atha bin rabbah dan raja sulaimna

Sulaiman bin ‘Abdil Malik kala itu menjabat sebagai khalifah. Dia adalah raja paling agung di muka bumi. Ia sedang melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah. Kepalanya terbuka, kedua kakinya tiada beralas. Ya, dia hanya mengenakan sarung dan selendang, sama halnya dengan rakyat dan saudara-saudaranya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.Kedua anaknya menyertai di belakang. Keduanya bak bulan purnama, tampan lagi rupawan. Ibarat sekuncup mawar, wangi lagi berseri.

Seusai menunaikan thawaf, ia langsung menemui orang kepercayaannya.

“Dimana teman kalian?” tanyanya.

“Dia  disana, sedang shalat,” jawab orang kepercayaannya sambil menunjuk ke arah barat Masjidil Haram.

Sang Khalifah pun mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk, diikuti oleh kedua anaknya. Para pengawal mengiringi Khalifah guna membuka dan mengamankan jalan dari kerumunan dan desakan manusia. Namun, ia mencegahnya.

“Tempat ini tidak membedakan raja dengan rakyat jelata. Tidak ada yang lebih mengutamakan seseorang atas orang lain selain amalan dan takwa. Bisa jadi, orang yang pakaiannya kusut dan berdebu lebih diterima oleh Allah subhanahu wa ta’aladaripada seorang raja.”

Ia pun berlalu menghampiri laki-laki itu. Ternyata, ia masih asyik masyuk dalam shalatnya, hanyut dan tenggelam dalam rukuk dan sujud. Sementara itu, manusia duduk di belakang, samping kanan, dan samping kirinya. Sang Khalifah akhirnya duduk di ujung majelis bersama kedua anaknya.

Dua anak bangsa Quraisy –putra sang Khalifah- memperhatikan dengan cermat laki-laki yang dimaksud oleh Amirul Mukminin. Ia pun duduk bersama manusia lainnya sambil menunggu sang laki-laki menyelesaikan shalatnya.

Ternyata, ia adalah lelaki tua dari negeri Habasyah. Kulitnya hitam legam. Rambutnya keriting, hidungnya pun pesek. Ya, kalau duduk, ia mirip dengan seekor gagak hitam.

Seusai shalat, orang tua itu menolehkan pandangannya ke arah tempat duduk Khalifah. Serta merta, Sulaiman bin ‘Abdil Malik mengucapkan salam penghormatan kepadanya. Ia pun membalasnya dengan salam penghormatan yang sama.

Kesempatan itu digunakan oleh sang Khalifah untuk bertanya tentang manasik haji kepada orang tua itu secara rinci dan beruntun. Sebaliknya, orang tua itu menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan terperinci. Ia jelaskan detail permasalahan sehingga tidak membutuhkan lagi penjelasan tambahan. Setiap jawaban dan pendapat ia landasi dengan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Usai dari pertanyaan dan konsultasi, sang Khalifah mendoakan kebaikan untuk orang tua itu, yaitu doa agar ia dibalas dengan kebaikan.

“Berdirilah kalian berdua!”

Sang Khalifah memerintah kedua putranya untuk berdiri. Keduanya pun berdiri.

Mereka menuju tempat sa’i. Di tengah perjalanan sa’i, diantara Shafa dan Marwah, kedua anak itu mendengar orang-orang berseru.

“Wahai kaum muslimin, tidak ada yang berhak berfatwa untuk manusia di tempat ini selain ‘Atha’ bin Abi Rabah. Kalau dia tidak ada, maka ‘Abdullah bin Abi Najih.”

Salah satu dari dua pemuda itu menoleh ke arah sang ayah.

“Mengapa petugas Amirul Mukminin menyuruh agar tidak meminta fatwa selain kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah? Padahal kita tadi meminta fatwa kepada orang yang tidak mendahulukan Khalifah, tidak juga memberikan penghormatan kepadanya?” tanya pemuda itu kepada ayahnya.

“Ya, dialah ‘Atha bin Abi Rabah, wahai anakku!” jawab Sulaiman.

“Dialah orang yang kita beri penghormatan tadi. Orang itulah yang berhak berfatwa di Masjidil Haram. Dialah pewaris ‘Abdullah bin ‘Abbas.”

“Wahai anakku, pelajarilah ilmu. Ilmu menjadikan orang rendahan terhormat. Dengan ilmu, orang akan dikenal dan menjadi mahsyur. Dengan ilmu pula, para budak akan melampaui kedudukan para raja.”

Sulaiman bin ‘Abdil Malik tidaklah berlebihan menyebutkan keutamaan ilmu (yakni ilmu agama) kepada sang anak. Tidakkah anda tahu, ‘Atha bin Abi Rabah rahimahullah dahulu adalah budak milik seorang wanita penduduk Mekah? Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memuliakan budak Habasyah ini semenjak ia pijakkan kakinya di atas jalan ilmu 

‘Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah membagi waktunya menjadi tiga.

Sebagian ia peruntukkan untuk sang majikan. Ia mengabdi dan berkhidmat serta menunaikan hak sang majikan dengan sebaik-baiknya.

Sebagian waktunya ia gunakan untuk Rabb-nya. Ia menyendiri dan berkonsentrasi untuk beribadah kepada-Nya kemudian berusaha mengikhlashkannya.

Sebagian yang lainnya ia gunakan untuk menuntut ilmu agama. Ia gunakan waktu tersebut untuk duduk bersimpuh menghadap para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih hidup. Mulailah ‘Atha bin Abi Rabah rahimahullahmeneguk ilmu dari sumbernya yang masih jernih lagi murni.

Ia pun belajar dan mengambil ilmu dari Abu Hurairah, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin Az-Zubair dan para shahabat mulia yang lainnya radhiyallahu ‘anhum ‘ajmain. Dadanya pun penuh dengan ilmu, fikih, dan riwayat dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tatkala sang majikan mengetahui bahwa budaknya telah menjual dirinya sendiri untuk Allah subhanahu wa ta’ala, mengonsentrasikan diri, dan menghabiskan kehidupannya untuk menuntut ilmu agama, ia pun membebaskannya dan memberikan haknya. Ya, sang majikan membebaskannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allahsubhanahu wa ta’ala. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan manfaat melalui dirinya untuk Islam dan kaum muslimin.

Sejak saat itu, ‘Atha’ bin Abi Rabah menjadikan Baitul Haram sebagai tempat berteduhnya. Ia fungsikan Masjidil Haram sebagai rumah untuk berlindung, madrasah tempat belajar, dan tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’aladengan amalan ketaatan dan takwa.

Sampai-sampai, para ahli dan pakar sejarah menyatakan bahwa ‘Atha’ bin Abi Rabah menjadikan masjid sebagai tempat tidShur

| Meninggalkan komentar

atha bin rabbah

Atha bin Abi Raba dilahirkan di sebuah desa di negeri Yaman yang bernama Al-Janad di masa kekhalifahan Utsman bin Affan dan wafat pada tahun 114 H. Ayahnya dikenal dengan Abu Rabah Aswadan, nama aslinya Aslam dan ibunya bernama Barokah.

Atha adalah seorang yang berkulit hitam legam, berambut keriting, dan berbibir tebal. Semasa di Mekah ia menjadi budak dari seorang wanita yang bernama Habibah binti Maisarah bin Abi Hutsaim. Pada masa itu, ia membagi waktunya menjadi tiga bagian dengan sesempurna-sempurnanya: ibadah kepada Allah, menuntut ilmu dari para sahabat, dan melayani majikannya sebaik mungkin.

Tatkala sang tuan melihat budaknya ini mempunyai semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu dan berkhidmat kepada agama Allah, maka ia pun berinisiatif untuk membebaskannya dan mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bebaslah Atha dari belenggu perbudakan yang membatasi gerak-geriknya dalam meraih keutamaan di jalan Allah. Ia menjadi orang yang merdeka dan hanya menjadi budakAllah Ta’ala, Dzat yang telah menciptakan seluruh alam semesta ini. Hingga dua puluh tahun berikutnya, ia tinggal di masjidil haram. Sejak saat itu, hidupnya dihabiskan untuk dua hal saja, yaitu beribadah kepada Allah dan menuntut ilmu dari para sahabat. Guru-guru Atha bin Abi Rabah, adalah para Sahabat Nabi, yang terkenal dalam dan luas ilmunya, seperti Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dll.

Dibandingkan dengan manusia lainnya, ‘Atha termasuk manusia pilihan yang sangat patut diteladani dalam hal kedisiplinan. Sangat jarang orang yang mampu berdisiplin sepertinya. Ia mendisiplin dirinya sehingga selama hidupnya tidak pernah sekalipun melakukan hal yang tidak bermanfaat sebagaimana yang dilakukan oleh pemuda-pemuda kebanyakan, dan selama hidupnya ia tidak pernah ngobrol dan bercanda. Pernah dalam suatu perjalanan ia melihat sebuah kota yang telah ditinggalkan penghuninya, lalu ia berfikir : “Kapan kota ini didirikan?” Kemudian ia menyesali diri karena memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat dan karenanya ia menghukum dirinya untuk berpuasa selang-sehari selama setahun penuh. Waktunya seumur hidupnya selalu dihabiskan untuk belajar, berfikir dan beribadah.

Maka sesuai dengan firman Allah,”“Allah akan meninggikan orangorang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS.Al Mujadalah:11), pada masanya tak ada yang berani memberikan fatwa di Masjidil Haram kecuali dirinya, karena hormat akan kedalaman dan keluasan ilmu agama yang dimilikinya, sehingga ia dijuluki SAYYIDUL FUQAHA AL HIJAZ (Pemimpin para ahli Fiqh di Makkah dan Madinah. Telah diriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Umar sedang menuju ke Mekkah untuk beribadah umrah. Lalu orang-orang menemuinya untuk bertanya dan meminta fatwa, maka ‘Abdullah berkata, “Sesungguhnya saya sangat heran kepada kalian, wahai penduduk Makkah, mengapa kamu mengerumuniku untuk menanyakan suatu permasalahan, sedangkan di tengah-tengah kalian sudah ada ‘Atha’ bin Abi Rabah?!.”

Meskipun demikian, ‘Atha tetaplah rendah hati. Imam Ibnu Abi Laila mengatakan, “Aku pernah berjumpa dengan Atha. Lalu ia menanyakan beberapa hal kepadaku. Maka sahabat-sahabat Atha tercengang keheranan seraya mengatakan, ‘bagaimana mungkin engkau yang bertanya kepadanya?’ Atha menjawab, ‘apa yang kalian herankan? Dia orang yang lebih berilmu daripada saya.”

Wara’

Perangai mulia yang lainnya adalah wara’ dan menjaga diri dari melanggar keharaman-keharaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hakikat penghambaan diri seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjauhkan dirinya dari segala yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan termasukwara’ adalah menjaga lisan dari mengucapkan sesuatu yang tidak didasari dengan ilmu dan bayyinah(bukti).

Abu Khaitsamah dari Abdul Aziz bin Rafi’ berkata: “Atha pernah ditanya tentang suatu masalah lalu ia menjawab, “Aku tidak tahu.” Lalu ada yang mengatakan, “Mengapa engkau tidak menajawab saja pertanyaan tersebut dengan pendapatmu.” Ia menjawab, “Sungguh, aku malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila ada seorang beragama di muka bumi ini hanya berpedoman pada pendapatku.”

Muhammad bin Suqoh mengatakan, “Maukah kalian aku ceritakan sesuatu yang bermanfaat bagi kalian seabagaimana juga bermanfaat bagiku?” Mereka menjawab, “Tentu.” Kemudian ia menceritakan tentang Atha, “Suatu ketika Atha bin Abi Rabah menasihatiku dengan mengatakan, ‘wahai anak saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita (para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam) membenci banyak bicara.’ Aku pun bertanya, ‘Apa sajakah yang termasuk banyak bicara menurut mereka?’ Ia mengatakan, ‘Sesungguhnya mereka (para sahabat) menganggap banyak bicara apabila seseorang mengatakan perkataan selain kitabullah yang dibaca dan dipahami, atau hadis-hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diriwayatkan, atau mengajak kepada yang baik dan mencegah dari yang jelek dan hina, atau berbicara suatu ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau membicarakan kebutuhan hidup. Tidakkah kalian ingat “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (Q.S. al-Infithor: 10-11).

Lalu ia menasihatkan, “Tidakkah kalian malu seandainya kelak lembaran-lembaran catatan amalan dibentangkan lalu di dalamnya dijumpai kebanyakan perkara-perkara yang bukan termasuk dari bagian agama tidak pula dunia?!!.”

Zuhud

Dunia telah berdatangan kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah namun dia berpaling dan menolaknya dengan keras Dia hidup sepanjang umurnya hanya dengan mengenakan baju yang harganya tidak melebihi lima dirham.

Para khalifah telah mengundangnya supaya dia menemani mereka. Akan tetapi bukan dia tidak memenuhi ajakan mereka, karena mengkhawatirkan agamanya daripada dunianya; akan tetapi disamping itu dia datang kepada mereka jika dalam kedatangannya ada manfaat bagi kaum muslimin atau ada kebaikan untuk Islam.

Seperti yang dikisahkan oleh Utsman bin Atha Al-Khurasany, dia berkata, “Aku di dalam suatu perjalanan bersama ayahku, kami ingin berkunjung kepada Hisyam bin Abdul Malik. Ketika kami telah berjalan mendekati Damaskus, tiba-tiba kami melihat orang tua di atas Himar hitam, dengan mengenakan baju jelek dan kasar jahitannya. serta memakai jubah lusuh dan berpeci. Tempat duduknya terbuat dari kayu, maka aku tertawakan dia dan aku berkata kepada ayah, “Siapa ini?” Maka ayah berkata, “Diam, ini adalah penghulu ahli fiqih penduduk Hijaz ‘Atha’ bin Abi Rabah.” Ketika orang itu telah dekat dengan kami, ayah turun dari keledainya.

Sampai di pintu istana, Khalifah Hisyam sambut Atha dg lebih istimewa dibanding orang yg bersamanya. Didudukkan Atha di tempat mewah. Lutut Khalifah begitu dekat dg lututnya. Semua tamu dr kalangan bangsawan terdiam menunggu Atha angkat bicara.

Bertanyalah Khalifah Hisyam kepada Atha bin Abi Rabah, “Wahai Abu Muhammad, apakah kebutuhanmu?”

Atha menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, bertakwalah kepada Allah atas apa yang Allah dan rasul-Nya larang dan hendaklah Anda jalankan kepemimpinan dengan bijaksana. Bertakwalah kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala terhadap urusan muhajirin dan ansar, karena merekalah Anda memiliki singgasana. Bertakwalah atas urusan kaum muslim yang tinggal di perbatasan negeri, karena merekalah perisai dan pertahanan kaum muslim. Tunaikan seluruh perkara kaum muslim karena Andalah yang bertanggung jawab tentangnya. Dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang-orang lemah, janganlah Anda pancangkan palang pintu istana untuk mereka.” Maka Amirul Mukminin menjawab, “Semua itu akan kulakukan.”

Lalu Atha pun berdiri. Abdul Malik segera meraih tangannya seraya berucap, “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya engkau dari tadi memintakan urusan orang lain kepadaku dan aku berjanji akan menunaikannya, namun engkau sendiri apa yang menjadi kebutuhanmu?” Atha menjawab, “Saya tidak meminta kepada makhluk akan kebutuhan saya.”

Dan ketika kami telah sampai ke pintu, ternyata ada seseorang yang mengikuti ‘Atha dengan membawa kantong, dan orang itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya Amirul mu’minin mengirim ini kepada anda.” Maka ‘Atha’ berkata, “Maaf aku tidak akan menerima ini.”
“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam ” (Asy-Syuara’, ayat:109)
Demi Allah, Sesungguhnya ‘Atha’ menemui Khalifah dan keluar dari sisinya tanpa meminum setetes air pun.

Selanjutnya ‘Atha’ bin Abi Rabah dikaruniai umur panjang hingga seratus tahun. Umur itu dia penuhi dengan ilmu, amal, kebaikan dan takwa. Dia membersihkannya dengan zuhud dari kekayaan yang ada di tangan manusia dan sangat mengharap ganjaran yang ada di sisi Allah.

Atha bin Abi Rabah meninggal dunia pada tahun 114 atau 115 Hijriah dalam umur 88 tahun. Ketika dia wafat, ribuan orang menshalatkan sampai-sampai di masjidil Haram dilaksanakan shalat janazah berkali-kali karena banyaknya yang ingin menshalatkan. Dan ketika mereka mengangkat jenazahnya, maka mereka semua terheran-heran karena mayatnya sangat ringan seperti bulu, sebab tidak sedikitpun membawa keduniaan serta dipenuhi oleh berbagai bekal untuk akhirat yang banyak.

| Meninggalkan komentar

hari penyesalan

Salah satu nama dari nama-nama hari kiamat adalah “Hari Penyesalan”. Disaat semua kesempatan telah tertutup dan hanya tersisa pertanggung jawaban. Di hari itu semua orang akan menyesal. Pelaku keburukan menyesali dosa dan kesalahannya sementara orang-orang baik juga menyesal, andai dulu mereka lebih banyak melakukan kebaikan. Allah swt berfirman,

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman.” (QS.Maryam:39)

Di hari itu orang-orang yang dzalim berusaha menyembunyikan penyesalan mereka ketika melihat adzab yang begitu dahsyat.

وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِي الأَرْضِ لاَفْتَدَتْ بِهِ وَأَسَرُّواْ النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُاْ الْعَذَابَ

“Dan kalau setiap orang yang zalim itu (mempunyai) segala yang ada di bumi, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. (QS.Yunus:54) *Juga pada ayat (Saba’:33)

Kita akan temukan banyak sekali kalimat-kalimat penyesalan yang diabadikan didalam Al-Qur’an. Kalimat itu diucapkan oleh orang-orang yang celaka di hari kiamat. Dan ucapan penyesalan itu selalu disertai kalimat (يَا لَيْتَنِي) “Sekiranya aku ….” ataupun (يَا لَيْتَنَا)“Sekiranya kami ….”.

Mari kita simak ayat-ayat berikut :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.” (QS.al-Furqan:27)

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً

“Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku).” (QS.al-Furqan:28)

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيهْ

Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku.” (QS.al-Haqqah:25)

إِنَّا أَنذَرْنَاكُمْ عَذَاباً قَرِيباً يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَاباً

Sesungguhnya Kami telah Memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata,“Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.”(QS.an-Naba’:40)

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” (QS.al-Fajr:24)

وَلَوْ تَرَىَ إِذْ وُقِفُواْ عَلَى النَّارِ فَقَالُواْ يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلاَ نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS.al-An’am:27)

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS.al-Ahzab:66)

Sungguh penyesalan yang tak berarti. Sebesar apapun penyesalan yang mereka ungkapkan tidak akan mampu merubah keadaan mereka di hari itu. Sementara kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Maka mari kita berlomba untuk menabung amal dan berubah untuk menjadi lebih baik sebelum datangnya hari penyesalan. Tidak ada yang dapat merubah nasib kita di hari itu, karena yang tersisa hanya pertanggung jawaban.

| Meninggalkan komentar

survey kepuasan siswa

mohin bnatuan siswa smk muhammadiyah utk mengisi survey ini..

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLScUCT2QElLeE-GzXZryivaKmXTo04tRQ9dFxHLsU7bxc4G2dA/formResponse

Terima kasih

| Meninggalkan komentar

anakisa kang emil gabung ke naddem

Ust Sirod Gnpf Jkt:

Analisa sedikit soal deklarasi Kang Emil oleh Nasdem… 
Pak M Ridwan Kamil adalah salah satu contoh baik bahwa demokrasi one man one vote Bisa menghasilkan tokoh dengan segudang prestasi. Persoalan RK mengambil dukungan Nasdem mari kita lihat hitung-hitungan politik berikut ini: 
1. Parpol hanya bisa mengeluarkan pasangan calon dengan minimal perolehan 20% kursi di DPRD. Artinya PDIP(20) sebagai pemenang pemilukada di Jabar sangat punya kekuatan dan daya tawar paling tinggi terhadap paslon.
https://m.detik.com/news/berita/d-3449636/hanya-pdip-yang-bisa-usung-calon-sendiri-di-pilgub-jabar-2018
2. Golkar sebagai runner up, 17 kursi jelas akan memprioritaskan Kang Dedi Mulyadi di mana beliau telah menunjukkan kekuatannya dengan menjadi ketua DPD Golkar Jabar secara aklamasi. 
http://regional.kompas.com/read/2016/04/23/18230711/Dedi.Mulyadi.Terpilih.Jadi.Ketua.DPD.Golkar.Jabar.secara.Aklamasi
Kang Dedi bupati Purwakarta ini juga memiliki kemampuan personal branding yg tak kalah dengan Kang RK, artinya jika keduanya maju sebagai cagub, rakyat jabar punya pilihan yang semakin variatif dan sama-sama bagus ditilik dari popularitas dan gebrakan kepemimpinan mereka berdua. 
3. Gerindra(11) – PKS(12), adalah parpol pengusung RK dahulu, tapi ingat politik adalah saat ini, kita tidak akan bicarakan masa lalu, kalkulasi politik saat ini yang akan dipertimbangkan. Dengan total kursi keduanya yang dijumlahkan 23 kursi, maka keduanya dapat mengulang aliansi strategis dengan mengusung paslon baru atau mendukung salah satu kalau gak RK ya DM. 
4. Demokrat (12), kepindahan Kang Saan Mustopa  (karawang) dari partai ini ke Nasdem jelas kini telah memunculkan akibatnya. Kekuatan lobby Kang Saan mengajak Nasdem mendukung RK ke Jabar 1 jelas menunjukkan kerugian bagi Demokrat. Mungkin Demokrat dapat sekali lagi reunian dengan partai-partai pendukungnya PPP(9) dan PAN(4) untuk membuat “partai tambahan” seperti munculnya Agus-Silvy di DKI kemarin,  sehingga tetap dapat eksis dan memunculkan pesan-pesan politik baik pada rakyat pemilih atau “para sponsor”. 
5. Nah Nasdem yang cuma dapat 5 kursi ini sebenarnya gak terlalu ngaruh dalam konstalasi politik di Jabar. Tetapi Nasdem buat saya adalah PKS-nya kelompok sekuler liberal. Militansi, kaderisasi plus TV Corong yang secara militan mendukung kepentingan politiknya adalah kekuatan partai ini. Dengan mencalonkan di depan, setidaknya Nasdem memiliki kartu bagus dalam lobby-lobby selanjutnya dengan RK nanti, sebagaimana PBB Yusril ketika mendukung SBY dulu.

| Meninggalkan komentar

utk ajoker

A. Hasan:

Untuk Para Ahokers
Kalian itu tidak perlu lah protes atau keberatan segala terhadap spanduk-spanduk penolakan mensholati dan mengurusi bangkai para pembela Kâfir Terdakwa Penista Kitabullah.
Iya, bukankah kalian ketika hidup merasa kuat dan banyak, lalu kalau sudah mati, kenapa kalian jadi takut mati sendirian ? Takut tidak diurusi, tidak disholatkan ? Jangan cemen dong ah…!?!
Kalau jadi orang itu jangan nanggung-nanggung. Kalau saat hidup nekad meninggalkan syari‘at, kenapa saat sudah mati dan jadi bangkai mendadak syar‘i ? Yang kâffah dong ah….
Padahal, kalau memang tetangga atau pengurus Masjid tidak mau mengurusi bangkai kalian, ya kalian pergi saja ke sesama pembela si Kâfir Terdakwa Penista Kitabullah itu ?
Atau kalau tidak, coba dong kalian pergi ke tempat ibadah agama lain. Barangkali pemuka agama lain mau mengurusi bangkainya. Bukankah itu adalah bentuk “toleransi” dan itu kebhinekaan banget…?
Jadi nggak usah lah memaksa-maksa Muslim lain untuk mengurusi bangkai kalian, sebab selama hidup kalian maunya menyampur-nyampur agama, milih-milih syari‘at agama ala hidangan prasmanan. Jadi pas giliran mati, ngga masalah dong dicampur-campur juga ??
Bangkainya dimandikan seperti biasa, lalu dibajuin pakai jas ala agama lain, dan kemudian dibakar ala agama lainnya juga.
Atau mau dibakar ala Nusantara juga boleh… dioles saus kecap manis, atau pakai sambal kacang… kalau suka saus tiram, atau mau pakai saus Padang, juga boleh… terus dikalengin dan dibuang di kawah di puncak gunung Bromo sana. Nusantara banget kan…?
Adapun untuk upacara dan do’a kematiannya, maka bisa pakai MP3. Kalau kebetulan duitnya banyak, maka bisa adakan live concert “Salam Kematian 2 Jari” dengan mengundang artis papan atas, papan tengah, sampai ke artis papan bawah, dan dari semua genre. Keren banget secara standard kalian, kan?
Liberalisasi kematian juga perlu dilakukan agar benar-benar saat hidup jadi “orang bebas” yang tidak nanggung-nanggung, dan saat sudah mati dan jadi bangkai pun tidak nanggung-nanggung?
Kalian juga jangan jadi pengecut gitu lah? Masa baru diancam tidak dishôlati saja sudah pada cengeng begitu? Ayo dong tunjukkan kenyolotan, kengeyelan, kegarangan, dan kenekatan yang biasa kalian tampilkan di Sosmed itu?
Oh iya, kalian kan pernah bilang hormati orang yang tidak puasa? Nah, sekarang fair dong dengan MENGHORMATI MUSLIM YANG TAK MAU MENSHOLATI BANGKAI MUNAFIQUN ? Adil kan…?
Lagian, kalian harusnya konsisten dong kalau memang benci sama budaya ‘Arab ? Jangan nanggung nangung ah…
Iya, sebab kalau kalian mati, terus dimandikan, dikafani, disholatkan, lalu dikuburkan di pekuburan Muslim, maka yang seperti itu adalah budayanya orang ‘Arab. Padahal kalian katanya anti banget sama yg bau-bau ‘Arab ?
Lagian kalian kan sering banget mengatakan: “jangan bawa-bawa agama” Lalu kenapa pas sudah mati dan jadi bangkai, harus diurus secara syari‘at agama ? Urusi saja sama keluarga masing-masing suka-suka sendiri. Jangan jadikan bangkai kalian jadi urusan masyarakat Muslim. Bukankah kalian sering bilang: “agama itu urusan pribadi”?
Adapun kalau kami sangat takut urusan kematian dan Hari Akhir, maka kalian tak perlu takut sama cerita-cerita Alam Barzakh dan Hari Qiamat. Karena toh kalian anggap itu cerita dongengan yang belum tentu benar, ‘coz nobody has ever come back from death, kan?
Stay cool and keep calm. 
Udeh Gitu Aja….

| Meninggalkan komentar

tulisan mengenang kh hasyim muzadi

PakKom:

🗣🗣🗣
Pidato KH. Hasyim Muzadi yang disampaikan pada tahun 2012 lalu patut untuk menjadi renungan kita semua..
“Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan intoleransi agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara Muslim mana pun yang setoleran Indonesia. 
Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah Ahmadiyah, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam. 
Kalau yang jadi ukuran adalah GKI Yasmin Bogor, saya berkali-kali kesana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia untuk kepentingan lain daripada masalahnya selesai. 

Kalau ukurannya pendirian gereja, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi. 
Kalau ukurannya Lady Gaga & Irshad Manji, bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan intelektualisme kosong? Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua kenapa TNI/Polri/Imam Masjid berguguran tidak ada yang bicara HAM?
Indonesia lebih baik toleransinya dari Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan jilbab, lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada UU Perkawinan Sejenis. Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis?! 
Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia, kaum Muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang benar (humanisme) dan mana yang sekadar westernisme”.🙏

| Meninggalkan komentar