kerennya jd ulama jaman sekarang

Allahu Akbar, Betapa Kerennya Jadi Ulama Di Rezim Ini
Amar Ar-Risalah
26 Juli, 1975 itu, para ulama berkumpul. Di antara mereka, ada sosok-sosok familiar: KH Imam Zarkasy dari Gontor, KH  Abdullah Syafi’i dari Betawi, dan  lain-lain. Balai Sidang Senayan gempita: hari itu, dengan perwakilan para  ulama  dari berbagai daerah dan ormas, dideklarasikanlah piagam pendirian Majelis Ulama Indonesia.
Sebagai Ketua Umum pertama, dipilihlah  Prof. Dr. Hamka. Mereka, sepanjang sejarah, adalah ulama-ulama yang  begitu tegas: mampu menjaga jarak  dengan pemerintah, dan menjadi orang-orang gharib dalam menghadapi dunia.
Meskipun  pada  waktu itu Menteri Pertahanan hadir memberikan sambutan, dan dukungan juga datang  dari Presiden  Soeharto, mereka tetap garang. Buya Hamka beberapa tahun kemudian, tegas mengatakan keharaman merayakan  natal bersama bagi muslim dengan dalil yang kuat.
Padahal, hari Natal Bersama kala itu dibuat sebagai program pemerintah-yang sebagaimana kita tahu-Orde Baru  sangatlah kejam dan keras.
“Kebenaran,” katanya  pada tahun 1981 itu, “Harus tetap tegak  meskipun langit runtuh!”
Hamka sendiri adalah seorang ulama-sastrawan yang tegas. Ia pernah dipenjara hanya karena tegak mengatakan hal-hal yang merupakan hukum fikih, pada rezim Soekarno.
Di Jakarta pada dekade 80-an itu, terpilih sebagai Ketua MUI Jakarta dan juga Ketua 1 MUI  Pusat, seorang yang namanya dijadikan nama jalan besar Kampung Melayu: KH Abdullah  Syafi’i. Dia adalah ayah, dari ulama besar  perempuan Betawi: Hj. Tutty Alawiyah dan  pendiri Perguruan As-Syafi’iyah.
Pada masa itu, ayah Boy Sadikin, Gubernur Ali Sadikin, hendak membuat lokalisasi prostitusi. Kontan, KH Abdullah Syafi’i menentang keras rencana itu. Ia berteman dekat dengan Ali Sadikin,  namun  bisa  menjaga jarak sebagaimana fitrah ulama: ia adalah pedang yang meluruskan kekuasaan.
Tak lama setelahnya, pada September 1984, pemerintahan Soeharto kembali menguji umat islam. Selain larangan  jilbab di sekolah-sekolah, pemerintah menerapkan Asas Tunggal Pancasila bagi semua organisasi.
Serentak orasi dan ceramah untuk meluruskan pemerintah  digaungkan di mana-mana, termasuk di mushala kecil di sebuah tempat di  Koja, Tanjung Priok. Namun, sebuah  insiden kecil, pencopotan pamplet anti asas tunggal dengan air got oleh aparat di mushala itu mengubahnya menjadi peristiwa mengerikan:
Ustadz Amir Biki  bersama ribuan jamaah mengepung kantor aparat, namun di tengah jalan, mereka  dicegat kendaraan lapis baja  dan terjadilah pembantaian itu: Peristiwa Priok. 500 orang meninggal termasuk Ustadz Amir Biki.
Ulama Jakarta, MUI, para ulama seluruhnya di negeri ini adalah mereka yang mengasuh penguasa, namun dengan cara yang lugas dan tegas, tidak menjilat. Bagi mereka, dunia ini adalah permainan yang menipu, sebagaimana surat Al-Hadid ayat 20:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan…”
Maka saksikanlah, dari zaman ke zaman ciri khas ulama berupa ketegasan terhadap penguasa ini mengalir dalam darah dan terus diwariskan. 
Imam Malik-guru Imam Syafi’i dan pendiri Mazhab Maliki-dalam suatu kisah yang masyhur, berdebat dengan Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur mengenai suatu hadits yang difitnahkan orang padanya.
Namun, setegar gunung, ia bertahan pada pendapatnya sebagai seorang ulama dan memilih dihukum cambuk ketimbang menjadi kaki tangan penguasa dalam hal kebatilan.
Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanbali, bahkan adalah seorang ulama yang lebih sering keluar masuk penjara daripada aktifis reformasi. Ia seringkali membuat fatwa yang bertentangan dengan keinginan penguasa dan juga para penegak hukum. Ia ditawari jabatan hakim tapi menolak.
Akibatnya bisa ditebak, ia dijebloskan ke penjara. “Andaikata tidak ada kekhawatiran terhadap hilangnya ilmu Allah, maka aku tidak akan  berfatwa kepada siapapun!”
Imam Hanbali lebih heroik lagi. Ia-alkisah-dicambuk dengan empat kali cambukan, yang satu kali saja bisa membunuh seekor gajah, hanya karena ia menolak paham Mu’tazilah yang dianut oleh penguasa. Adalah Khalifah Al-Makmun, yang meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.
Ketika Imam Hanbali diarak sebagai tahanan dengan tubuh penuh luka, seorang pencuri menghampiri beliau dan berkata:
“Wahai imam! Aku adalah pencuri yang didera dengan banyak cambukan namun  aku menolak mengaku kesalahanku padahal aku tahu itu salah. Maka janganlah kau gelisah menerima dera, sebab engkau dalam kebenaran!”
Maka hari ini, jika hanya karena sebuah petisi orang-orang berbalik di tumit mereka dan beralih menjadi buntut penguasa: bahkan lisan mereka tidak pantas menyebut nama para ulama. 
Orang-orang yang membangun dan mengasuh umat islam selalu lahir dari lingkungan yang jelas garis demarkasinya dari penguasa. Mereka mampu menjaga jarak, hingga jarak terpendek hanyalah antara mereka dengan penjara.
Dan seandainya kelak MUI dibubarkan hanya dengan alasan konyol: agar Ahok bisa menang, maka saksikan, bahwa jelas batas antara mereka yang memegang teguh kebenaran, dengan yang menjual agamanya demi jabatan yang menipu.
Dan bukankah sejarah selalu berkisah yang itu-itu saja: ulama selalu berhadapan dengan makar agar penguasa bisa bertahan, ulama selalu mengangkat dagu di hadapan penguasa, hatta nyawa jaminannya.
Pada prosesi pemilihan kepala daerah waktu-waktu belakangan, kita jumpai hal yang dulu hanya dilakukan orang yang lain agama atau atheis pada para ulama. Belum pernah kita saksikan penghinaan yang demikian verbal pada ulama dan ahli ilmu. Belum pernah kita saksikan pengingkaran pada ayat-ayat Allah sejelas hari ini, hari-hari ketika umat dipaksa memilih wala’nya pada kebenaran atau kebatilan.
Maka jangan takut, dan jangan mundur. Karena memang begitulah jalan yang ada pada setiap zaman, yang menimpa para ulama. Mereka sekali-kali tidak akan mundur hanya karena iming-iming jabatan atau harta yang sedikit.
Bukankah dalam surat Al-Maidah 57 dan 58-surat yang sama yang menjadi bahan kita-dikatakan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan di antara orang-orang kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”
“Dan apabila kamu menyeru mereka untuk shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan, yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak berakal.”
Dua ayat di atas dengan tegas mengatakan, bagaimana harusnya sikap kita. Tanpa bermaksud membangkitkan sentimen, semestinya prosesi politik  ini berjalan lebih menyenangkan dan damai.  Namun, simbol-simbol agama sudah dipermainkan sebagai barang politik.
Bahwa islam dengan kesempurnaannya, selain mengatur urusan shalat dan zakat, juga kepemimpinan. Ia juga mengatur etika politik. Ia juga mengatur urusan-urusan adab. Itulah syumuliatul islam!
Mereka bisa saja mengatakan, jangan bawa agama kedalam politik. Jangan pakai Al-Qur’an itu untuk Pilkada, sedangkan ayat 58 surat Al-Maidah berbunyi:
“Katakanlah! “Wahai Ahli Kitab! Apakah kamu memandang  kami salah, hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya? Sungguh kebanyakan darimu adalah orang-orang yang fasik!”
Bukankah politik juga menjadi hak warga negara Indonesia, sebagai pemeluk islam?
Maka betapa kerennya jadi ulama di rezim ini, karena nyata mana kebenaran dan mana yang syubhat; mana orang yang memilih apa-apa yang samar dan mana yang memilih yang benar lagi tegas. Benarlah kata Nabi kita, bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang-orang mukmin.
Maka betapa kerennya jadi ulama di rezim ini, karena mereka bertahan dari celaan orang-orang yang mencela, sebagaimana Al-Maidah 54; dan dengan tegas memberikan loyalitasnya pada Allah, Rasulullah, dan kitabnya, ketimbang lembaga survei atau pengusaha properti.
Dan saksikan bahwa kami, umat muslim, tetap berdiri di belakang ulama, apapun yang terjadi.
Teruslah berjuang, para ulama! Dan kami, insya Allah kan menjaga jalannya proses ini dengan damai dan santun.
“Beruntunglah mereka yang asing,”

Iklan
| Meninggalkan komentar

saya pancasila

Apakah ada Tuhan selain Allah yg bisa menandingi Syariat & Khilafah Islam didunia Nya ini.
Antum muslim , kitab apa yg antum baca.
Copas:
PANCASILA  VS  AL-QURAN

Skor:    7 : 1

(Pancasila  Menang  Mutlak! Al-Quran  Kalah Telak!)
By: Anonim
Pancasila memang sakti. Saking saktinya,  negeri ini perlu setiap tahun memperingati Hari Kesaktian Pancasila.
Pancasila sakti. Saking saktinya, cukup  teriak, “Saya  Indonesia, saya  Pancasila,” Anda  tak  akan  dicap  anti Pancasila  meski Anda  koruptor, penjual aset  negara, dsb.
Pancasila sakti. Saking saktinya,  al-Quran pun berkali-kali dibikin keok.  Wuihh!  Hebat banget Bro! Gimana ceritanya?  Kapan Pancasila vs al-Quran  bertarung?! 
Ga percaya?! Ini beberapa buktinya:
Pertama: Lihat saja hari ini,  dimana-mana orang bicara Pancasila. Dimana-mana orang mengukur segala hal dengan Pancasila. Baik-buruk diukur dg Pancasila. Halal-haram pun ditentukan oleh Pancasila.  Dimana-mana orang bicara NKRI dan Pancasila harga mati. Yang bicara ya mulai orang awam,  para pejabat, DPR,  para menteri, Presiden, para politisi,  pengamat politik, kaum intelektual bahkan hingga ulama,  termasuk MUI  dn  banyak organisasi  Islam. 
Trus,  al-Quran ditaruh dimana?  Kapan bangsa yang mayoritas umat Islam ini bicara al-Quran? Kapan bangsa Muslim di negeri ini mengukur segala sesuatu dg al-Quran? Kapan pula negeri yang penduduknya mayoritas umat Islam lantang berkoar-koar “al-Quran harga mati”? Ga ada.  
Bahkan ulama pun banyak yg lebih lantang menyuarakan Pancasila daripada meneriakkan kewajiban menerapkan syariah Islam secara kaffah sebagaimana diperintahkan al-Quran. Mereka pun seolah lebih suka mengunakan tolok ukur Pancasila daripada tolok ukur al-Quran. Misalnya utk  menilai “halal-haram”-nya  Khilafah, baik-buruknya  kelompok yg  berjuang  menegakkan  Khilafah, mereka  menggunakan  tolok ukur Pancasila, bukan  al-Quran. Apa  tidak  sedih, Bro?! 
Banyak pula orang lebih senang menuding pihak yg berseberangan dgn dirinya sebagai anti Pancasila daripada anti al-Quran. Seolah-olah anti Pancasila itu haram,  tapi kalau anti al-Quran mah terserah elu! Emang gue pikirin! ๐Ÿ˜ง๐Ÿ˜ต
Maka skor 1:0 utk Pancasila alias 0:1 utk al-Quran. 
Kedua: Karena  Pancasila  menjadi  satu-satunya  standar, maka  Islam  pun  diukur  dengan standar  Pancasila, bukan  sebaliknya. Hebat  kan,  Bro?! ๐Ÿ‘ŽNah, jadi  jangan  aneh  jika  banyak  ajaran  Islam  akan  dituding  tak  sesuai  dengan  Pancasila. Contohnya ya  Khilafah  itu. Kok  contohnya Khilafah  lagi? Bukan  apa-apa. Karena  kebetulan  aja  istilah  Khilafah  lagi  naik  daun.
Coba  Bro  perhatikan. Al-Quran  bicara  Khilafah. Setidaknya  itu  yang  dinyatakan  oleh  Mufassir  terkemuka, Imam  al-Qurthubi, saat  menafsirkan  ayat “Innii  jaa’ilun  fil  ardhi  khaliifah” dalam  surat  al-Baqarah. Dalam  as-Sunnah  lebih  banyak  lagi  Rasulullah saw. bicara  Khilafah. Dalam  kitab-kitab  para ulama, khususnya  ulama  Aswaja, lebih  banyak  lagi  Khilafah dibincangkan. Yang  luar  biasa, kewajiban menegakkan Khilafah  telah  menjadi  Ijmak  Ulama (yang mengaku Aswaja,  silakan kaji kembali secara jujur kitab2 para ulama Aswaja tentang Khilafah)  selain  menjadi  Ijmak  Sahabat. 
Meski  demikian, di dalam UU Ormas yg baru disahkan tiga hari lalu,  secara  tersirat  Khilafah–yang  notabene  ajaran  Islam–dianggap  sebagai  bertentangan  dengan  Pancasila. Otomatis  para  pengusungnya (baca: HTI) dituding  anti  Pancasila  sehingga  layak  dibubarkan. Jika  begitu, ga  salah  kan  jika  Islam  pun  harus  keok lagi di  bawah  Pancasila?! 
Maka  skor 2:0 untuk  Pancasila  alias 0:2 untuk al-Quran.
Ketiga: Sekarang  kita  bicara  ideologi  negara  ini. Tentu  Pancasila, bukan  Islam  yg  landasannya  adalah  al-Quran. Sebab, kalau Islam  ideologinya, pasti  negara  ini  akan  disebut  Negara  Islam.  Faktanya,  siapapun menolak jika dikatakan Negara Indonesia adalah Negara Islam. Lucunya, banyak  orang  kemudian  menolak jika Negara Indonesia disebut negara sekular.  Kata mereka,  “Indonesia bukan Negara Islam,  tapi juga bukan negara sekular.”  (Jadi, negara “bukan-bukan” dong, Bro?!).๐Ÿ˜œ๐Ÿคฃ
Namun, banyak kalangan berdalih: tapi  kan  Pancasila  digali  dari  nilai-nilai  Islam. Ok,  jika  betul  Pancasila  digali  dari  nilai-nilai Islam, lalu  mengapa Pancasila  sering  menuding  kelompok-kelompok Islam  yang  memperjuangkan  syariah  Islam–termasuk  di  dalamnya Khilafah–sebagai  anti  Pancasila? Lho,  kok  ada  ya  sebuah  ideologi yg  digali  dari  nilai-nilai Islam  tapi  memusuhi  syariah  dan  Khilafah Islam  yang  notabene  bersumber  dari al-Quran?! Lagi-lagi,  dalam ranah ideologi, al-Quran  keok  saat  bertanding dg  Pancasila. 
Alhasil, skor 3:0 utk  Pancasila alias 0:3 utk  al-Quran. Hidup  Pancasila!๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜ต
Keempat: Sekarang,  mari kita bicara ekonomi.  Di negeri Pancasila ini riba halal. Artinya,  Pancasila menghalalkan riba. Bahkan riba menjadi pilar ekonomi negara  ini. Buktinya,  utang berbasis riba (bunga) menjadi salah satu sumber utama pemasukan APBN kita. APBN kita jelas dong selamanya sesuai dg Pancasila,  tak mngkn bertentangan dg Pancasila. 
Padahal kita tahu,  al-Quran secara tegas telah mengharamkan riba. Bahkan riba dinilai sebagai salah satu dosa besar. Kata  Nabi  saw., “Satu  dirham  riba  sama  dosanya  dengan 36 kali  berzina.” Apa  ga  ngeri, Bro?!๐Ÿ˜ฑ
Artinya apa?  Artinya,  lagi-lagi dalam ranah ekonomi pun Pancasila benar-benar jumawa sehingga mampu membuat al-Quran bertekuk lutut. Pancasila sanggup menghalalkan apa yang telah diharamkan al-Quran.  
Maka skor 4:0 utk Pancasila alias 0:4 utk al-Quran. 
Kelima: Sekarang kita bicara moral. Zina pun halal di negeri Pancasila ini (ga ada tuh pasal perzinaan dlm KUHP kita). Artinya,  Pancasila menghalalkan zina. Buktinya,  tak ada seorang pezina pun di negeri ini yg dihukum atau dipenjarakan. Apalagi jika zina dilakukan di tempat “resmi” seperti Lokalisasi. Yang penting suka sama suka, katanya (He..he..mana ada pasangan berzina salah satu atau dua-duanya benci zina). ๐Ÿ˜Makanya angka perzinaan selalu meningkat  setiap saat karena  banyak  orang  tak  takut  dihukum  jika  berzina  (Ya, iya  lah, hukumannya  kan ga  ada, Bro).  Yang  diharamkan  Pancasila  adalah  perkosaan. Itu  pun  jika  korban  mengadukan  masalahnya  ke  Polisi  (artinya  masuk  delik  aduan). Jika  korban perkosaan  merasa  “nyaman”–meminjam kata  Pa  Nganu–ga  layak  kasusnya  diadukan  ke  Polisi  (Ada  ya, Bro, wanita  diperkosa, trus  dia  merasa “adem”.Hi..hi..).
Padahal jelas, al-Quran  telah secara tegas mengharamkan zina.  Jangankan berzina,  bahkan mendekatinya saja sudah diharamkan oleh al-Quran. 
Itu baru zina. Belum termasuk pornografi,  pornoaksi,  LGBT,  dll yg seolah dibiarkan sj keberadaannya di negeri Pancasila ini. Padahal  semua  itu  jelas  telah  diharamkan  al-Quran.
Dengan  demikian, di  bidang  moral  pun  lagi-lagi  al-Quran  tidak  berdaya  di  hadapan Pancasila. 
Alhasil, skor 5:0 untuk Pancasila  alias 0:5 untuk al-Quran.
Keenam: Sekarang  kita  bicara  hukum. Al-Quran  menegaskan: hukuman  bagi  pezina dicambuk  seratus  kali  atau  dirajam  (berdasarkan  ketentuan as-sunnah), pencuri dipotong  tangan, koruptor  bisa  dihukum  mati, dst.
Faktanya, Pancasila  menetapkan hukum  yg  berbeda  dengan ketetapan  al-Quran. Pezina tak  dihukum, pencuri sekadar  dipenjara, para koruptor yang merugikan triliunan uang negara acapkali  dihukum  ringan, bahkan  sering bebas. Lalu  kemana  ketetapan  hukum  al-Quran? Tentu  dibuang  jauh-jauh.๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ฑ
Alhasil, satu  poin  lagi  untuk Pancasila sehingga  skor 6:0.
Ketujuh: Sekarang  kita  bicara  kedaulatan  (hak  membuat hukum). Al-Quran  tegas menyatakan, “Inil  hukmu  illaa  lilLaah” (Membuat  hukum  adalah  hak  Allah). Faktanya, Pancasila  menetapkan  bahwa  hak  membuat  hukum  ada  pada  kewenangan  Pemerintah  dan  DPR. Itulah demokrasi. Tak pernah sedikitpun Pemerintah dan DPR punya kewajiban merujuk pada al-Quran saat melegislasi hukum. Mereka tak peduli apakah berbagai produk hukumnya nanti bertentangan dengan al-Quran. Bagi mereka, yang penting tidak bertentangan dengan Pancasila. Padahal faktanya, banyak produk hukum–UU Migas,  UU Penanaman Modal,  UU Listrik,  UU Minerba,  dan banyak produk hukum lain–bernuansa sangat liberal (Apakah berarti Pancasila mengadopsi liberalisme?) Akibatnya,  banyak  produk  hukum  yang  menginjak-injak  hukum  Allah  SWT  yang  telah  digariskan  dalam  al-Quran.
Alhasil,  skor 7:0 untuk Pancasila alias 0:7 untuk  al-Quran. (Apa  ga bikin sedih dan nangis,  Bro?!)๐Ÿ˜ฉ๐Ÿ˜ญ
Sebetulnya  jika diurai  lebih  jauh,  masih banyak  fakta  yang  menunjukkan  kemenangan mutlak Pancasila dan sebaliknya kekalahan  telak  al-Quran.
Pertanyaannya: Lalu  dari  mana  poin  satu  (dari  skor 7:1, sebagaimana  dinyatakan dalam anak  judul  di  atas) yg  diperoleh  al-Quran?๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜ฑ
Tidak  lain  dari  ibadah-ibadah  ritual  (shalat, shaum, zakat, haji, zikir  baca  al-Quran, dll) umat Islam yang  masih  merujuk pada al-Quran, tak  mungkin  merujuk  pada butir-butir dari sila-sila Pancasila  (Ya  kan, Bro?!)
Kekalahan  al-Quran  vs  Pancasila  juga  mungkin  bisa  menjadi  lebih  tipis  (skor menjadi 7:2) jika dikaitkan  dg  kematian. Maksudnya? Begini. Meski mengklaim paling Pancasila, saat  mati, jika dia Muslim, masih  dibacakan  ayat-ayat  al-Quran, bukan  dibacakan  ayat-ayat  konstitusi (meski  bagi  sebagian  orang ayat-ayat konstitusi lebih  tinggi  dari  ayat-ayat suci, katanya). 
Semoga pula tak ada seorang Muslim pun (saat mati)  yang mengklaim paling Pancasila sekalipun–entah Presiden,  menteri,  anggota DPR, dll–mau dan rela dibacakan  Pancasila  di  sisi  kuburannya. Jika  ada, tentu dia  adalah  orang  yang super hebat! Mengapa? Karena  dia telah sangat berani menggenapkan  skor kekalahan  al-Quran vs  Pancasila menjadi  sangat  telak: 7:1! ๐Ÿ˜ฉ

 

Udah  ya, Bro. 
Terakhir, bagi yang mengaku paling Pancasila, mari kita teriakan: “Saya  Indonesia, saya  Pancasila!” 
 Jangan lupa, jargon yg sama di atas diteriakkan juga di  hadapan  Mahkamah  Ilahi  di  Akhirat  nanti, jika  berani. Setuju,  Bro?!๐Ÿ˜ฌ
[Dalam Perjalanan  Bogor-Bandung  di  atas  Bis  MGI, Jumat, 27/10/17. Pk. 11.16)

| Meninggalkan komentar

cara rosul mengalahkan ekonomi yahudi

Cara Rasululah SAW Taklukan Ekonomi Yahudi

By Admin – October 7, 201704036

    
Oleh: Dr. Tiar Anwar Bachtiar
Hijrah Rasulullah Saw. dari Mekah ke Madinah menandai awal baru sejarah dakwah Nabi Saw. Di Mekah selama 13 tahun ibarat kawah candradimuka yang menempanya bersama para sahabat dengan kegetiran dan kepahitan. Sepuluh tahun berikutnya di Madinah Rasulullah mulai menapaki kemenangan demi kemengangan dakwah hingga sampai pada kemenangan terindah Futuh Mekah pada tahun ke-8 dari hijrah.
Selain keimanan dan ketaatan pada Allah Swt. yang mutlak serta keikhlasan dalam berjuang yang sulit dicari tandingnya, tentu ada anasir-anasir strategis yang dilakukan Rasulullah Saw. dalam merespon kondisi masyarakat yang dihadapinya.
Syaikh Ramadhan Al-Buthi menyebutkan tiga strategi Rasulullah Saw. sebagai fondasi awal membangun Madinah, yaitu:

1. Membangun mesjid,

2. Mempersaudarakan kaum Muslim,

dan

3. Melakukan perjanjian damai dengan berbagai komunitas yang ada di Madinah.
Ketiga hal ini menandakan bahwa dalam mengawali perjuangannya di Madinah, Rasulullah Saw.

1. Mendahulukan membangun keimanan dan mentalitas masyarakat,

2. Membangun persatuan di antara komunitas Muslim, dan

3. Mengamankan komunitas Muslim dari kemungkinan-kemungkinan gangguan dari pihak luar dengan cara membangun harmoni sosial dengan komunitas manapun yang ada di Madinah saat itu.
Namun, ada satu hal yang mendesak yang dihadapi Rasulullah Saw., yaitu ekonomi Madinah saat itu dikuasai oleh orang-orang Yahudi.
Penduduk asli Madinah, suku Aus dan Khazraj, walaupun lebih lama tinggal di Madinah, tapi kehidupan ekonomi mereka berada di bawah kontrol orang-orang Yahudi.
Salah satu yang menyebabkan penguasaan Yahudi terhadap ekonomi Madinah adalah penguasaan mereka atas pasar.
Bahkan bukan hanya pasar, orang-orang Yahudi, di Madinah ini juga memiliki pusat-pusat pengolahan pertanian yang cukup besar di Madinah seperti di Khaibar. Hal ini semakin memperkuat dominasi Yahudi atas perekonomian Madinah saat itu, karena dari hulu produksi sampai distribusi kepada konsumen semuanya di bawah kendali mereka.
Menghadapi situasi ini, tentu saja Rasulullah Saw. harus mempersiapkan strategi yang tepat dan efektif untuk melemahkan dominasi Yahudi atas ekonomi Madinah.
Selain ketiga hal di atas sebagai pondasi dasar masyarakat Muslim Madinah, Rasulullah Saw. kemudian secara khusus membuat dua strategi penting yang satu sama lain saling berkaitan erat.
Pertama, meningkatkan etos kerja dan produktivitas kaum Muslim; dan
kedua, menciptakan pasar baru untuk transaksi kaun Muslim.
Strategi pertama dilakukan Rasulullah Saw. dengan memerintahkan para sahabat untuk segera menggarap lahan-lahan pertanian Madinah yang banyak ditelantarkan oleh penduduk setempat. Bisa jadi, kebutuhan masyarakat Madinah sudah banyak dipenuhi dari kebun-kebun yang dikembangkan orang Yahudi.
Orang-orang Madinah sendiri bisa jadi lebih senang hanya bekerja untuk orang-orang Yahudi atau hanya menanam untuk kebutuhan sendiri sehingga masih banyak tanah yang tidak tergarap.
Rasulullah Saw. menyeru ketika pertama kali menggulirkan program ini, โ€œSiapa yang menghidupkan tanah yang mati; maka tanah itu menjadi miliknya.โ€ (HR Al-Bukhari).
Pribadi para sahabat yang sudah terbina baik dengan binaan ruhiyyah-islรขmiyyah cara Rasulullah saw. tidak pernah berpikir pilihan lain ketika mendengar seruan Rasulullah Saw., kecuali menaatinya.
Ali ibn Abi Thalib menghidupkan tanah dekat mata air di Yanbuโ€™. Zubair ibn Awwam mengambil sepetak tanah tak terurus lainnya di Madinah. Diikuti kemudian oleh sahabat-sahabat lainnya yang sangat bersemangat untuk dapat hidup mandiri dan produktif.
Bila sebelumnya yang bertani adalah orang Madinah saja, maka karena dorongan perintah Rasulullah Saw. banyak dari kabilah lain yang belajar bertani sehingga pada masa Rasulullah saw. di Madinah muncul kawasan-kawasan pertanian baru yang produktif seperti Wadi Al-Aqiq, Wadi Bathhan, Wadi Mahzuz, Wadi Qanah, Wadi Ranuna, Wadi Al-Qura, Wadi Waj, Wadi Laij, dan sebagainya. Padahal, sebelumnya kawasan-kawasan tersebut adalah kawasan telantar yang hanya ditumbuhi semak belukar.
Produksi adalah bagian paling dasar dalam siklus ekonomi.

Tidak akan ada pasar dan perdagangan tanpa ada barang-barang produksi. Rasulullah Saw. memulainya dari wilayah ini untuk melemahkan dominasi Yahudi. Bila selama ini produk-produk yang digunakan masyarakat Madinah dimonopoli oleh Yahudi dari kawasan-kawasan pertanian mereka, maka Rasulullah SAW. mulai menyainginya dari hasil-hasil produksi lahan baru milik para sahabat. Paling tidak saat panen tiba, kebutuhan kaum Muslim tidak lagi harus bergantung kepada orang-orang Yahudi. Ketika kaum Muslim sudah dapat mandiri, maka posisi tawar kaum Muslim semakin kuat. Apalagi yang mandiri adalah pangan yang merupakan kebutuhan primer manusia.
Kendala yang dihadapi pascaproduksi adalah pemasaran.
Di Madinah pasar-pasar besar adalah milik bangsa Yahudi.

Salah satu pasar paling besar adalah Pasar Banu Qainuqaโ€™ milik Yahudi. Rupanya kekuatan pokok mereka ada di sini.
Dengan cara-cara yang penuh tipuan (gharar dan jahรขlah) disertai dengan praktik riba yang akut, kaum Yahudi berhasil menjerat semua pemilik barang-barang produksi untuk masuk ke pasar mereka.
Masyarakat Madinah sebelum kedatangan Rasulullah Saw. yang tidak terlalu mahir berdagang, tidak sanggup keluar dari lingkaran setan ekonomi ribawi yang dipraktikkan Yahudi di pasar-pasar mereka. Bila tidak mengikuti skema Yahudi ini, para petani tidak dapat memasukkan produk mereka ke pasar.
Agar produk-produk yang sudah dihasilkan umat Islam tidak menjadi makanan baru Yahudi,

maka Rasulullah Saw. berinisiatif untuk membuat pasar baru, minimal bagi kebutuhan umat Islam sendiri.
Bersama Rasulullah Saw. dari Mekah ada sahabat-sahabat yang mahir berdagang seperti Usman ibn Affan, Abdurrahman ibn Auf, Abu Bakar, dan beberapa yang lainnya. Rasulullah Saw. adalah pedagang sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Keahlian-keahlian semacam inilah yang memungkinkan Rasulullah Saw. dapat menjalankan misinya membangun pasar baru.
Mula-mula Rasulullah Saw. membangun semacam tenda di dekat pasar Bani Qainuqaโ€™ khusus untuk jula beli kaum Muslim. Kaโ€™ab Al-Asyraf pemimpin Yahudi sangat marah atas apa yang dilakukan Rasulullah saw. Ia kemudian menghancurkan tenda tersebut agar kaum Muslim kembali bertransaksi ke pasar Bani Qainuqaโ€™.
Rasulullah saw. tidak terpancing oleh Kaโ€™ab, tetapi ia kemudian berkata, โ€œ Demi Allah, aku akan membangun pasar yang akan membuatnya lebih marah lagi.โ€ Setelah Rasulullah Saw. membangun pasar di tempat yang agak jauh dari pemukiman. Kawasan pasar ini kelak dikenal sebagai pasar Manakhah.
Pasar yang dibuat Rasulullah Saw. ini unik dan sungguh-sungguh membuat Yahudi sangat marah atas keberadaannya, karena akhirnya pasar ini sanggup menggusur dominasi pasar orang-orang Yahudi di seantero Madinah.
Oleh Rasulullah Saw. pasar ini dibuat sangat luas dan tidak dibuat bangunan permanen di sana; hanya berupa tanah lapang.
Rasulullah Saw melarang untuk memungut pajak dan kutipan apapun di pasar ini untuk menjaga harga tidak naik di tingkat konsumen.
Lebih unik lagi, Rasulullah Saw memperlakukannya seperti masjid. Siapa saja kaum Muslim bebas datang ke kawasan ini. Tidak boleh ada yang mengkapling-kapling tanah tersebut untuk sendiri.
Setiap orang berhak berdagang di sebelah mana saja sama seperti orang duduk di mesjid bebas di sudut mana saja.
Pengambilan tempat didasarkan pada urutan datang. Siapa yang pertama kali datang, dia berhak untuk memilih tempat mana yang akan dipergunakan. Keunikan ini bertahan hingga masa Khulafaur-Rasyidin.
Tambahan lagi, yang menyebabkan pasar ini semakin diminati oleh banyak konsumen adalah karena pasar ini sangat ketat memperhatikan implementasi ajaran-ajaran muamalah Islam. Di pasar ini tidak boleh ada riba, gharar, dan perjudian.
Diharamkan pula ada yang melakukan kecurangan-kecurangan seperti pengurangan timbangan dan penipuan lainnya. Untuk menjamin semua ini berjalan baik, maka Rasulullah Saw. menunjuk Umar ibn Khathab sebagai pengawas pasar. Umar diberi kewenangan untuk menindak siapa saja yang melakukan kecurangan di pasar ini. Faktor inilah yang menyebabkan pasar ini menjadi lebih diminati bukan hanya oleh kaum Muslim, tapi juga kaum kafir. Secara perlahan tapi pasti, pasar Rasulullah Saw. berhasil menyingkirkan dominasi pasar Yahudi yang sangat merugikan konsumen.

| Meninggalkan komentar

no imei hp hilang

| Meninggalkan komentar

sibuk memperbaiki diri

*โ˜˜ UNTAIAN MUTIARA …๐Ÿ€*

*_Inspirasi hati_:*
*ุจูุณู’ู€ู€ู€ู€ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ูุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู…….*

 

*ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ู‡ ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู……*

*Sibuk Memperbaiki Diri*
_Org yg paling bagus adlh org yg sibuk memperbaiki diri sendiri sblm memperbaiki diri org lain._
 “`Sibuk memperbaiki rumah tangga sendiri sblm sibuk memperbaiki rumah tangga org lain, sibuk mengurus masalah sendiri sblm sibuk mengurus masalah org lain… .sibuk memperbaiki hati sblm sibuk memperbaiki penampilan.
 Kita sering becermin agar berpenampilan sempurna smp kotoran di mata  dibersihkan, kerudung kusut segera dirapikan, baju yg tdk serasi diganti dg yg meching. 
Kita sering terjebak hanya utk merapikan lahiriah saja, padahal Alloh melihat hati batiniah kt dan melihat amal kt, Alloh hanya melihat hatimu dan amalmu, sdh saatnya kt biasakan bertanya ketika kt bercermin, apakah mata ini sering melihat maksyiat? Apakah lisan ini sering menceritakan aib org lain? Apakah wajah ini merasa rupawan? Apakah kaki ini dilangkahkan kpd hal yg bermanfaat? apakah perbuatan yg kt lakukan atas nama manusia?
Berbuat baik sekecil apa pun jk dilakukan dg ikhlas akan mendatangkan pahala.
 Berbuat baik sebesar apa pun jk dilakukan dg riya akan mendatangkan siksa dan dosa, sdh selayaknya kt beramal hanya mengharapkan ridho Alloh. Bekerja hanya krn Alloh, hadir dipengajian hanya krn Alloh, bersedekah hanya krn Alloh, dan mentraktir teman hanya krn Alloh.
Jika semua amal dilakukan hanya krn Alloh, berarti tujuan kt sdh tepat yaitu allohu ghooyatuna Hanya Alloh yg menjadi tujuan hidup dan hidup akan bahagia, bahagia di dunia dan bahagia di akhirat jk semua tujuanya krn Alloh berarti hidup kt sdh lurus. Hidup lurus perlu latihan, jk mengalami tantangan itulah ujian. Ketika ujian dtng mk Alloh persiapkan 2 pahala bagi kt, 
*pertama pahala yg tinggi* dan yg  *ke dua pengampunan dari sgl dosa.*
Kt berharap  menjadi org yg tdk hanya sibuk memperbaiki fisik, diri sendiri tapi lbh sibuk memperbaiki hati dan akhlak. Alloh akan sll membantu hambanya yg berniat baik dan niat baik sll ada jalan dibaliknya kemudahan dan kelancaran. 
Smg Alloh sll menuntun kt kpd jln yg lurus shirothol mustaqiim.Ya Alloh tunjukanlah kami jln yg lurus…“` 
โ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ขโ€โโฆโฆโโ€

โ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ขโœฟโโœฟโ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆ
๐Ÿ•‹ Semoga kita selalu mendapatkan Taufiq dari Allah Ta’ala….Aamiin
๐Ÿ“‰๐Ÿ“ˆ๐Ÿ“‰๐Ÿ“ˆ๐Ÿ“‰๐Ÿ“ˆ๐Ÿ“‰๐Ÿ“ˆ๐Ÿ“‰๐Ÿ“ˆ๐Ÿ“‰๐Ÿ“ˆ

ูˆูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู

| Meninggalkan komentar

mati

*Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmuโ€ฆ..!!!*

————————————————

Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ูŠูุจู’ุนูŽุซู ูƒูู„ูู‘ ุนูŽุจู’ุฏู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ู…ูŽุงุชูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู
“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” 

(HR Muslim no 2878)
Berkata Al-Munaawi, ุฃูŽูŠู’ ูŠูŽู…ููˆู’ุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุนูŽุงุดูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽูŠูุจู’ุนูŽุซู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ “Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu” 

(At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ As-Shogiir 2/859)
Para pembaca yang budimanโ€ฆ kita semua tahu bahwasanya kematian datang tiba-tibaโ€ฆtidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiatโ€ฆ, apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehatโ€ฆ semuanya terjadi tiba-tibaโ€ฆ
 

Seorang penyair berkata :
ุชูŽุฒูŽูˆูŽู‘ุฏู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ู‚ู’ูˆูŽู‰ ููŽุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ู„ุงูŽ ุชูŽุฏู’ุฑููŠ***  ุฅูุฐูŽุง ุฌูŽู†ูŽู‘ ู„ูŽูŠู’ู„ูŒ ู‡ูŽู„ู’ ุชูŽุนููŠู’ุดู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู
Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahuโ€ฆ
Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari
ูˆูŽูƒูŽู…ู’ ู…ูู†ู’ ุตูŽุญููŠู’ุญู ู…ูŽุงุชูŽ ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุนูู„ูŽู‘ุฉู *** ูˆูŽูƒูŽู…ู’ ู…ูู†ู’ ุนูŽู„ููŠู’ู„ู ุนูŽุงุดูŽ ุญููŠู’ู†ุงู‹ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏูŽู‘ู‡ู’ุฑู
Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakitโ€ฆ
Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama
ููŽูƒูŽู…ู’ ู…ูู†ู’ ููŽุชู‹ู‰ ุฃูŽู…ู’ุณูŽู‰ ูˆูŽุฃูŽุตู’ุจูŽุญูŽ ุถูŽุงุญููƒู‹ุง *** ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ู†ูุณูุฌูŽุชู’ ุฃูŽูƒู’ููŽุงู†ูู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุฑูููŠ
Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari
Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar
ูˆูŽูƒูŽู…ู’ ู…ูู†ู’ ุตูุบูŽุงุฑู ูŠูุฑู’ุชูŽุฌูŽู‰ ุทููˆู’ู„ู ุนูู…ู’ุฑูู‡ูู…ู’ *** ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูุฏู’ุฎูู„ูŽุชู’ ุฃูŽุฌู’ุณูŽุงู…ูู‡ูู…ู’ ุธูู„ู’ู…ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู
Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umurโ€ฆ
Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan
ูˆูŽูƒูŽู…ู’ ู…ูู†ู’ ุนูŽุฑููˆู’ุณู ุฒูŽูŠูŽู‘ู†ููˆู’ู‡ูŽุง ู„ูุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ูŽุง *** ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ู‚ูุจูุถูŽุชู’ ุฃูŽุฑู’ูˆูŽุงุญูู‡ูู…ู’ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู
Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelakiโ€ฆ
Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar
 

Tentunya setiap kita berharap dianugrahi husnul khotimahโ€ฆ ajal menjemput tatkala kita sedang beribadah kepada Allahโ€ฆ tatkala bertaubat kepada Allahโ€ฆsedang ingat kepada Allahโ€ฆ , akan tetapi betapa banyak orang yang berharap meninggal dalam kondisi husnul khotimah akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknyaโ€ฆ. Suul khootimahโ€ฆ maut menjemputnya tatkala ia sedang bermaksiat kepada Penciptanya dan Pencipta alam semesta iniโ€ฆ
Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul khotimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allahโ€ฆ hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannyaโ€ฆ pandangannya ia umbarโ€ฆ hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hatiโ€ฆ lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allahโ€ฆ
Ingatlah para pembaca yang budimanโ€ฆ sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankanโ€ฆ
Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :
 

*Kisah Pertama : Kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idriis (190-192 H)*
ุนูŽู†ู’ ุญูุณูŽูŠู’ู† ุงู„ู’ุนูŽู†ู’ู‚ูŽุฒููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูŽู…ูŽู‘ุง ู†ูŽุฒูŽู„ูŽ ุจูุงุจู’ู†ู ุฅูุฏู’ุฑููŠู’ุณูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ุจูŽูƒูŽุชู’ ุงุจู’ู†ูŽุชูู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ุงูŽ ุชูŽุจู’ูƒููŠ ูŠูŽุง ุจูู†ูŽูŠูŽู‘ุฉุŒ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽุชูŽู…ู’ุชู ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉูŽ ุขู„ุงูŽู ุฎูŽุชู’ู…ูŽุฉ
Dari Husain Al-‘Anqozi, ia bertutur :
Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata : “Wahai putriku, jangan menangis! 

Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali” 

(Lihat Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi 13/250, Ats-Tsabaat ‘inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi hal 154)
 

*Kisah kedua :*

*Kisah Abu Bakr bin ‘Ayyaasy (193 H)*
ู„ู…ุง ุญุถุฑุช ุฃุจุง ุจูƒุฑ ุจู† ุนูŽูŠูŽู‘ุงุด ุงู„ูˆูุงุฉู ุจูŽูƒูŽุชู’ ุฃูุฎู’ุชูู‡ู ูู‚ุงู„ : ู„ุงูŽ ุชูŽุจู’ูƒู ุงูู†ู’ุธูุฑููŠ ุฅูู„ู‰ูŽ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ุฒูŽู‘ุงูˆููŠูŽุฉู ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽุชูŽู…ูŽ ุฃูŽุฎููˆู’ูƒูŽ ูููŠ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุฒูŽู‘ุงูˆููŠูŽุฉู ุซูŽู…ูŽุงู†ููŠูŽุฉูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽ ุฃูŽู„ูŽู ุฎูŽุชู’ู…ูŽุฉ
Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin ‘Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. 

Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, “Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatamkan Al-Qur’an di situ sebanyak 18 ribu kali” 

(Lihat Hilyatul Auliyaa’ karya Abu Nu’aim 8/304 dan Taariikh Baghdaad 14/383)
Demikianlah para pembaca yang budimanโ€ฆAhli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 4000 kaliโ€ฆ Abu Bakr bin ‘Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 18 ribu kaliโ€ฆ..semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis iniโ€ฆ waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadiโ€ฆ.
 

*Kisah Ketiga :*

*Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair*
Mush’ab bin Abdillah bercerita tentang ‘Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah :
ุณู…ุน ุนุงู…ุฑ ุงู„ู…ุคุฐู† ูˆู‡ูˆ ูŠุฌูˆุฏ ุจู†ูุณู‡ ูู‚ุงู„: ุฎุฐูˆุง ุจูŠุฏูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุณุฌุฏุŒ ูู‚ูŠู„: ุฅู†ูƒ ุนู„ูŠู„ ูู‚ุงู„: ุฃุณู…ุน ุฏุงุนูŠ ุงู„ู„ู‡ ูู„ุง ุฃุฌูŠุจู‡ ูุฃุฎุฐูˆุง ุจูŠุฏู‡ ูุฏุฎู„ ู…ุน ุงู„ุฅู…ุงู… ููŠ ุตู„ุงุฉ ุงู„ู…ุบุฑุจ ูุฑูƒุน ู…ุน ุงู„ุฅู…ุงู… ุฑูƒุนุฉ ุซู… ู…ุงุช
‘Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat Maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, โ€œPegang tanganku ke mesjidโ€ฆ!!โ€ merekapun berkata, “Engkau dalam kondisi sakit !” , Diapun berkata, โ€Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tangankuโ€ฆ! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat Maghrib bersama Imam berjama’ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. 

(Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)
Inilah kondisi seorang alim yang senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkinโ€ฆ bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa sholat berjama’ahโ€ฆ. Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kitaโ€ฆ yang tatkala dikumadangkan adzan maka hatinya berbisik : “Iqomat masih lamaโ€ฆ., entar lagi aja baru ke mesjidโ€ฆ, biasanya juga imamnya telat ko’โ€ฆ, selesaikan dulu pekerjaanmu.. tanggungโ€ฆ”, dan bisikan-bisikan yang lain yang merupakan tiupan yang dihembuskan oleh Iblis dalam hatinya.
 

*Kisah Di Masa Sekarang :*
*Pertama* : 

*Kisah Penumpang Kapal Mesir โ€œSalim Expressโ€*
Laki-laki ini telah Allah selamatkan dari tenggelam pada kecelakaan kapal, โ€œSalim Expressโ€ menceritakan kisah istrinya yang tenggelam dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji. 

Orang-orang berteriak-teriak โ€œkapal akan tenggelamโ€ maka aku pun berteriak kepada istriku โ€ฆโ€œayo cepat keluar!โ€
Dia pun berkata, โ€œDemi Allah aku tidak akan keluar sampai aku memakai hijabku dengan sempurna.โ€
Suaminya pun berkata,โ€ inikah waktu utk memakai hijab??? 

Cepat keluar! 

Kita akan matiโ€.
Dia pun berkata, โ€œDemi Allah aku tidak akan keluar kecuali jika telah kukenakan hijabku dengan sempurna, seandainya aku mati aku pun akan bertemu Allah dalam keadaan mentaati-Nyaโ€. 

Maka dia pun memakai hijabnya dan keluar bersama suaminya, maka ketika semuanya hampir tenggelam, dia memegang suaminya dan berkata, โ€œAku minta engkau bersumpah dengan nama Allah, apakah engkau ridho terhadapku?โ€ Suaminya pun menangis. 

Sang istripun berkata, โ€Aku ingin mendengarnya.โ€ Maka Suaminya Menjawab, โ€œDemi Allah aku ridho terhadapmu.โ€ 

Maka wanita tersebut pun menangis dan berucap โ€Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullahโ€ senantiasa dia ulangi syahadat tersebut sampai tenggelam.
Suaminya pun menangis dan berkata, โ€œAku berharap kepada Allah agar mengumpulkan aku dan dia di surgaโ€
*Kedua :*

*Kisah Seorang Tukang Adzan (Muadzdzin)*
Dia adalah seorang yang selama 40 tahun telah mengumandangkan adzan, tanpa mengharap imbalan selain wajah Allah. Sebelum meninggal ia sakit parah, maka dia pun didudukkan di atas tepat tidur. Dia tak dapat berbicara lagi dan juga untuk pergi kemasjid. 

Ketika sakit semakin parah diapun menangis, orang-orang disekitarnya melihat adanya tanda-tanda kesempitan di wajahnya. 

Seakan-akan dia berucap ya Allah aku telah beradzan selama 40 tahun, engkau pun tahu aku tidak mengharap imbalan kecuali dari Engkau kemudian akan terhalangi dari adzan di akhir hidupku?. 

Kemudian berubahlah tanda-tanda diwajahnya menjadi kegembiraan dan kesenangan. 

Anak-anaknya bersumpah bahwasanya ketika tiba waktu adzan ayah mereka pun berdiri di atas tempat tidurnya dan menghadap kiblat kemudian mengumandangkan adzan di kamarnya, ketika sampai pada kalimat adzan yang terkahir “laa ilaaha illallahโ€ dia pun jatuh di atas tempat tidurnya. 

Anak-anaknya pun segera menghampirinya, mereka pun mendapati ruhnya telah menuju Allah.
 

Para pembaca yang budimanโ€ฆjika kematian telah tiba maka seluruh harta dan kekuasaan yang telah kita usahakan dan perjuangkan dengan mengerahkan seluruh tenaga dan peras keringat akan sirnaโ€ฆ

*Kisah Khalifah Al-Ma’muun :*
Ketika sakaratul maut mendatanginya diapun memanggil para tabib di sekelilingnya berharap agar bisa menyembuhkan penyakitanya. Tatkala ia merasa berat (parah sakitnya) maka ia berkata, “Keluarkanlah aku agar aku melihat para pasukan perangku dan aku melihat anak buahku serta aku menyaksikan kekuasaanku”, takala itu di malam hari. Maka Khalifah Al-Makmuun pun dikeluarkan lalu ia melihat kemah-kemah serta pasukan perangnya yang sangat banyak jumlahnya bertebaran di hadapannya, dan dinyalakan api. (Tatkala melihat itu semua) iapun berkata, ูŠูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฒููˆู’ู„ู ู…ูู„ู’ูƒูู‡ู ุงูุฑู’ุญูŽู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฏู’ ุฒูŽุงู„ูŽ ู…ูู„ู’ูƒูู‡ู โ€œWahai Dzat yang tidak akan pernah musnah kerajaannyaโ€ฆ Sayangilah orang yang telah hilang kerajaannyaโ€ฆ”. 

Lalu iapun pingsan.
Kemudian datanglah seseorang disampingnya hendak mentalqinnya kalimat syahadah, lalu Khalafah Al-Makmuun membuka kedua matanya tatkala itu dalam keadaan wajahnya yang merah dan berat, ia berusaha untuk berbicara akan tetapi ia tidak mampu. 

Lalu iapun memandang ke arah langit dan kedua matanya dipenuhi dengan tangisan maka lisannya pun berucap tatkala itu, ูŠูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ูŠูŽู…ููˆู’ุชู ุงูุฑู’ุญูŽู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู…ููˆู’ุชู “Wahai Dzat Yang tidak akan mati sayangilah hambaMu yang mati”, lalu iapun meninggal dunia. (Lihat Muruuj Adz-Dzahab wa Ma’aadin Al-Jauhar karya Al-Mas’uudi 2/56 dan Taariik Al-Islaam karya Adz-Dzahabi 15/239)
 

*Kisah Khalifah Abdul Malik bin Marwaan :*
Tatkala ajal menjemput Khalifah Abdul Malik bin Marwaan maka iapun memerintahkan untuk dibukakan pintu istana, tiba-tiba ada seorang penjaga istana yang sedang mengeringkan bajunya di atas batu, maka iapun berkata, “Siapa ini?”, maka mereka menjawab, “Seorang penjaga istana”. 

Maka iapun berkata, “Seandainya aku adalah seorang penjaga istanaโ€ฆ”. 

Ia juga berkata, “Seandainya aku adalah budak miliki seorang yang tinggal di pegunungan Tihaamah, lantas akupun menggembalakan kambing di pegunungan tersebut”.
Diantara perkataan terakhir yang diucapkannya adalah,
ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฅูู†ู’ ุชูŽุบู’ููุฑู’ ุชูŽุบู’ููุฑู’ ุฌูŽู…ู‹ู‘ุงุŒ ู„ูŽูŠู’ุชูŽู†ููŠ ูƒูู†ู’ุชู ุบูŽุณูŽู‘ุงู„ุงู‹ ุฃูŽุนููŠู’ุดู ุจูู…ูŽุง ุฃูŽูƒู’ุชูŽุณูุจู ูŠูŽูˆู’ู…ุงู‹ ุจููŠูŽูˆู’ู…ู
“Yaa Allah, jika engkau mengampuniku maka berilah pengampunanMu yang luas, seandainya aku hanyalah seorang tukang cuci, aku hidup dari hasil penghasilanku sehari untuk kehidupan sehari”
Dan diriwayatkan bahwsanya tatkala Khalifah Abdul Malik bin Marwan sakit parah maka iapun berkata, “Keluarkanlah aku di beranda istanaโ€ฆ”, kemudian ia melihat megahnya kekuasaannya lalu iapun berkata, ูŠูŽุง ุฏูู†ู’ูŠูŽุง ู…ูŽุง ุฃูŽุทู’ูŠูŽุจูŽูƒู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุทูŽูˆููŠู’ู„ูŽูƒู ู„ูŽู‚ูŽุตููŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽู‘ ูƒูŽุจููŠู’ุฑูŽูƒู ู„ูŽุญูŽู‚ููŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ูƒูู†ูŽู‘ุง ู…ูู†ู’ูƒู ู„ูŽูููŠ ุบูุฑููˆู’ุฑู “Wahai dunia sungguh indah engkauโ€ฆ, ternyata lamanya waktumu sangatlah singkat, kebesaranmu sungguh merupakan kehinaan, dan kami ternyata telah terpedaya olehmu”. Lalu iapun mengucapkan dua bait berikut ini :
ุฅูู†ู’ ุชูู†ูŽุงู‚ูุดู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู†ูู‚ูŽุงุดููƒูŽ ูŠูŽุงุฑูŽุจูŽู‘  ุนูŽุฐูŽุงุจู‹ุง ู„ุงูŽ ุทูŽูˆู’ู‚ูŽ ู„ููŠ ุจูุงู„ู’ุนูŽุฐูŽุงุจู
Jika engkau menyidangku wahai Robbku maka persidanganMu itu merupakan sebuah adzab yang tidak mampu aku hadapi
ุฃูŽูˆู’ ุชูŽุฌูŽุงูˆูŽุฒู’ุชูŽ ููŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุฑูŽุจูŒู‘ ุตูŽูููˆู’ุญูŒ  ุนูŽู†ู’ ู…ูุณููŠู’ุกู ุฐูู†ููˆู’ุจูŽู‡ู ูƒูŽุงู„ุชูู‘ุฑูŽุงุจู
Atau jika engkau memaafkan aku maka engkau adalah Tuhan Yang Maha memaafkan dosa-dosa seorang hamba yang bersalah”
(Lihat Mukhtashor Taariikh Dimasyq 5/88-89 dan Al-Kaamil fi At-Taariikh 4/238-239)
Para pembaca yang budimanโ€ฆ. Janganlah terpedaya dengan gemerlapnya dunia iniโ€ฆ
Rasulullah bersabda,
ุฃูŽูƒู’ุซูุฑููˆุง ุฐููƒู’ุฑูŽ ู‡ูŽุงุฏูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ุฐูŽู‘ุงุชู
“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur keledzatan”, yaitu kematian (Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam irwaa al-goliil 3/145)
Imam Al-Qurthubi berkata : “Ketahuilah sesungguhnya mengingat kematian menyebabkan kegelisahan dalam kehidupan dunia yang akan sirna ini, dan menyebabkan kita untuk senantiasa mengarah ke kehidupan akhirat yang abadi.
Seseorang tidak akan terlepas dari dua kondisi, kondisi lapang dan sulit, kondisi di atas kenikmatan atau di atas ujian. 

Jika ia berada pada kondisi sempit dan di atas ujian maka dengan mengingat mati akan terasa ringanlah sebagian ujian dan kesempitan hidupnya, karena ujian tersebut tidak akan langgeng dan kematian lebih berat dari ujian tersebut. Atau jika ia berada dalam kondisi penuh kenikmatan maka mengingat mati akan menghalanginya agar tidak terpedaya dengan kenikmatan tersebut”  

(At-Tadzkiroh 1/123-124)
Imam Al-Qurthubi juga berkata :
ูˆ ูƒุงู† ูŠุฒูŠุฏ ุงู„ุฑู‚ุงุดูŠ ูŠู‚ูˆู„ ู„ู†ูุณู‡ : ูˆ ูŠุญูƒ ูŠุง ูŠุฒูŠุฏ ู…ู† ุฐุง ูŠุตู„ูŠ ุนู†ูƒ ุจุนุฏ ุงู„ู…ูˆุช ุŸ ู…ู† ุฐุง ูŠุตูˆู… ุนู†ูƒ ุจุนุฏ ุงู„ู…ูˆุชุŸ ู…ู† ุฐุง ูŠุชุฑุถู‰ ุนู†ูƒ ุฑุจูŽู‘ูƒ ุจุนุฏ ุงู„ู…ูˆุชุŸ ุซู… ูŠู‚ูˆู„ : ุฃูŠู‡ุง ุงู„ู†ุงุณ ุฃู„ุง ุชุจูƒูˆู† ูˆุชู†ูˆุญูˆู† ุนู„ู‰ ุฃู†ูุณูƒู… ุจุงู‚ูŠ ุญูŠุงุชูƒู…ุŸ ู…ู† ุงู„ู…ูˆุช ุทุงู„ุจู‡ ูˆุงู„ู‚ุจุฑ ุจูŠุชู‡ ูˆุงู„ุซุฑู‰ ูุฑุงุดู‡ ูˆุงู„ุฏูˆุฏ ุฃู†ูŠุณู‡ ูˆู‡ูˆ ู…ุน ู‡ุฐุง ูŠู†ุชุธุฑ ุงู„ูุฒุน ุงู„ุฃูƒุจุฑ ูŠูƒูˆู† ุญุงู„ู‡ุŸ ุซู… ูŠุจูƒูŠ ุญุชู‰ ูŠุณู‚ุท ู…ุบุดูŠุง ุนู„ูŠู‡
Yazzid Ar-Ruqoosyi berkata kepada dirinya : “Celaka engkau wahai Yaziid, siapakah yang akan sholat mewakilimu jika engkau telah meninggal?, siapakah yang akan mewakilimu berpuasa setelah kematianmu?, siapakah yang mendoakan engkau agar Robbmu meridhoimu setelah matimu?”. 

Lalu ia berkata, “Wahai manusia, janganlah kalian menangisi diri kalian sepanjang hidup kalian, barangsiapa yang kematian mencarinya, kuburan merupakan rumahnya, tanah merupakan tempat tidurnya, dan ulat-ulat menemaninya, serta ia dalam kondisi demikian menantikan tibanya hari kiamat yang sangat dahysat maka bagaimanakah kondisinya?”. 

Lalu iapun menangis dan menangis hingga jatuh pingsan. 

(Lihat At-Tadzikorh 1/124)
 

*Kisah Penutup :*
Dari Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal berkata :
ู„ูŽู…ูŽู‘ุง ุญูŽุถูŽุฑูŽุชู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ู’ูˆูŽููŽุงุฉู ุฌูŽู„ูŽุณู’ุชู ุนูู†ุฏู‡ ูˆูŽุจููŠูŽุฏููŠ ุงู„ู’ุฎูุฑู’ู‚ูŽุฉู ู„ุฃูŽุดูุฏูŽู‘ ุจูู‡ูŽุง ู„ูุญู’ูŠูŽูŠู’ู‡ู ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ูŠูŽุนู’ุฑูŽู‚ู ุซูู…ูŽู‘ ูŠููููŠู’ู‚ู ุซูู…ูŽู‘ ูŠูุชุญ ุนูŠู†ูŠู‡ ูˆูŠู‚ูˆู„ ุจูŠุฏู‡ ู‡ูƒุฐุง : “ู„ุงูŽ ุจูŽุนู’ุฏู” ููุนู„ ู‡ุฐุง ู…ุฑุฉู‹ ูˆุซุงู†ูŠุฉู‹ุŒ ูู„ู…ุง ูƒุงู† ููŠ ุงู„ุซุงู„ุซุฉ ู‚ู„ุช ู„ู‡ : ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุฉู ุฃูŽูŠูู‘ ุดูŽูŠู’ุกู ู‡ูŽุฐูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ู„ูŽู‡ูŽุฌู’ุชูŽ ุจูู‡ู ูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ูˆูŽู‚ู’ุชู ุชูŽุนู’ุฑูŽู‚ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ู†ูŽู‚ููˆู’ู„ู ู‚ูŽุฏู’ ู‚ูุจูุถู’ุชูŽ ุซูู…ูŽู‘ ุชูŽุนููˆู’ุฏู ููŽุชูŽู‚ููˆู’ู„ูŽ : ู„ุงูŽุŒ ู„ุงูŽ ุจูŽุนู’ุฏู. ูู‚ุงู„ ู„ูŠ : ูŠุง ุจูู†ูŽูŠูŽู‘ ู…ูŽุง ุชูŽุฏู’ุฑููŠุŸ ู‚ู„ุชู :ู„ุงูŽุŒ ู‚ุงู„ : ุฅุจู„ูŠุณ ู„ุนู†ู‡ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงุฆู… ุญุฐุงุฆูŠ ุนูŽุงุถูู‘ ุนู„ู‰ ุฃูŽู†ูŽุงู…ูู„ูู‡ู ูŠู‚ูˆู„ ู„ูŠ : ูŠุง ุฃุญู…ุฏู ููุชูŽู‘ู†ููŠ ููŽุฃูŽู‚ููˆู’ู„ู ู„ูŽู‡ูŽ : ู„ุงูŽ ุจูŽุนู’ุฏู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุฃูŽู…ููˆู’ุชูŽ
Tatkala kematian mendatangi ayahku maka akupun duduk disampingnya, dan di tanganku ada sepotong kain untuk mengikat dagu beliau (yang dalam keadaan tidak sadarkan diri). 

Maka beliaupun mencucurkan keringat lalu beliau tersadar dan membuka kedua mata beliau dan beliau berkata, “Tidak, belumโ€ฆ!” seraya menggerakkan tangan beliau (memberi isyarat penolakan). 

Lalu beliau melakukan hal yang sama untuk sekali lagi, kedua kali lagi. 

Dan tatkala beliau mengulangi hal ini (mengucapkan : “Tidak, belum..!, seraya menebaskan tangan beliau) untuk ketiga kalinya maka akupun berkata, “Wahai ayahanda, ada apa gerangan?, engkau mengucapkan perkataan ini dalam kondisi seperti ini?”. Engkau mencucurkan keringat hingga kami menyangka bahwa engkau telah meninggal dunia, akan tetapi kembali engkau berkata, “Tidak, tidakโ€ฆ, belumโ€ฆ!”. 

Lalu ia berkata, “Wahai putraku, engkau tidak tahu?”, aku berkata, “Tidak”. 

Ia berkata, “Iblis โ€“semoga Allah melaknatnya- telah berdiri dihadapanku seraya menggigit jari-jarinya, dan berkata, “Wahai Ahmad engkau telah lolos dariku”, maka aku berkata kepadanya, “Tidak, belum, aku belum lolos dan menang darimu hingga aku meninggal” 

(lihat Sifat As-Sofwah 2/357)
Kisah ini mengingatkan kepada kita bahwasanya pertempuran melawan Iblis dan para pengikutnya tidak pernah berhenti hingga maut menjemput kita. 

Kita tidak boleh pernah lalai dan merasa telah mengalahkan Iblis, karena Iblis dan para pengikutnya akan senantiasa mengintai dan mencari celah-celah untuk menjeremuskan kita sehingga bisa menemaninya di neraka Jahannam yang sangat panasโ€ฆ.!!!!, Maka wasapadalah selaluโ€ฆ melawan musuh yang melihatmu padahal engkau tidak melihatnyaโ€ฆ musuh yang senantiasa mendatangimu dari arah depan, belakang, kanan, dan kiri sementara engkau dalam keadaan lalaiโ€ฆ. Musuh yang sudah sangat berpengalaman dalam menjerumuskan anak keturunan Adam dengan berbagai metode dan jeratโ€ฆ. Hanya kepada Allahlah kita mohon keselamatan dari musuh yang seperti ini modelnyaโ€ฆ walaa haulaa wa laa quwwata illaa billaaah
 

Saudaraku yang muliaโ€ฆ!!
Allah Yang Maha Mulia telah memberlakukan sunnatullahNya bahwasanya : โ€œOrang yang hidup di atas sesuatu pola/model kehidupan maka ia pun akan mati di atas model tersebut, dan kelak ia akan dibangkitkan di atas model tersebutโ€
Siapkanlah dirimu menyambut tamu yang akan mendatangimu secara tiba-tibaโ€ฆyaitu kematian, jangan sampai tamu tersebut menemuimu dalam kondisi engkau sedang bermaksiat kepada Robbmu.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengamalkan ilmunya.

Madinah, 28 06 1432H / 31 05 2011M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
http://www.firanda.com
 
Shared from Firanda.com for android http://bit.ly/Firanda

| Meninggalkan komentar

Rezeki

๐Ÿž *REZEKIโ€ฆ*

โœOleh : Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc,  ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

Yang kerja keras belum tentu mendapat banyak.

Yang kerja sedikit belum tentu mendapat sedikit.
Karena sesungguhnya sifat Rezeki adalah mengejar, bukan dikejar.

Rezeki akan mendatangi, bahkan akan mengejar, hanya kepada orang yang pantas didatangiโ€ฆ.
Maka, pantaskan dan patutkan diri untuk pantas di datangi, atau bahkan dikejar rezeki. Inilah hakikat ikhtiarโ€ฆ
Setiap dari kita telah ditetapkan rezekinya sendiri-sendiri.
Karena ikhtiar adalah kuasa manusia, namun rezeki adalah kuasa Allah Azza Wajalla.

Dan manusia tidak akan dimatikan, hingga ketetapan rezekinya telah ia terima, seluruhnya.
Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk harta,

Ada yang diluaskan dalam bentuk kesehatan,

Ada yang diluaskan dalam bentuk ketenangan, keamanan,

Ada yang diluaskan dalam kemudahan menerima ilmu,

Ada yang diluaskan dalam bentuk keluarga dan anak keturunan yang shalih,

Ada yang dimudahkan dalam amalan dan ibadahnyaโ€ฆ

Dan yang paling indah, adalah diteguhkan dalam hidayah Islamโ€ฆ
Hakikat Rezeki bukanlah hanya harta, rezeki adalah seluruh rahmat Allah Taโ€™alaโ€ฆ
*Adapun 8 JENIS REZEKI DARI ALLAH TAโ€™ALA*
*1. Rezeki Yang Telah Dijamin.*
โ€ŽูˆูŽู…ูŽุง ู…ูู† ุฏูŽุงุจูŽู‘ุฉู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฑูุฒู’ู‚ูู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูุณู’ุชูŽู‚ูŽุฑูŽู‘ู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูุณู’ุชูŽูˆู’ุฏูŽุนูŽู‡ูŽุง ูƒูู„ูŒู‘ ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจู ู…ูู‘ุจููŠู†ู
โ€œTidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya.โ€ (Surah Hud : 6).
*2.  Rezeki Karena Usaha.*
โ€ŽูˆูŽุฃูŽู† ู„ูŽู‘ูŠู’ุณูŽ ู„ูู„ู’ุฅูู†ุณูŽุงู†ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽุง ุณูŽุนูŽู‰
โ€œTidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya.โ€ (Surah An-Najm : 39).
*3. Rezeki Karena Bersyukur.*
โ€Žู„ูŽุฆูู† ุดูŽูƒูŽุฑู’ุชูู…ู’ ู„ูŽุฃูŽุฒููŠุฏูŽู†ูŽู‘ูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุฆูู† ูƒูŽููŽุฑู’ุชูู…ู’ ุฅูู†ูŽู‘ ุนูŽุฐูŽุงุจููŠ ู„ูŽุดูŽุฏููŠุฏูŒ
โ€œSesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.โ€ (Surah Ibrahim : 7).
*4. Rezeki Tak Terduga.*
โ€ŽูˆูŽู…ูŽู† ูŠูŽุชูŽู‘ู‚ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽุฎู’ุฑูŽุฌู‹ุง( ) ูˆูŽูŠูŽุฑู’ุฒูู‚ู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุญูŽูŠู’ุซู ู„ูŽุง ูŠูŽุญู’ุชูŽุณูุจู
โ€œBarangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberi nya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.โ€ (Surah At-Thalaq : 2-3).
*5. Rezeki Karena Istighfar.*
โ€ŽููŽู‚ูู„ู’ุชู ุงุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููˆุง ุฑูŽุจูŽู‘ูƒูู…ู’ ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ุบูŽููŽู‘ุงุฑู‹ุง ( ) ูŠูุฑู’ุณูู„ู ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู… ู…ูู‘ุฏู’ุฑูŽุงุฑู‹ุง
โ€œBeristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.โ€ (Surah Nuh : 10-11).
*6. Rezeki Karena Menikah.*
โ€ŽูˆูŽุฃูŽู†ูƒูุญููˆุง ุงู„ู’ุฃูŽูŠูŽุงู…ูŽู‰ูฐ ู…ูู†ูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ุงู„ูุญููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏููƒูู…ู’ ูˆูŽุฅูู…ูŽุงุฆููƒูู…ู’ ุฅูู† ูŠูŽูƒููˆู†ููˆุง ููู‚ูŽุฑูŽุงุกูŽ ูŠูุบู’ู†ูู‡ูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู† ููŽุถู’ู„ูู‡ู
โ€œDan nikahkanlah orang-orang yg masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan ke- cukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya.โ€ (Surah An-Nur : 32).
*7. Rezeki Karena Anak.*
โ€ŽูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ู’ุชูู„ููˆุง ุฃูŽูˆู’ู„ูŽุงุฏูŽูƒูู…ู’ ุฎูŽุดู’ูŠูŽุฉูŽ ุฅูู…ู’ู„ูŽุงู‚ู ู†ูŽู‘ุญู’ู†ู ู†ูŽุฑู’ุฒูู‚ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฅููŠูŽู‘ุงูƒูู…ู’
โ€œDan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.โ€ (Surah Al-Israaโ€™ : 31).
*8. Rezeki Karena Sedekah*
โ€Žู…ูŽู‘ู† ุฐูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠูู‚ู’ุฑูุถู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู‚ูŽุฑู’ุถู‹ุง ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ููŽูŠูุถูŽุงุนูููŽู‡ู ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุถู’ุนูŽุงูู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑูŽุฉู‹
โ€œSiapakah yang mahu memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.โ€ (Surah Al-Baqarah : 245).
REHAT SEJENAK AGAR BISA KITA BISA MERENUNGKAN DAN MEMETIK FAEDAH DARI NYA๐Ÿ‘‡๐Ÿพ๐Ÿ‘‡๐Ÿพ

๐Ÿ“š Posted on FB account of Ustadz Zainal Abidin
http://bbg-alilmu.com/archives/29995
***๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ***

| Meninggalkan komentar