”
[ Qur’an Surat Al Maidah (5) ayat 72 ]

“…Janganlah kamu mengatakan TUHAN itu tiga, berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya ALLAH Tuhan yang Maha Esa. Maha Suci ALLAH dari mempunyai anak…”
[ Qur’an Surat An Nisa (4) ayat 171 ]

“Dan mereka berkata, “Tuhan yang maha pemurah mempunyai anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat MUNKAR”
[ Qur’an Surat Maryam (19) ayat 88-89 ]

Saudaraku umat Nasrani dan para pendeta,
Perbedaan kita hanya pada nabi Isa, padahal bagi kami Nabi Isa adalah salah satu Rasul yang utama.
Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah terbukti dalam Sejarah, bahwa tanggal 25 Desember itu hari kelahiran Janus dan Mitra, Sang Dewa Matahari.
Bunda Maryam melahirkan Nabi Isa disaat pohon kurma berbuah, yang berarti disaat musim panas tetapi 25 Desember adalah musim dingin…

Wahai para pendeta dan missionaris…
Kamipun meng-imani Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa…
Bahkan Nabi kami, Muhammad memiliki paman dari istri yang seorang pendeta  nasrani bernama Waraqah…
Jadi Islam sangat paham bagaimana toleransi yang benar…

Wahai para penganut nasrani.
Silakan saja rayakan natal sesuai keyakinan…
Karena bagi kami…”UNTUKMULAH AGAMAMU dan UNTUKULLAH AGAMAKU”

Tapi tegas kusampaikan…
Jangan paksa pegawai muslim berpakaian santa…
Sebagaimana kami tidak pernah pula memaksa para misionaris menggunakan peci dan sorban disaat Iedul Fitri…

Jangan paksa undang pejabat muslim hadiri natal di gereja…
Sebagaimana kami tidak pernah memaksa para pendeta hadir pada Sholat Iedul Fitri…

Saudaraku umat muslim,
Silakan saja ucapkan SELAMAT NATAL..
Silakan saja gunakan topi Santa…

Tapi jangan menyesal …
….bila sholat kita batal…
……mati pun bukan sebagai muslim…
Karena SYAHADAT KITA SUDAH GUGUR…

Saudaraku,
Kajilah Qur’an……karena semua pertanyaan hidup sudah ada jawabannya didalam.

Kalau penjelasan panjang ini masih meragukan hati…
Periksa saja SHOLAT SHUBUH kita, apakah sudah berjama’ah di masjid setiap hari..?

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaykum…
Kang Dwin
Yayasan HUMAIRA
Pendidikan-Sosial-Kemanusiaan

Di Share Dari instaGram @IndonesiaBertauhid
.
Follow dan Dukung #Gerakan #IndonesiaBertauhid di Line  klik http://line.me/ti/p/%40gur5945i

Sebarkan Status Ini…! Ini Merupakan Kepedulian Kita akan aqidah Ummat Islam..!

Membagikan = Peduli
Tidak Membagikan = Tidak Peduli

Salam #Tauhid
Sandi Nopiandi

| Meninggalkan komentar