Hati3

​Assalaamu ‘alaykum wrwb..

Warga yang rindu bertemu ALLAAH & RosulNya di akhirat kelak..
Pekan lalu Kang Maman  mengetik ulang tulisan Mas Harmanto Edy Djatmiko, seorang Wartawan Senior Majalah SWA. Tulisan beliau menjadi pengentar Topik Utama Majalah SWA  Edisi 12 /XXXII/9-12 JUNI 2016.
Setelah mendapat ijin dari _Petinggi Majalah SWA via telepon, kami beranikan diri men-share tulisan tersebut untuk kita semua di sini.
Berikut adalah tulisannya itu 

*SUDAHKAH ANDA RELEVAN?*

By Harmanto Edy Djatmiko

Majalah SWA Edisi 12 /XXXII/9-12 JUNI 2016.
_*Merebaknya gaya hidup digital telah mengubah total karakter dan prilaku konsumen.  Agar tetap relevan dan tidak terlindas perubahan zaman, perusahaan wajib memiliki strategi digital.*_
Makna kata “relevan”  sebetulnya netral saja. Layaknya kata sifat lainnya seperti besar, kecil, jauh, dekat, panjang, atau pendek.  Namun sepotong kata yang belakangnya amat popular dikalangan pelaku bisnis tersebut kini menjadi sarat makna, terutama ketika dikaitkan dengan perkembangan mutakhir di ranah digital.
Bayangkan, seorang tokoh yang selama bertahu-tahun terkenal sebagai pengusaha hebat dan selalu tune in dengan perkembangan zaman, tiba-tiba dicap tidak relevan. Gara-garanya, bisnisnya dianggap ketinggalan zaman karena tidak *go digital*.  Padahal, ladang bisnis yang dia garap sebetulnya masih dibutuhkan konsumen, bahkan bisa dibilang menyangkut hajat orang banyak.
Sebaliknya seorang anak mudayang tadinya bukan siapa-siapa, tiba-tiba melejit dan namanya dipuja-puji orang ramai. Musababnya, dia relevan. Si anak muda yang suka tampil bercelana pendek, kaos oblong dan lebih mirip anak kos ini sukses membangun portal E-commerce yang digandrungi generasi melenial, yang buntutnya menular juga ke orang tua mereka. Konon,teman-teman anak muda ini banyak yang menuai sukses pula berkat kepiawan mereka menciptakan dan menjual beragam aplikasi.
Ada yang bilang, relevan atau tidaknya relevan itu relative sifatnya.  Akan tetapi, di era digital ini, ungkapan yang berusaha bijak itu tampaknya tak berlaku. Relevan dan tidak relevan bersifat mutlak. Orang atau lembaga dikatakan relevan kalau dia mampu *Go Digital*.  Sementara mereka yang tidak *go digital* dianggap kuno dan layak dilupakan 
Di ranah bisnis maraknya fenomena digital dengan segala gaya hidup yang menyertainya seperti mobile citizen, media social, sharing economy, dan entah apalagi telah mengubah total karakter dan konsumen.  Mau tidak mau, karena perubahan itu bersifat masif, perusahaan pasti menyesuiakan dan mengikuti kemauan konsumen atau pelanggan, jika tidak ingin ditinggalakan mereka. Dan, malu juga kan kalau merka sampai bilang _”Malas AH”_, Anda tidak relevan.
Faktanya, di era ketika “Kebenaran” berada di setiap tangan yang memegang gawai (gadget) ini, orang cenderung lebih gampang memghakimi orang atau pihak lain sebagai relevan atau tidak relevan.
Kejam? 

Jawabanya mungkin ya.

Toh tak ada yang bisa dan perlu disalahkan. Itulah marwah perubahan. Dan itu terjadi bukan hanya di era digital ini. 
Ratusan tahun yang lalu, ketika #RevolusiPrancis meledak di tahun 1789 dan melahirkan faham demokrasi, banyak tokoh yang selama ratusan tahun dipandang sebagai manusia terhormat karena hidup di lingkungan monarki absolut, tiba-tiba di penggal kepalanya. Beberapa yang bisa menyelamatkan diri, hidup mengelandang dan menjadi orang kebanyakan.

Pada saat bersamaan, banyak penulis, penyair jalanan dan mereka yang dipandang sebagai penjaga hati nurani disanjung-sanjung sebagai pahlawan.
Demikian pula, ketika revolusi industry meletus di inggris akhir abad ke-18 yang membawa perubahan besar-besaran di bidang pertanian, pertambangan, manufaktur dan teknologi. Dampaknya sangat mendalam pada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya di seluruh penjuru dunia. Para “Pengusaha” di era itu adalah mereka yang menggenggam modal raksasa dan alat-alat produksi.
*Revolusi memang selalu menyakitkan. Selalu ada yang menang, tetapi lebih banyak lagi yang kalah. Tak terkecuali di era Revolusi Digital saat ini.*
Celakanya, seperti dituturkan Scott Stawski, dalam bukunya _Inflection Point_ (2016), Sejarah menunjukkan,bisnis cenderung mengambil langkah perubahan kecil dan sangat hati-hati terhadap perkembangan teknologi. Bisnis yang tidak atau telat menyadari perubahan ini akhirnya punah. Borders, Blockbuster dan Circuit City yang dulu amat sukses,misalnya sekarang tinggal nama.
Stawski mengenalkan istilah _inflection point_, yakni event atau sekumpulan event yang saling berkaitan yang mengakibatkan perubahan signifikan bagi perusahaan, sector, ekonomi, atau bahkan Negara. 
Di era sekarang, inflection point itu dipicu oleh kehadiran teknologi informasi (TI).  Khususnya konvergensi antar cloud, mobility, software as-a- service and big data. Konvergensi ini mengakibatkan disintermediasi reintermediasi dengan model bisnis yang baru.
Istilah “disintermediasi” pertama kali dikenalkan pada 1960-an ketika perusahaan memangkas peranan bank dengan melakukan pinjaman uang langsung ke pasar modal, dan konsumen memangkas peranan bank dengan meminjamkan uang langsung ke perusahaan. 
Disintemediasi terjadi lagi saat ini seiring maraknya pemanfaatan TI, Tesla, contohnya, hanya menjual mobil secara online, tidak ada lagi peran dealer mobil di tengah.   
Bagaimanapun, sebenarnya Anda termasuk beruntung hidup di zaman *Revolusi Digital* sekarang ini. Dibanding revolusi-revolusi sebelumnya. Revolusi Digital rasanya jauh lebih manusiawi. Meskipun, tak bisa dimungkiri, cukup banyak korban berjatuhan, meraka masih punya waktu dan kesempatan untuk bangun dan bertarung lagi.
Dan,,Kabar baik dari era Digital ini: Kita bsa belajar apapun dengan cepat. Tentu saja, kAlau ada kemauan yang kuat dalam diri kita.
Intinya, agar tetap relevan dan tidak terlindas perubahan zaman, perusahaan dewasa ini perlu terus belajar agar memiliki  strategi digital yang pas dengan bidang bisnis yang digeluti. 
Melakukan sekali dua kali kesalahan adalah hal biasa, terlebih strategi digital masih dibilang baru di lanskap bisnis Indonesia.  Kita perlu belajar dari kegigihan anak kecil yang tiada kenal takut berlatih untuk berjalan.yang kelak bisa lari kencang.
Saran Scott Stwaski rasanya patut kota dengar.  Menurut dia, bisnis saat ini seharusnya mengkonsumsi TI sama mengkonsumsi Listrik. TI harus dibiayai sebagai operation expenditure (capex).  Dulu, kalau CEO menginginkan analisis data, chief information officer CIO minta anggaran untuk membangun hardware, pusat data dan kemampuan untuk menganalisis data. Kini, kebutuhan TI tersebut bisa dialihdayakan dan perusahaan hanya membayar sejalan dengan konsumsinya.
Perusahaan tak perlu terlalu takut perihal kemapuan pihak ketiga. Sebab dipasar, kini semakin bertebaran vendor mumpuni yang siap menjawab berbagai kebutuhan spesifik TI Anda.  Karena mereka memiliki kompetensi inti di bisnis TI, pastilah kempuan TI mereka lebih tinggi dibanding tim TI di perusahaan Anda.
Ituhanya salah satu contoh solusi. Masih banyak lagi solusi yang tersedia sesuia dengan kebutuhan spesifik perusahaan Anda. Jadi,apa yang semestinya ditakuti..?
Harmanto Edy Djatmiko

Nah… 

Warga yang dicintai ALLAAH dan RosulNya..
Mari kita re-LEARN tentang mengembangkan usaha, terutama pada *ERA DIGITAL* atau INTERNET OF THINGS ini pada acara kita yaitu:
*TEMU NASIONAL WARGA KSW & MTR*
Yang In-syaa ALLAAH akan kita laksanakan pada:
Hari, Tanggal: Rabu, 7 September 2016

Waktu: Pkl. 08.00 – 18.00

Tempat: Lor In Hotel, Kawasan Sirkuit Sentul Bogor
Thema: 

*GOING ONLINE OR DYING*

_Merengkuh pasar digital yang sedang tumbuh pesat, jika kita tidak melakukannya, kompitor sudah melakukannya_
Materi:

1. Smart Branding pada era digital

2. Praktek membuat foto produk dengan smartphone yang menarik perhatian calon pembeli.

3. Paraktek langkah-langkah mudah dan langsung go online
Syarat kehadiran:

1. Sudah punya (ada) produk dan jasanya

2. Membawa sample produk atau logo atau company profile sebagai bahan praktek langsung
Urunan penyelenggaraan: Rp 390.000,- (_tiga ratus sembilan puluh ribu rupiah_) per orang.
Fasilitas:

1. T-shirt KSW (MTR)

2. Makan Siang

3. Sertifikat

Pendaftaran dan konfirmasi transfer hanya melaui WA 0811-161-9696. 

Paling lambat 5 September 2016 pukul 17.30.

Panitia tidak menerima pendaftaran di tempat. 

NO GO SHOW PLEASE.
*Sudah saatnya kita GO ONLINE. Raih pertumbuhan bisnis ketika trend digital sedang berlari kencang. Temukan cara mudahnya pada Temu Nasional Warga KSW & MTR*
_Wassalaamu ‘alaykum wrwb._

*Samsul Arifin SBC*

Founder *SyaREA World*

_Business & Leadership Coaching_

Tentang ridwansyah

Guru hoby membaca, berkebun.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s