minoritas

​Dalam beberapa literatur, terdapat istilah creative minority (minoritas kteatif). Istilah ini dipakai untuk mendeskripsikan sekelompok orang yang minoritas dalam jumlah namun memiliki keteguhan sikap, keaktifan tindakan, dan kecerdasan menangkap tanda zaman dalam upaya untuk mendorong terciptanya perubahan.
Maka kita lihat misalnya, kelompok pemuda Hawariyyun yang selalu menyokong risalah Nabi Isa as. Para sahabat ra yang dengan istiqomah menemani Nabi sejak fase sirriyah di Makkah hingga kembali lagi ke Makkah dalam kemenangan gemilang Fathu Makkah. Quran menyebut: kam min fiatin qoliilatin gholabat fiatan katsiiratan. Kelompok minoritas mampu mengalahkan kelompok mayoritas.
Si negeri kita, apa yang kita syukuri sebagai nikmat kemerdekaan sejak 71 tahun lalu, terwujud berkat minoriraa kreatif yang menjalani hidupnya untuk tidak tunduk terhadap kekejian penjajah dan dengan sabat berjuang dengan dimata-matai, dibui, dan diasingkan. Kelompok elit terdidik yang minoritas mampu menjadi penggerak mayoritas rakyat yang diam untul bangkit berjuang melawan penindasan penjajah.
Sejarah Muhammadiyah pun tak lepas dari kaidah ini. Ahmad Dahlan, pada awalnya berjuang hanya demgan ditemani dan disokong oleh sejumlah minoritas pemuda belasan tahun dalam mewujudkan cita-cita keagamaan dan praksis-sosial.
Semua ceritera sejarah tersebut menampilkan fakta keras yang sulit dibantah: jangan pernah memandang remeh kelompok minoritas kreatif yang cerdas, teguh, dan proaktif.
Apa lantas jumlah mayoritas tidak penting? Jawabnya tentu saja penting.
Perjumpan dan kolaborasi minoriras kreatif dengan sejumlah mayoritad massa banyak akan melahirkan ledakan perubahan fenomenal.
Elit terpelajar  minoritas penggerak kemerdekaan berjuang bersama mayoritas rakyat menghasilkan catatan sejarah menggembirakan: kemerdekaan.
Minoritas kreatif bernama mahasiswa berkolaborasi dengan mayoritas diam (silent majority) yang dibungkam Orde Baru  bertahun-tahun mampu meledakkan Reformasi di akhir millenium pertama. 
Pelajaran penting: jangan mermehkan jumlah. Minoritas namun kreatif itu lebih penting daripada mayoritas tapi diam. Namun yang lebih penting lagi, kolaborasi dari minoriras kreatif dan mayoritas diam pasti akan terjadi. It is a matter of time. Dan jika itu terjadi, kezaliman dan kebobrokan akan menemui ajalnya.
Oleh: *Syauqi Fuady*

Iklan

Tentang ridwansyah

Guru hoby membaca, berkebun.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s