bulan zulhizah

​[6/9 9.33 AM] Ustad Meo: saat ini, banyak ulama yang kemudian mengatakan bahwa riba yang terjadi pada saat ini lebih jahiliyah dibandingkan dengan riba jahiliyah. Mengapa demikian? Karena pada saat ini apabila terjadi praktik pinjam meminjam uang di Lembaga Keuangan Konvensional, maka sudah langsung dikenakan bunga pada saat transaksi ditandatangani, walaupun nasabah bisa mengembalikannya tepat waktu. Sementara pada masa jahiliyah, praktik bunga baru dikenakan apabila si peminjam tidak bisa melunasi hutangnya pada saat yang telah disepakati. Sehingga wajar apabila banyak ulama yang mengatakan bahwa riba yang terjadi pada saat ini, lebih jahiliyah dibandingkan dengan riba jahiliyah. 
Bulan Ekonomi Syariah

Maka, ada baiknya apabila di bulan Dzulhijjah ini dijadikan momentum oleh Lembaga Keuangan Syariah untuk “mengkampanyekan” ekonomi syariah kepada masyarakat dalam skala nasional yang lebih luas secara bersama-sama. Karena di bulan ini, sebagaimana dibahas di atas bahwa Rasulullah SAW memberikan wasiat yang luar biasa tegasnya berkenaan dengan masalah muamalah. Bulan Ekonomi Syariah ini sangat penting untuk “diperingati”; Pertama, dalam rangka mempererat ukhuwah Islamiyah antara sesama Lembaga Keuangan Syariah. Sehingga sesama Lembaga Keuangan Syariah terjadi sinergi yang baik dan tidak saling ‘menjelekkan’ satu dengan yang lainnya. Kedua, sebagai momentum kampanye ekonomi syariah secara serentak di seluruh tanah air, yang insya Allah apabila dilakukan secara serentak maka akan hasilnya pun akan semakin maksimal. 

Sosialisasi Ekonomi Syariah di bulan ini dapat dilakukan misalnya dengan mengadakan pekan ekonomi syariah di setiap propinsi, bekerjasama antara Lembaga Keuangan Syariah, Perguruan Tinggi, Majelis Ulama, organisasi ekonomi syariah dan bersama-sama dengan Bank Indonesia & OJK Propinsi misalnya. Dalam Pekan Ekonomi Syariah bisa dilakukan pameran produk-pruduk Lembaga Keuangan Syariah, seminar, bedah buku, diskusi, tawaran investasi dan kerjasama syariah, dsb. Dengan sosialisasi ekonomi syariah secara bersamaan di seluruh propinsi di tanah air, insya Allah akan semakin membumikan ekonomi syariah di Indonesia. Dan apabila pelaksanaannya bisa dilakukan secara maksimal, maka insya Allah pada bulan Muharram yang dikenal dengan bulan hijrah, akan banyak komponen masyarakat yang berhijrah menuju Ekonomi Syariah yang lebih berkah. Siapkah dunia ekonomi syariah menyongsong para pihak yang ingin berhijrah?
Wallahu A’lam Bis Shawab

[6/9 9.33 AM] Ustad Meo: Dzulhijjah Bulan Ekonomi Syariah
Keistimewaan Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang memiliki banyak keistimewaan. Selain sebagai salah satu bulan dari empat bulan-bulan haram (bulan yang dimuliakan Allah SWT), bulan Dzulhijjah juga merupakan waktu berkumpulnya amalan-amalan ibadah utama secara bersamaan, yaitu merupakan waktu dilaksanakannya shalat (Idul Adha), waktu dilaksanakannya shaum (puasa Arafah), waktu dilakukannya penyembelihan hewan qurban dan juga merupakan waktu dilakansanaannya prosesi ibadah haji. Ibnu Hajar Al-Atsqalani bahkan mengatakan bahwa tidak ada waktu seperti itu (dimana beberapa amal shaleh berkumpul dalam satu waktu) sebagaimana yang terdapat di bulan Dzulhijjah. 

Selain berbagai keutamaan yang melimpah di bulan Dzulhijjah,  ternyata bulan yang menempati urutan ke 12 dalam urutan bulan-bulan hijriah ini juga menyimpan “pesan besar”, yaitu sebagai bulan ekonomi syariah. Mengapa demikian? Apakah memang ada keterkaitan antara bulan Dzulhijjah dengan Ekonomi Syariah? Hal ini karena terjadinya peristiwa pada masa Rasulullah SAW di bulan ini yang menjadi “tonggak utama” berdirinya nilai-nilai mendasar dalam ekonomi syariah. Peristiwa tersebut adalah peristiwa Haji Wada’, yaitu sebuah rangkaian pelaksanaan ibadah haji Rasulullah SAW dengan para sahabat pada tahun ke 10 H. Haji Wada’ artinya haji perpisahan atau haji terakhir. Karena Rasulullah SAW tidak melaksanakan ibadah haji, selain haji wada’ ini, yang juga merupakan satu-satunya ibadah haji yang dilaksanakan oleh beliau setelah hijrahnya beliau ke Madinah, hingga beliau wafat pada tahun ke 11 H.
Peristiwa Haji Wada’ Yang Menjadi Tonggak Utama Nilai Ekonomi Syariah

Tercatat dalam peristiwa Haji Wada’ ini, Rasulullah SAW setidaknya berkhutbah sebanyak tiga kali. Pertama pada waktu khutbah Arafah ketika beliau wuquf di Arafah. Kedua pada waktu khutbah yaumunnahr (hari raya Idul Adha), ketika itu beliau berkhutbah dari atas untanya, dan ketiga pada waktu khutbah di hari tasyrik ketika beliau berada di Mina. Abu Syuhbah mengomentari berkenaan dengan terjadinya beberpa kali khutbah Rasulullah SAW, ‘bahwa Rasulullah SAW beberapa kali berkhutbah pada saat Haji Wada’ adalah karena peristiwa Haji Wada’ ini merupakan satu-satunya ibadah haji yang dilaksanakan Rasulullah SAW sekaligus sebagai haji terakhir beliau. Oleh karenanya dalam khutbah-khutbah beliau tersebut, terkandung makna kalimat perpisahan beliau dan wasiat kepada umatnya agar senantiasa dijaga dan tidak dilupakan. Dan diantara pesan terpenting yang beliau sampaikan dalam khutbah pada Haji Wada’ adalah pesan untuk bermuamalah (baca ; berekonomi) secara syariah. Pesan-pesan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut : 

Pertama, pesan tentang haramnya menumpahkan darah, mencederai kehormatan dan merampas harta antara sesama muslim. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah SAW menyampaikan khuthbah pada hari Nahr (Idul Adha), Beliau bersabda ‘Wahai sekalian manuisa, hari apakah ini? Mereka menjawab, ‘Hari ini adalah hari haram (suci)’. Beliau bertanya lagi, ‘Negeri apakah ini?’. Mereka menjawab, ‘Ini negeri (tanah) adalah negeri haram (suci)’. Beliau bertanya lagi, ‘Bulan apakah ini?’. Mereka menjawab, ‘Ini bulan adalah bulan haram (suci)’. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari ini, negeri ini dan bulan ini’. Beliau mengulang kalimatnya ini berulang-ulang, setelah itu beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: ‘Ya Allah, apakah aku sudah sampaikan?, Ya Allah, apakah aku sudah sampaikan?…’

Jika dirasakan, pesan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tersebut terasa memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu berkenaan tentang haramnya darah, harta dan kehormatan antara sesama muslim. Haramnya darah berarti tidak bolehnya saling menumpahkan darah; memukul, membunuh dsb. Haramnya harta berarti tidak boleh mengambil atau merampas harta milik orang lain dengan cara yang tidak benar. Sedangkan haramnya kehormatan berarti tidak boleh mencederai kehormatan orang lain, seperti memfitnah, menjelek-jelekkan, dsb. Ketiga hal ini merupakan tonggak dasar bermuamalah (baca ; berekonomi) secara syariah. Mengapa demikian? Karena ekonomi syariah merupakan ekonomi yang dibangun di atas nilai-nilai dan hukum syariah. Sedangkan nilai dan hukum dalam syariah, sangat menjunjung tinggi kehormatan, harta dan darah antara sesama, dimana seseorang tidak boleh melanggarnya karena motif apapun, termasuk motif berekonomi. 

Dalam praktik persaingan bisnis, terkadang ketiga hal yang dilarang tersebut “terlanggar”, yang dilakukan oleh satu pihak kepada pihak lainnya atau satu institusi ke institusi lainnya, bahkan tidak terkecuali antara Lembaga Keuangan Syariah. Ibarat pedagang yang ingin lebih sukses dari pedagang lainnya, lalu ia menghalalkan segala cara, misalnya dengan menghembuskan isu negatif melalui fitnah dan black campaign dengan tujuan agar para pembeli (baca ; nasabah) tidak datang ke saingannya namun hanya datang ke tempatnya saja. Atau dengan “membajak” nasabah pihak lain, dsb. Atau bahkan hingga terjadi bentrokan fisik di lapangan dalam rangka menjaring pembeli dan memperoleh keuntungan bisnis, na’udzubillah min dzalik.  

Oleh karenanya, tonggak ini perlu dipegang baik-baik khususnya oleh Lembaga Keuangan yang basis operasionalnya menggunakan syariah. Jangan hanya karena mengejar target dan atau keuntungan semata, kemudian mengorbankan kehormatan sesama institusi syariah, misalnya dengan saling mencela, menjatuhkan, menjelek-jelekkan satu dengan yang lainnya.

Kedua, pesan untuk meninggalkan Riba, sekaligus juga pesan untuk penghapusan sistem riba yang berlaku pada masa tersebut, utamanya praktik riba yang dilakukan oleh paman Rasulullah SAW sendiri, yaitu Abbas bin Abdul Muthallib. Dalam riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda (dalam khutbah Haji Wada’), “….begitu pula telah kuhapuskan riba jahiliyah. Dan Riba yang mula-mula kuhapuskan ialah riba yang ditetapkan Abbas bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya riba itu kuhapuskan semuanya.”  (HR. Muslim)

Abas bin Abdul Muthallib merupakan salah seorang paman beliau. Karena Abas adalah saudara kandung ayahanda Rasulullah SAW yaitu Abdullah. Keduanya merupakan putra dari Abdul Muthallib, kakek Rasulullah SAW. Adalah Abas bin Abdul Muthallib pada zaman tersebut kerap melalukan praktek riba jahiliyah. Praktek riba jahiliyah terjadi pada masa tersebut khususnya ketika memasuki masa dagang, baik pada musim dinging (as-syita’) maupun pada musim panas (as-shaif). Pada kedua masa tersebut umumnya masyarakat Arab berdagang ke Syam dan Shan’a (Yaman), untuk waktu yang cukup lama. Kebiasaan mereka pada waktu tersebut adalah terjadi transaksi pinjam meminjam diantara mereka untuk modal perdagangannya. Dan salah satu “tempat peminjaman” yang poluler pada masa tersebut adalah meminjam ke Abas bin Abdul Muthallib. 
Praktik Riba Jahiliyah

Pada masa tersebut, ketika orang meminjam kepada Abas bin Abdul Muthallib serta berjanji akan mengembalikan pinjamannya sepulang dari perjalanan dagangnya (berkisar dua atau tiga bulanan), maka ia akan mengembalikan uang yang dipinjamnya sejumlah yang pinjamannya, tidak kurang dan tidak lebih. Namun apabila pada waktu yang telah disepakati si peminjam tidak bisa mengembalikannya dan minta ditangguhkan pembayarannya, maka barulah pada saat terebut dikenakan tambahan (baca ; bunga) atas hutangnya tersebut. Atau dengan kata lain, pada saat tersebut, pinjaman tidak dikenakan bunga apabila si peminjam dapat mengemblikan hutangnya tepat waktu. Namun apabila pada waktu yang telah ditentukan tidak bisa mengembalikan, barulah dikenakan bunga. Dan ternyata praktek seperti ini disebut oleh Rasulullah SAW sebagai riba jahiliyah. Riba Jahiliyah inilah yang kemudian pada saat khutbah Haji Wada’ dihapuskan seluruh sistemnya oleh Rasulullah SAW. Dan sistem dan pinjaman riba yang pertama kali beliau hapuskan adalah riba yang dilakukan oleh paman beliau sendiri, Abbas bin Abdul Muthallib. 

Maka bagaimana dengan praktik riba yang terjadi pada saat sekarang ini? Terhadap praktek riba yang terjadi 

Tentang ridwansyah

Guru hoby membaca, berkebun.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s