sihir uang kertas

​Sihir Uang Kertas dan Perampokan Bangsa-Bangsa

Zaim Saidi  July 2, 2016 Kolom
Uang kertas adalah selembar kertas. Tidak ada nilainya kecuali beberapa gram kertas itu saja, plus sekadar ongkos cetaknya.

Uang kertas itu dinyatakan bernilai hanya karena dibubuhi angka-angka. Artinya anak seusia Sekolah Dasar juga bisa membuatnya.

Tetapi, di situlah tipuan dimulai. Tidak semua orang dinyatakan boleh membuat uang kertas.  Hanya yang diberi hak monopoli: yakni para bankir!

Tapi para bankir kalau ditanya”uang kertas ini apa?” Mereka menyatakan bahwa ini adalah utang kami kepada siapa saja yang memegangnya. Utang, tuips!

Padahal, masyarakat ini, kalau mau mendapatkan uang kertas – yang sebenarnya tak bernilai itu – harus bekerja, menjual barang, atau menjual jasa!

Maknanya kerja kita, barang dan jasa kita, harta riil kita, ditukar hanya dengan benda-benda tak berharga tuips! Itu perampokan sejatinya.

Sedang uang kertas itu, ya kertas, statusnya pun sebagai utang, kalau dibakar ya kebakar. Mau nilai nominalnya Rp1 atau Rp 100 milyar rupiah, jadi abu!

Tidak usah dibakar tuips, disobek saja, jadi dua, atau tiga, tak usah pakai mesin penghancur kertas, nilainya juga raib! Jadi 0, tuips.

Jadi, tuips. sampai di sini apakah belum jelas bahwa uang kertas itu tipuan, SIHIR! Makanya merobek uang kertas diancam pidana, paham bukan?

Karena merobek uang kertas itu, sama saja dengan merobek kertas tisu, koran, dan itu milik kita sendiri. Tapi terkna pidana! Sebab kamu membongkar SIHIR para bankir!

Dan siapa itu yang menerbitkan uang kertas? Para bankir tuips. Tidak ada hubungannya dengan pemerintah. Mereka itu perusahaan-perusahaan swasta!

Kita juga warga swasta, mengapa, dilarang mencetak uang juga? Ya itu, hak monopolinya itu. Paham buakan, negara itu dikuasai oleh para bankir?

Dan untuk mengecoh masyarakat, para bankir itu licik, dipakainya tokoh-tokoh nasional, untuk menghiasi uang kertas. Bukan para artis seperti ini:

duit syahrini
Ketahuilah pula para gubernur bank sentral itu bukan bagian dari pemerintahan sebuah negara. Anggarannya bukan dari APBN. Itu perusahaan swasta tuips!

Kita dikecoh. Pengangakatan gubernur bank sentral atas persetujuan parlemen (DPR). Di AS juga begitu. Tapi itu pengelabuan saja tuips.

Semua bank sentral itu anggota IMF (International Monetary Agency), dan menginduknya pada bank sentralnya bank sentral, pusatnya di Swiss sana. Namanya BIS.

BIS itu Bank for International Settelments. Itu perusahaan swasta tuips, yang sahamnya mayoritas milik Keluarga Rothschild. Pahami ya!

Nah, sekarang masih ada pengecohan lebih jauh lagi, itu rupiah kita – eh rupiahnya bank Indonesia – diberi embel-embel: NKRI (Negara Kesatuan republik Indonesia)!

Adakah makna stempel “NKRI”, plus tanda tangan Menkeu RI, itu? Ya, hanya memastikan bahwa kepentingan para bankir dijamin di negeri ini!

Para politisi, pemerintah RI, cuma dijadikan centeng, amankan kepentingan bankir itu. Soal uangnya, eh kertasnya, tetap dikuasai oleh para bankir.

Pemeritnah RI kalau butuh duit tetap HARUS ngutang. Padahal bisa kan nyetak duit sendiri, kok malah kasih monopoli swasta?

Dan ngutangnya itu pakai bunga lo tuips. Bunga ajaib, bunga yang berbunga lagi. Dan kalau pemerintah mencicicil utang, sebagian besar baru dihitung mencicil bunganya!

Contoh APBN 2014/15, pemerintah RI ngutang Rp 255an triliun. Eh, Rp 155an triliun buat menyicil utang. Tapi, ya, itu sebagian besar cuma diitung nyicil bunga

Makanya waktu RI merdeka, juga ketika AS didirikan, utangnya 0. Tidak mempunyai utang. Hari ini? Melebihi Rp 4.000 Triliun.

Sudah 70 tahun kita menciicil, katakan setiap tahunnya dalam jumlah sama Rp 150 T. Totalnya akan sudah lebih dari 10.000 T. Seharusnya utang kita yang Rp 4.000 T itu sudah lunasss nas, malah ada sisa Rp 6.000T!

Nah, ada kejahatan yang lebih dholim dari itu tuips? Makanya Goethe, puijangga besar Jerman, menyatakan  uang kertas itu ciptaan iblis! IBLIS, tuips!

Belakangan ini kita dengar mereka akan mendorong agar kita bertransaksi nontunai. Artinya bahkan tidak pakai uang kertas itu.

Mereka bilang cukup bit komputer saja! Biar kami hemat, tak keluar uang sepeserpun buat mencetak-cetak  kertas! Harta dan  jasamu kutukar dengan bit.

Dan, dengan transaksi nontunai, warga banyak diminta membayar di muka. Serba prabayar. “Hartamu aku kuasai dulu, kamu pakai belakangan. Kutipu kau!”

“Dan, sewaktu-waktu, kapan kumau, bisa kunyatakan uang itu berlaku atau tidak. Atau sekadar tak kucetak lagi”, seperti Rp 1000, saat ini.

Sementara warga rakyat sudah lupa, atau tidak menyadari lagi, uang Rp 1000 itu dulunya berarti sekali. Biaya bulanan sekolah (SPP) tingkat  SMA, pada 1980an, cukup dibayar dengan  Rp 1000 itu..

Hari ini, kalau kita berikan uang Rp 1000 itu pada tukang parkir, bukan terima kasih kita dapatkan, tapi makian. Dari begitu berharga, menjadi “hina”. Uang kertas adalah perampokan!

Dan perampokan itu juga terjadi secara masif, pada tingkat antarnegara, melalui pengelabuan yang disebut sebagai “kurs” matauang kertas!

Saaat rupiah mulai diterbitkan, kursnya hanyalah Rp 3.8/dolar AS. Hari ini kursnya mendekati Rp 15.000/dolar AS. 3500 kalilebih rendah dari asalnya!

Padahal, hari ini, uang kertas itu pun sebagaian besar sudah tidak wujud, hanya bit saja seperti disebut di atas.

Yang membedakan bit itu namanya saja. Satu bit diberi nama dolar AS nilainya 15.000 kali bit – yang sama-sama tak ada wujudnya – yang bernama rupiah.

Tapi bit itu bisa dipertukarkan dengan emas, perak, tembaga, kayu, dan seluruh kekayaan alam kita. Bit bernama dolar ditukar dengan harta benda kekayaan nyata!

Jadi, pahamilah tipu-menipu besar ini.Sistem uang kertas adalah instrumen perampokan bangsa-bangsa.

Sementara kita dijerat utang dengan bunga-berbunga, harta kekayaan nyata kita ditukar hanya dengan bit kumputer saja.

Kita tidak merdeka, selama kita terus menggunakan uang kertas. Saatnya kita untuk kembali kepada model mata uang emas (Dinar) dan mata uang perak (Dirham).

end.

Tentang ridwansyah

Guru hoby membaca, berkebun.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s