asyidda alal mukmin

​Asyiddaau ‘Alal Mukminiin

By: Nandang Burhanudin

***** 
Di suatu hari bulan Ramadhan. Dalam syahdu shalat Zhuhur. Tetiba suara handphone seorang jamaah berbunyi kencang. Terdengar ringtone lagu yang teramat mengganggu. Usai shalat ia ditegur. 
“Gimana kamu ini. Apa gak sadar lagi shalat. Suara ringtonemu mengganggu shalat. Sadar tidak. Kamu telah bermaksiat kepada Allah. Dosa besar tahu…!”
Jamaah laun mengerubuti. Si tertuduh sudah minta maaf. Ia khilaf men-turn off HPnya. Alasan yang lumrah namun malah dianggap mentah. Oknum jamaah shalat malah ada yang over, hampir saja terjadi cek cok. 
Esok harinya. Ia tidak ke masjid. “Kapok”, gerutunya. Ia memilih ke kafe Syisha. Asik nonton sepakbola. Hingga suatu kali. Ia menjatuhkan arang pembakar syisha dan mengenai karpet. 
Pegawai kafe menhampiri. “Hati-hati pak. Awas kena baju bapak. Biar saya bereskan dan bapak bisa pindah ke kursi yang lain”, ujarnya lembut. 

**** 
Dua perlakuan berbeda di dua tempat berbeda. Pertama, terjadi di masjid. Rumah Allah. Tapi sikap kasar oknum jamaah membuat calon tamu Allah, lari. Kedua, di kafe. Tempat lahwun wa la’ibun. Tapi perilaku karyawannya “menyejukkan” dan membuat betah.
Ramadhan sudah yang ke 1437 dalam kalender hijriah. Tapi perilaku oknum jamaah masjid bikin gerah suasana. Ribut soal doa buka puasa. Heboh soal formasi tarawih. Hingga ribut soal hukum ceramah tarawih. 
Hal menyakitkan adalah lontaran bid’ah, maksiat, dosa besar, mungkar. Lalu mengklaim diri dan kelompoknya paling shahih dan paling Sunnah. Seakan surga sudah menjadi kavling dan Sunnah sudah hak prerogatif.
Padahal Allah saja memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun di hadapan Fir’aun dengan perkataan yang lemah lembut. Idzhabaa ilaa Fir’auna innahu thagaa Faquulaa lahu qaulan layyinan. 
Anehnya. Dalil yang sama digunakan untuk sepenuhnya taat pada pemimpin walau zhalim. Tapi mengapa kepada personal dan sosial, kerasnya bikin darah kering terkuras. 
Saya tidak anti Sunnah. Tapi cara mensosialisasikan Sunnah dengan cara yang jauh dari Sunnah, adalah bid’ah paling mengancam syariat. Apalah arti sebuah sunnah tapi minus rahmah dan kering ukhuwwah? Waspadalah.

Tentang ridwansyah

Guru hoby membaca, berkebun.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s