Warisman

– WARIS(M)AN –

Ditulis oleh Zack Algebra
Kebetulan saya lahir di Garut dari dua sejoli, lelaki dan perempuan, yg menjadi suami istri. Bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, karena tidak mungkin pasangan suami-suami atau istri-istri menghasilkan sebuah keturunan. Maka jadilah saya anak dari orang tua saya. Seandainya saja saya lahir di Mongolia atau Madagaskar, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya adalah anak orang tua saya? Iya. (Kan Allah udah atur kelahiran kita ada di mana, masa iya Allah kasih random orang tua kita, kayak anak SD ngocok jawaban ketika ulangan). 
Maka, setelah nikmat Iman dan Islam, saya syukuri nikmat menjadi anak dari orang tua saya. Karena itu modal luar biasa untuk menjelajahi dunia fana ini dari Allah. Namanya modal bisa hilang, bisa juga berkembang tergantung nanti mengelolanya bagaimana.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya modal, nama saya modal, dan agama saya juga modal. Seiring waktu kita bisa ubah modal itu, mau jadi gede, mau diganti, atau mau dihilangkan. Sesuai dengan kapasitas keilmuan kita. Tergantung nanti kita mau isi apa kepala kita.

Dulu ketika saya kecil, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki modal berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai modal dari orangtua dan negara.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, seharusnya kita pelajari dulu seluk beluk modal itu sampai rampung sampai paham. Jangan setengah-setengah karena ujungnya fatal. Bukannya mengembangkan modal untuk bekal mengarungi dunia dan akherat. Malah membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri, padahal kita belum pelajari sepenuhnya dan belum paham apa yg kita pelajari. Ada yang paling parah dari sekadar membela sampai mati modal itu, yaitu membakar modal sendiri yang belum kita pelajari dan pahami sepenuhnya, terus membela mati-matian modal orang lain. 
Ketika masih bayi saya diberi ASI, diajarkan makan, minum, jalan, dan kegiatan-kegiatan kebayian lainnya. Belum diajari jihad soalnya anak bayi tidak mengerti apa-apa. Setelah beranjak anak-anak, setelah sedikit demi sedikit bisa mengerti. saya diajarkan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata, Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Tapi biarlah itu ada karena itu merupakan sebuah keyakinan. Kalau masing-masing tidak yakin agamanya benar, tidak akan ada muslim taat, Kristen taat, budha taat, hindu taat. Tidak terbayang orang-orang akan memilih agama yang tergampang, tersedikit konsep dosa, yang membolehkan zinah, membunuh atas nama dendam, mencuri, dan kesenangan-kesenangan nafsu lainnya. Maka, Bayangkan kehancuran seperti apa yang akan menimpa bumi ini. Kehancurannya akan lebih dahsyat dibandingkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, yang padahal tak akan ada titik temu.
Yang harus kita takuti bukan orang-orang yang taat dan yakin terhadap agamanya, tapi yang ikut campur urusan agama orang lain. Kalau umat Kristen ingin makan babi, sambil bilang bahwa daging babi adalah daging terenak di dunia, ya silahkan. Yang salah kalau umat Kristen nawarin daging babi itu  ke umat muslim. Umat muslim mau sembelih lembu untuk qurban dan aqiqah, ya silahkan, yang salah kalau umat muslim nawarin daging lembu itu ke umat hindu.
Waris(M)an, dia salah satu uwa saya mengatakan, “Kebenaran adalah istrimu di rumah yang harus diyakini kecantikan dan kebaikannya. Karena kalau kamu tidak yakin istrimu cantik dan baik. Kamu telah jadi orang bodoh dengan menikahinya.”

Boleh tidak kita bilang ke istri kita kalau dia gadis tercantik sejagat (maknanya: yang lain lebih jelek berarti kan)? Silahkan saja. Itu romantis dan indah. Yang idiot kalau kita bilang ke orang lain bahwa istri dia itu jelek.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”. Manusia sangat berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan. labelilah orang masuk surga atau neraka berdasarkan ayat-ayat Tuhan yang diyakini. Karena kalau kita bilang seorang iblis adalah malaikat yang akan masuk syurga, juga salah. Karena kalau kita bilang bahwa pemerkosa itu mulia, juga salah. Tapi ingat berbicaralah di “rumah” sendiri. Biar orang-orang rumah tau mana yang baik dan mana yang buruk.

Kalau ada orang lain yang datang bertamu ke rumah kita, terus terkejut dengan keyainan kita, apakah lantas kita akan berubah? Tidak. Kita jelaskan ke mereka bahwa inilah keluarga kami. Di sini cuci piring setelah makan wajib, tapi karena Anda tamu silakan jalankan kebiasaan anda. Kalau biasa tidur setelah makan, silahkan. Tapi jangan mencak-mencak apalagi maki-maki karena melihat kami masih asik cuci piring bersama.
Mari kita hargai modal kita. pelajari sampai kita yakin dan paham. Kerusuhan bukan karena modal yang berbeda. Tapi karena ada orang yg justru kehilangan modalnya, bukan berusaha mencari modal lain untuk dirinya, tapi malah merusak modal orang lain…

Tentang ridwansyah

Guru hoby membaca, berkebun.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s