puasa syahban

​BERPUASA DI BULAN SYA’BAN
Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan,

ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔِ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﺗَﺎﻣًّﺎ

ﺇِﻻَّ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻳَﺼِﻠُﻪُ ﺑِﺮَﻣَﻀَﺎﻥَ .

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan

berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. AbuDaud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih )
Lalu apa yang dimaksud dengan Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya ( Kaana yashumu sya’ban kullahu)?
Asy Syaukani mengatakan, “ Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) di situ adalah kebanyakannya (mayoritasnya). Alasannya, sebagaimana dinukil oleh At Tirmidzi dari Ibnul Mubarrok. Beliau mengatakan bahwa dalam bahasa Arab, berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan boleh dikatakan dengan berpuasa pada seluruh bulan.” ( Nailul Author, 7/148 ). Jadi, yang

dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya.
Bagi yang ingin menjalankan puasa Sya’ban tidak perlu mengkhususkan hari tertentu.Puasanya bebas kapan pun, sesuai hari yang kita mampu. sebanyak yang kita mampu.dengan niat puasa sunnah di bulan sya’ban sebagaimana yg dilakukan rasulullah

ANTARA MEMPERBANYAK PUASA DI BULAN SYA’BAN DAN LARANGAN BERPUASA SESUDAH 15 SYA’BAN
Disebutkan dalam hadis dari Abu

Hurairah radhiallahu ‘anhu , Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“ Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban,janganlah berpuasa.” (H.r. Abu Daud, At-

Turmudzi, dan Ibnu Majah; dinilai sahiholeh Al-Albani)
Sementara itu, disebutkan dalam

riwayat yang lain, dari Aisyah

radhiallahu ‘anha , beliau mengatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

belum pernah berpuasa selama satu

bulan yang lebih banyak daripada puasabulan Sya’ban. Terkadang, beliauhampir berpuasa Sya’ban selamasebulan penuh.” (H.r. Al-Bukhari danMuslim)
Secara zahir, kedua hadis di atas

bertentangan. Karena itu, ulama

berbeda pendapat dalam memaknai

hadis yang pertama.Pendapat yang kuat dalammengompromikan dua hadis di atasadalah pendapat yang disebutkan dalamAunul Ma’bud , yang menukilketeranganAl-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari ,bahwa Al-Qurthubi mengatakan, “Tidak

ada pertentangan antara hadis yang

melarang puasa setelah memasuki

pertangahan Sya’ban dengan hadis yangmenceritakan bahwa Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam menyambung puasaSya’ban dengan puasa Ramadan.
Kompromi memungkinkan untuk

dilakukan. Dengan memahami bahwa

hadis larangan puasa adalah untuk

orang yang tidak memiliki kebiasaan

berpuasa sunah, sementara keteranganuntuk rajin puasa di bulan Sya’bandipahami untuk orang yang memiliki kebiasaan puasa sunah, agar tetap istiqamah dalam menjalankan kebiasaanbaiknya, sehingga tidak

terputus.” (Aunul Ma’bud , 6:330)
Jadi, bagia yg sebelum tgl 15 sdh terbiasa berpuasa sunnah, maka lanjutkanlah berpuasa sesudah tanggal 15. sedangkan yg sebelum tanggal 15 tidak memiliki kebiasaan berpuasa sunnah, jangan tiba tiba berpuasa sunnah sesudah tgl 15 ,, krn puasa tsb menjadi makruh( dibenci) bahkan ada yg ber pendpt puasanya ,,, Haram.                   الله اعلم

Tentang ridwansyah

Guru hoby membaca, berkebun.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s