Jg remehkan kebaikan

[29/12/2015 6.32 AM] Ibnu Suroso: Jangan Pernah Remehkan Sekecil Apapun Kebaikan

JIKA engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah ia…barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akhirat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah ia, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia… Barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba’ ta’ kepada anak-anakmu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan sama sekali, maka tahanlah tangan dan lisanmu dari menyakiti… Setidaknya itu menjadi sedekah untuk dirimu.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata, “Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya.”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” (HR. Muslim). []
[30/12/2015 6.35 AM] Yudi Smada: Assalamu’alaykum,
 
Mengenai Shalat Istikharoh.
 
Jabir bin ‘Abdillah ra, berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

Rasulullah SAW, mengajari kami shalat istikharah dalam SETIAP PERKARA yang kami hadapi, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata, “Jika salah seorang di antara kalian BERNIAT dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah”. (HR. Al-Bukhari)

RasulULLAH mengajarkan kepada kita apabila menemui suatu perkara/ urusan, maka hendaknya melakukan shalat istikharoh.

Ada dua hal yang menjadi bahasan.

Yang pertama, Nabi mengajarkan shalat istikharah dalam setiap perkara/ urusan, shg tidak tepat apabila ada anggapan bahwa shalat istikharah hanya dilakukan terbatas untuk urusan yang meragukan, karena dalam bahasa Arab kata كل memiliki arti setiap / semua.

Kedua, sebagian orang melakukan shalat istikharah ketika dihadapkan kepada pilihan yang sulit atau meragukannya. Apakah benar demikian?

Kata هَمَّ (sebagaimana terdapat dalam kamus Arab-Indonesia karya Mahmud Yunus) memiliki arti berniat, sehingga shalat Istikharoh dilakukan manakala seseorang telah berniat dengan keputusan yang ia ambil untuk melaksanakannya.

Darimana niat dengan kemantapan hati tsb diperoleh? Melalui petunjuk AlQur’an dan Sunnah Rasul-Nya.
 
Misalkan, seseorang bekerja sebagai petugas penyalur kredit ribawi, melalui pembelajaran ia akhirnya paham, bahwa pekerjaannya adalah berdosa karena langsung terlibat dalam riba (bunga bank), maka ia berniat untuk meninggalkannya dan mencari usaha yg lain, disinilah ia ber-istikharoh untuk kemantapan.
 
Niat yang telah mantap akan menjadi azzam (tekad).

Apa hikmah shalat istikharah dilakukan setelah ada niat?

Jika perkara tsb baik baginya, maka ALLAH akan mempermudah jalan untuk mendapatkan hal yg telah diniatkan tsb.
 
Namun jika perkara tersebut tidak baik baginya, ALLAH akan mendatangkan penghalang dalam melaksanakan apa yg telah diniatkannya.
 
Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Salah satu kesempurnaan iman adalah, manakala seseorang menyerahkan suka atau tidaknya sesuatu kepada ALLAH, kalau ALLAH suka, maka ia pun suka, kalau ALLAH tidak suka, maka ia-pun tidak suka, dan akan meninggalkannya.
 
#abim dari mengambil berbagai sumber, mhn ditinggalkan apabila ada pendapat yang lebih kuat dalilnya.

Iklan

Tentang ridwansyah

Guru hoby membaca, berkebun.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s