Hutang

APAKAH KPR SYARIAH SEBUAH SOLUSI?
Bagian ke-dua dari beberapa tulisan

OK, setelah kita bahas hal pertama, yaitu tentang kewajiban membangun rumah atau memenuhi kebutuhan perumahan pada tingkat basic adalah tanggung jawab negara, bukan tanggung jawab developer.

Berikutnya kita bahas yang kedua yaitu tentang KPR-nya sendiri. KPR itu apa sih?
“Kredit Pemilikan Rumah..!!!”

Iya betul, Itu kepanjangan dari KPR, yang saya tanya adalah apa itu KPR? Bukan apa kepanjangan dari KPR?
Hehehe…

Baik, ini definisi saya sendiri tentang KPR. KPR adalah utang akibat seorang yang tidak cukup memiliki uang tunai, memaksakan diri untuk memiliki rumah. Karena tidak cukup uangnya, maka ia ngutang untuk mendapatkan rumahnya.

Silakan jika Anda bisa menyampaikan definisi Anda sendiri tentang KPR di sini.. Feel free saja ya..

Jadi, KPR itu apa? Menurut saya, ringkasnya KPR itu adalah utang!
Ya.. Utang. Bukan yang lain. Utang yang timbul karena seseorang yang tidak punya cukup uang memaksakan diri “membeli” rumah. Saya pakai tanda kutip kata “membeli”nya.

Nah.. Karena KPR itu sama dengan utang. Mari kita lihat bagaiama posisi utang dalam Islam. Sekali lagi, kita pakai frame Islam ya! Untuk membahas tentang utang ini, saya merujuk pada Kitab karangan saya yang ke-2 yang berjudul “PANDUAN PERJALANAN MENUJU SORGA”. Lebih detailnya, sebaiknya Anda membaca juga Kitab tersebut.

Sahabat yang dirohmati ALLAAH, kendati hukum berutang dalam Islam adalah boleh atau mubah atau jaiz. Sehingga tidak ada dosa ketika seseorang berutang. Silakan saja..

Namun ternyata, hadist-hadist Rosul tidak ada yang mendudukkan utang (atau seorang yang berutang) pada posisi terhormat. Penjelasannya ada di KItab PPMSorga ya..

Oleh karena sebaiknya berutang itu dihindari saja. Karena akan membuat orang yang berutang gelisah pada malam hari, hina pada siag hari dan suka berdusta ketika bicara dan sering ingkar ketika berjanji.

Selain itu, seorang yang meninggal,padahal ia masih berutang, ia tidak akan pernah masuh sorga walaupun mati syahid. Dan orang yang berutang, lalu meninggal, dan belum terbayar utangnya, maka ia tidak akan mendapatkan syafaat dari Rosul Muhammad SAW.

Jadi, sampai disini, apa pendapat Anda tentang KPR? Ini pertanyaan untuk developer ya..

Ya, dengan menjual rumah melalui KPR, berarti seorang pengembang telah berhasil “membantu” seorang memilki rumah. Kata membantu juga saya pakaikan tanda petik.

Akan tetapi, developer tersebut telah membuat seseorang terjerat utang. Apalagi jika KPR-nya sampai puluhan tahun. Maka selama rumahnya belum lunas, maka si “pemilik” rumah akan terus punya kewajiban melunasi utangnya.

“Kan utangnya sudah syar’ie Pak Samsul?”

Kendati utangnya sudah Syar’ie, sudah tanpa riba, tanpa denda dan tanpa aqad-aqad bathil, dan tanpa-tanpa embel-embel lain, sehingga utangnya halal. Namun tetap saja yang namanya utang adalah utang. Semakin lama tenor KPRnya, maka semakin lama pula Anda menjerat seseorang pada jebakan utang.

So.. Sebenarnya pengembang itu telah membantu atau justru….? Silakan lanjutkan sendiri.

Saya tambahkan sedikit pembahasan KPR ini dari sisi pelanggan (pembeli rumah), dengan dialog berikut: (S: Samsul, P: Pelanggan)

P: “Kalau tidak berutang, kapan akan punya rumah Pak Samsul?”
Terhadap pertanyaan seperti ini, saya selalu menjawab:
S: “Mas.. yang mewajibkan panjenengan punya rumah siapa?”

P: “Ya ndak ada sih Pak.. Cuma kan lebih enak punya rumah sendiri”
S: “Iya betul Mas, perasaan lebih enak punya rumah sendiri. Lalu yang mewajibkan beli rumah sekarang siapa Mas?”

P: “Ya ndak ada juga sih Pak.. hehehe..”
S: “Jadi, kalau belum punya uang cukup, mau bayar pake apa Mas?”
P: “Bayar pake janji (utang) lah Pak.. hehehe”

S: Jadi sebetulnya, punya rumah (sendiri) itu hanyalah suatu keinginan bukan suatu kebutuhan. Keinginan sebetulnya bisa ditunda. Dan tidak aka ada dloror atau bahaya apapun ketika seseorang belum punya sertifikat rumah. Betul apa bettul?”

Mohon bantu, Warga KSW yang sudah ikut CCKU bisa menjelaskan lebih detail apa itu KEBUTUGAN dan apa itu KEINGINAN di sini ya..

Saya setuju bahwa adanya tempat tinggal itu suatu kebutuhan. Namun apakah solusinya membeli dengan utang bagi yang belum punya cukup uang?

Dan apakah harus dipernuhi dengan sertifikat atas nama sendiri?

Oleh karena itu, pada akhir tulisan bagian ke-dua ini, saya mengingatkan diri dan coachee-coachee SBC, khususnya yang bisnisnya property. Jargon “Develope Syariah” atau “Property Syariah” bisa sangat berbahaya.

Why? Mengapa?
Dengan jargon itu ummat merasa nyaman berutang, karena syar’ie, karena tanpa riba. Sehingga kebiasaan ngutang yang sudah mendarah daging pada sebagian besar ummat ini tidak akan pernah hilang. Justru akan semakin membudaya.

Jargon itu, hanya memindahkan kebisaan ngutang dari utang riba ke utang tanpa riba. Bukan menghilangkan kebiasaan ngutang. Justru kebiasaan ngutang inilah yang wajib kita berantas sampai ke akar-akarnya.

Sekali lagi, kendati KPR yang Anda rancang sudah tanpa riba, tanpa denda dan tanpa aqad bathil, tanpa sita serta tanpa-tanpa lainnya, apakah Anda rela saudara Anda terjerat utang bertahun-tahun hanya untuk memenuhi keinginannya yang dibalut sebagai kebutuhan?
#TepokJidatDeh

Mudah-mudahan kita semua di KSW ini ingat bahwa:

1. Ada tabiat buruk dari utang. Apakah itu?
2. Tidak ada satupun hadist yang mendudukkan posisi baik bagi pengutang.
3. Bagaimana kalo debitur keburu meninggal sebelum hutangnya lunas?

4.
5.
6.

Silakan lanjutkan….

Pertanyaan saya kepada coachee SBC yang devekoper untuk mengakhiri bagian ke-dua ini:
“Apakah Anda mau berbisnis dengan menciptakan utang? Apakah bisnis Anda membuat pelanggan lebih baik, atau justru semakin terlena dengan “utang syar’ie” yang Anda ciptakan?”

>>> bersambung ke bagian 3…

Follow SamsulArifinSBC on instagram

Tentang ridwansyah

Guru hoby membaca, berkebun.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s